Thursday, August 7, 2014

MENJEJAKKAN KAKI DI SALAH SATU TITIK TERTINGGI UJUNG TIMUR BANDUNG


Setiap hari saya menyaksikan pemandangan di seputar Bandung yang dikelilingi pergunungan di segala penjurunya. Sebagai seorang yang suka jalan - jalan, terkadang terselip juga rasa penasaran bagaimana rasanya mendatangi gunung-gunung yang mengelilingi Bandung dan menjejakkan kaki di puncaknya. Gunung – gunung di Bandung elevasinya tidak terlalu tinggi memang bila dibandingkan dengan gunung – gunung yang sudah pernah saya datangi, terutama yang ada di luar jawa barat, namun kenyataan bahwa gunung – gunung ini berada di kota tempat saya besar membuat ada rasa ingin tahu lebih dekat dengannya. Setelah sekian lama menahan keinginan mendatangi gunung – gunung Bandung, karena ketidaktahuan saya terhadap kondisi alam dari gunung – gunung tersebut, membuat saya penasaran untuk mulai mencari tahu tentang gunung – gunung Bandung di dunia maya, dan aktifitas di dunia maya tersebut akhirnya membawa saya mengetahui dan mengenal sebuah komunitas yang secara khusus beraktifitas menjelajahi gunung – gunung di sekitaran Bandung dan daerah – daerah lain yang berbatasan langsung dengan kawasan Bandung Raya.

Adalah komunitas Jelajah Gunung Bandung atau JGB, dan dari komunikasi saya dengan komunitas ini saya bisa mengetahui bahwa mereka masih aktif sampai saat ini mengadakan kegiatan hiking ke gunung – gunung Bandung. Dari beberapa obrolan dengan komunitas ini saya mendapatkan kesimpulan bahwa salah satu keistimewaan hiking menjelajahi gunung – gunung Bandung adalah durasinya yang tidak terlalu lama. Kegiatan mendaki gunung Bandung kebanyakan bisa dilakukan dalam 1 hari saja, sangat cocok dengan kondisi saya yang sudah tidak bisa lagi beraktifitas luar ruang seperti hiking atau mendaki gunung yang memakan waktu berhari-hari seperti dahulu. Namun dengan durasi yang cukup singkat ini tidak akan mengurangi keasyikan kita untuk menjelajahinya, karena ternyata gunung – gunung Bandung memiliki kekhasan tersendiri yang sangat sulit untuk didapatkan dari gunung – gunung yang sudah pernah saya datangi sebelumnya. Mereka mengatakan jangan memandang gunung – gunung Bandung hanya dari ketinggiannya saja, namun karakteristik gunungnya lah yang membuat penjelajahan mendaki gunung – gunung Bandung ini tidak kalah menantang. Salah satu ciri khas gunung – gunung Bandung adalah medannya yang sulit, lembah – lembah yang dalam, punggungan tipis membuat jalur pendakian memiliki tingkat kecuraman yang cukup ekstrem, bahkan tidak jarang ditemui gunung yang tidak memiliki jalur pendakian yang reguler, sehingga harus merintis jalur sendiri, karena gunung tersebut jarang sekali terjamah para penjelajah. Kenyataan itu semakin membuat keinginan saya untuk bergabung dengan komunitas ini semakin besar.

Setelah sekian lama berharap, kesempatan saya untuk ikut hiking menjelajahi gunung Bandung pun datang pada bulan november 2013 ketika komunitas ini akan mengadakan kegiatan hiking ke Gunung Buyung di ujung timur Bandung, tepatnya di kecamatan cicalengka kabupaten Bandung. Gunung Buyung memiliki ketinggian ±1.440 mdpl, berada dalam sebuah kompleks pegunungan dengan beberapa puncaknya seperti Puncak Dungus Malati, Pasir Serewen, dan sebagainya. Dan perkataan teman – teman tentang betapa menantangnya trek pendakian gunung Bandung itu terbukti di sini.

Start dari Kampung Ciseupang desa Sawah Lega Kecamatan Cicalengka (±830 mdpl) sekitar pukul 08.20 wib ditemani cerahnya sinar matahari pagi membuat langkah bersemangat. Untuk mempersingkat jarak dan waktu pendakian, dari titik start kami langsung berjalan menanjak menaiki sebuah lembah, hal ini dilakukan untuk menghindari jalur reguler yang memutar lebih jauh. 15 menit kami berjalan di antara rumpun – rumpun bambu kemudian bersambung dengan ladang – ladang pertanian sebelum akhirnya sampailah kami di atas lembah, di jalur pendakian yang sebenarnya. Jalur ini berdampingan dengan sebuah parit yang mengalirkan air dari mata air di hutan menuju Kampung Ciseupang. Di sisi kanan kami adalah jurang cukup dalam, dialiri sebuah sungai yang di hulunya terdapat sebuah curug bernama Curug Cowang di bawah hutan pinus bukit dungus malati yang berdampingan dengan pasir serewen. Daerah pasir serewen sendiri menjadi lokasi pemancar dari salah satu perusahaan telekomunikasi indonesia, pada hari minggu lokasi ini banyak didatangi para pengunjung yang datang pasir serewen untuk hiking atau berjalan – jalan menikmati pemandangan dan suasana pegunungan di sana. 

Sejenak kami berhenti dan melemparkan pandangan ke arah selatan, tampak di depan kami satu lagi gunung Bandung yang sangat unik, yaitu gunung Mandalawangi, yang satu sisi ada di kabupaten Bandung dan sisi yang lainnya ada di kecamatan Kadungora kabupaten Garut. Disebut unik karena selain jalur pendakiannya yang sulit dengan vegetasi yang rapat, juga karena gunung ini memiliki sekitar 25 puncakan, mengagumkan. Setelah puas kami menikmati pemandangan gunung Mandalawangi kami pun melanjutkan perjalanan. Semakin jauh kami berjalan, suasana menjadi semakin teduh karena kami mulai memasuki hutan pinus yang cukup rindang. Perjalanan masih ditemani jurang yang cukup dalam di sebelah kanan kami, dari bawah sana samar – samar terdengar teriakan orang – orang. Mereka pasti adalah para pengunjung Curug Cowang yang tengah bersenang – senang menikmati suasana curug. Kami sempat tergoda, namun keinginan untuk menggapai puncak Gunung Buyung adalah yang  harus diutamakan, sedangkan mengunjungi Curug Cowang tidak lebih dari sebuah bonus, itupun jika waktu masih memungkinkan. Semakin masuk ke dalam hutan pinus sampailah kami di ujung lembah, tidak ada lagi jurang yang dalam di sisi kanan kami, dan parit di sisi kiri kami pun sudah sampai di pangkalnya, di sebuah bak penampungan air yang menampung air sungai di atasnya. Mulai dari sini perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri aliran sungai, meniti bebatuan kemudian menuju hutan bambu dan masuk ke jalur menanjak di lereng Gunung Buyung.  

Dari hulu sungai berbatu kami kemudian naik menuju hutan bambu dan berjalan menyusuri jalur di bawah rumpun bambu yang rimbun, diselingi juga dengan rambatan pohon rotan dengan batangnya yang berduri tajam. Kurang dari 1 jam perjalanan, jalur pendakian seakan menghilang, setelah dilihat di perangkat GPS, ternyata jalur pendakian ada di atas kami pada sebuah punggungan. Kalau begitu berarti kami harus mengambil jalan pintas untuk bisa menggapai jalur pendakian yang sebenarnya. Cara satu – satunya ialah dengan merintis jalur mendaki menyusuri sebuah lereng terjal, dengan tingkat kecuraman 60 - 70ยบ dan kondisi jalur yang licin karena yang akan kami pijak bukan berupa tanah melainkan batu – batu cadas berbentuk kerikil lepas. Salah mengambil langkah resikonya adalah melorot kembali ke bawah, bahkan jatuh terjerembab, ditambah dengan jarangnya tegakan perdu,  pepohonan kecil atau akar – akar untuk berpegangan benar – benar menyulitkan kami untuk melewatinya, merangkak menjadi satu pilihan yang cukup rasional untuk melalui jalur yang menyiksa ini. Teman yang membawa golok tebas berada paling depan untuk merintis jalur, dan seutas tali yang dibawa oleh salah satu teman lainnya kemudian digunakan untuk membantu tangan mendapatkan pegangan dan membantu kami untuk berjalan melewati lereng terjal tersebut. Pukul 11.30 wib setelah berjuang selama hampir 1 jam mendaki lereng terjal, akhirnya sampai juga kami di jalur pendakian sebenarnya di atas punggungan. Dan memang di sini terdapat jalur yang cukup jelas mengarah ke puncak Gunung Buyung. Dilihat dari GPS, jarak dari tempat kami berhenti saat ini menuju ke puncaknya sekitar 650 m lagi, kami saat ini berada di ketinggian  ±1.100 mdpl. Kami pun beristirahat sejenak untuk mengembalikan stamina yang terkuras selama mendaki lereng terjal tadi, kami masih harus mendaki lagi dengan elevasi ±340 m untuk sampai di puncak Gunung Buyung. Tapi kami cukup lega karena mulai dari sini kondisi jalur yang dilalui cukup jelas dan lebih mudah untuk dilewati.

Namun setelah beberapa saat berjalan, bayangan kondisi jalur yang cukup mudah seketika sirna, sisa perjalanan yang tinggal 650 m itu ternyata masih menyajikan tanjakan – tanjakan terjal, ditambah kondisi fisik yang semakin lemah membuat perjalanan menuju puncak terasa semakin berat. Setelah sekitar 100 m kami berjalan, tibalah kami di sebuah dataran, kami beristirahat sejenak sambil menunggu teman – teman yang masih berada di belakang. Seorang teman mencoba memetakan jalur, karena dari sini jalur berubah menjadi samar. Setelah diamati, maka diputuskanlah untuk mengambil jalur arah ke kiri menyusuri punggungan tipis yang di sampingnya terdapat jurang yang cukup dalam. Setelah beberapa saat berjalan, jalur semakin samar, semak semakin rapat menutupi jalur, berjalanpun semakin sulit, akhirnya kami pun merangkak menembus rerimbunan semak. Semakin jauh semak semakin rapat, kami pun harus kembali mengeluarkan golok tebas untuk membuka jalur. Sejenak kami berhenti di sini untuk menikmati pemandangan, di sebelah utara kami yang dibatasi jurang menganga yang cukup dalam, kami menyaksikan gunung – gunung di hadapan kami. Mulai dari gunung Manglayang, gunung Geulis, gunung Kerenceng dan gunung Kareumbi, seakan melambai mengajak saya untuk menyinggahi puncak – puncaknya. Setelah puas menyaksikan pemandangan sekitar, kami kembali melanjutkan perjalanan, setelah hampir 30 menit kami menembus jalur semak belukar rapat ini akhirnya kami kembali bertemu dengan jalur pendakian yang sebenarnya. Ternyata dari tempat kami istirahat tadi di sebelum memasuki jalur semak belukar ini, jalur pendakian yang sebenarnya ini sedikit memutar ke arah kanan, tersembunyi di balik pepohonan, pantas saja kami kehilangan jalur. Sedang jalur yang tadinya terlihat jelas di atas dataran itulah yang sebenarnya membuat kami terjebak mengikutinya dan membawa kami ke dalam semak belukar.

Setelah kembali bertemu jalur yang sebenarnya, kami semakin bersemangat menuju puncak, dan sekitar pukul 12.55 wib sampailah kami di puncak Gunung Buyung yang berketinggian ±1.440 mdpl. Puncaknya berundak – undak, dan undakan tertingginya tidak terlalu luas, sekitar 2 x 2 m, namun di undakan ketiga di bawahnya ada sebuah pelataran yang cukup luas, cukup nyaman dan leluasa untuk dijadikan tempat beristirahat dan makan siang. Di sini juga terdapat jalur pendakian yang berasal dari kawasan Kareumbi dan sekitarnya, namun keberadaan makam tua yang kabarnya ada di puncak tidak kami temukan. Kondisi di sekitar puncak masih ditumbuhi pepohonan besar sehingga membuat udara di sekitarnya menjadi lembab karena sinar matahari kesulitan untuk menembus daerah sekitar puncak, kami segera membuka bekal makan siang. Makan siang bersama selalu menjadi ritual wajib kemanapun saya dan teman – teman menjelajah, baik ketika hiking ataupun bersepeda gunung, karena inilah salah satu kenikmatan yang susah sekali didapatkan di tempat atau kegiatan lain. Sambil menikmati makan siang, beberapa teman yang membawa kompor portabel segera menyalakannya untuk membuat beberapa cangkir kopi panas.

Hari mulai beranjak sore, sekitar pukul 14.30 kami meninggalkan puncak Gunung Buyung. Jalur untuk turun kami tidak melalui jalur sebelumnya ke arah timur, tetapi ke jalur yang mengarah ke selatan. Kami mengambil jalur ini dengan harapan jalur ini bisa mengantarkan kami ke Curug Cowang yang tadi pada saat pergi tidak bisa kami kunjungi.  Mendung mulai bergelayut, setelah 45 menit perjalanan meninggalkan puncak hujan pun turun, alhasil ¾ perjalanan pulang kami lalui dengan berbasah – basah. Beruntung jalur yang kami lalui saat turun ini seluruhnya jelas, tidak ada lagi acara terabas – terabas dan tebas – menebas membuka jalur baru. Hari semakin petang, keinginan untuk mengunjungi Curug Cowang kami kesampingkan untuk sementara, hal paling penting saat ini adalah sesegera mungkin keluar dari hutan dan kembali ke Kampung Ciseupang sebelum gelap. Pukul 16.30an kami tiba di hulu sungai, dekat jalur tadi kami ketika berangkat menuju hutan bambu. Dengan posisi kami sekarang, berarti kami sudah berada di atas Curug Cowang, itu berarti juga hilanglah sudah kesempatan untuk mengunjungi Curug Cowang. Hujan sudah reda namun sisa – sisa air hujan di dedaunan tetap membuat kami kebasahan. Jalur menjadi basah dan berlumpur, sepatu – sepatu berbungkus lumpur dan tanah merah. Pukul 17. 30 kami keluar dari hutan pinus, kemudian masuk ke jalur menurun di tengah ladang bersambung memasuki rerimbunan pohon bambu di awal jalur berangkat tadi. Pukul 17.45 wib kami pun tiba di tempat kami menitipkan kendaraan di sebuah warung di Kampung Ciseupang.

            Di warung itu, sambil kami beristirahat dengan ditemani semangkuk mie dan kopi panas kami kembali membicarakan perjalanan hiking tadi yang menurut saya luar biasa. Sebuah gunung yang “hanya” memiliki ketinggian ±1.440 mdpl harus didaki dengan memakan waktu 8 jam pulang pergi, hampir menyamai waktu tempuh mendaki gunung Papandayan kabupaten Garut yang memiliki ketinggian hampir 2 kali lipat Gunung Buyung. Seorang teman JGB berujar, "inilah gunung Bandung, jangan melihat gunung di Bandung hanya dari ketinggiannya saja, tapi kekhasan dan keunikan inilah yang harus benar – benar dimaknai". Karena keunikannya itulah gunung yang hanya berketinggian ±1.440 mdpl pun harus ditempuh dengan 8 jam perjalanan pulang pergi. Dan Gunung Buyung ini, hanyalah 1 satu dari sekian banyak keunikan yang akan saya dapatkan di gunung – gunung Bandung lainnya yang akan saya datangi berikutnya. 



GOWES WISATA CURUG BUNIAGUNG, GUA JEPANG DAN SITUS GUNUNG SADU SOREANG


Gowes di kawasan Soreang kali ini agak berbeda dari trip – trip gowes sebelumnya yang lebih kepada menjelajahi trek – trek XC baik yang uphill maupun downhill, trip gowes kali ini kami akan mengunjungi daerah Sadu untuk mengunjungi situs gunung Sadu yang terkenal dengan fenomena geomagnetiknya dan serta situs gua Jepang, yang lokasinya tidak jauh dari gunung Sadu. Di Soreang seorang teman goweser setempat yang juga seorang penggiat kegiatan alam bebas memberikan tambahan rute berikut satu objek wisata menarik yaitu curug Buniagung sebelum menuju tujuan awal kami ke gunung Sadu. Bagi saya yang cukup sering gowes di seputaran Soreang awalnya cukup terkejut ketika mendengar bahwa di daerah Soreang masih ada keindahan yang tersembunyi di tengah – tengah gencarnya pembangunan ibu kota kabupaten Bandung ini, bahkan lokasinya tidak jauh dari pusat kota Soreang. Tanpa berpikir lama kami langsung menyambut ajakan teman tadi, maka jadilah trip kali ini menjadi trip wisata curug Buniagung, gua jepang dan berakhir di situs gunung Sadu.

Setelah regrouping di jalan raya Citaliktik, sekitar pukul 08.30 kami bergerak ke arah barat menyusuri jalan Citaliktik di tengah cuaca pagi yang cerah menuju kampung Panyirapan. Tidak butuh waktu lama sampailah kami di sebuah persimpangan, tujuan kami adalah ke arah barat. arah selatan dari persimpangan ini adalah arah menuju trek uphill Sukanagara – Cimonce. Kali ini perjalanan kami ditemani pemandangan gunung Sadu tepat di hadapan kami, seakan mengucapkan salam selamat datang dan bersiap menyambut kami ketika mengunjunginya. Kami kembali bertemu dengan sebuah persimpangan, kemudian kami berbelok ke arah selatan menuju kampung Padasuka, dan dari sinilah baru kami bertemu dengan tanjakan, belum begitu curam tanjakan ini, tapi karena hari sudah sangat panas, gowesan kami melewati tanjakan ini cukup memeras keringat juga. Di ujung tanjakan selamat datang ini kami berhenti di sebuah warung, sekedar mendinginkan suhu tubuh setelah disengat matahari sejak dari titik start di Citaliktik ditambah dengan suguhan tanjakan selamat datang tadi. Dari sini kami berunding tentang rute yang akan diambil, dan diputuskanlah kami akan mengambil rute Legok Jampang, curug Buniagung, kemudian menuju kampung Cijengkol dengan bonus sekitar 1 km jalur offroad dan jalan aspal menurun menuju situs gua jepang dan puncak gunung Sadu. 

Pukul 10 kami kembali bergerak menuju kampung Legok Jampang, dan ternyata selepas warung ini kami bertemu dengan tanjakan yang semakin aduhai. Satu tanjakan berhasil dilewati, namun di depan satu tanjakan lagi telah menanti, lebih panjang dan lebih curam, untunglah ini adalah tanjakan terakhir sebelum menuju spot pertama kami curug Buniagung. Di ujung tanjakan kami berhenti di sebuah tempat yang cukup bagus untuk beristirahat, tempatnya cukup nyaman dan teduh karena dipayungi dua pohon Gamelina besar. Dari sini tersaji pemandangan yang cukup menakjubkan. arah utara kami adalah hamparan kota Soreang dan sekitarnya, di kejauhan terlihat deretean pegunungan Burangrang, Tangkuban Parahu, Bukit Tunggul dan Manglayang. Tepat di hadapan kami gunung Sadu (911 mdpl) tegak berdiri dengan berselimut rerimbunan pohon – pohon bambu. Di kiri kami terhampar beberapa gunung, mulai dari gunung Singa, gunung Aul, Kutawaringin, gunung Buleud dan di belakangnya sang piramida gunung Lalakon berdiri dengan anggun. 

Cukup lama kami beristirahat di tempat ini, mengatur nafas mengembalikan stamina sambil menikmati sajian pemandangan indah yang tersaji di hadapan kami, tentu saja sambil tidak lupa mengambil beberapa foto, mengabadikan keindahan yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Setelah 15 menit kami beristirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju curug Buniagung. Di tengah perjalanan, tepat di kampung Legok Jampang kami mengunjungi  sebuah tempat peristirahatan yang cukup asri dan nyaman dengan bangunan – bangunan tradisional terbuat dari bambu. Di sekeliling tempat ini cukup teduh karena dipayungi aneka pepohonan rindang. Tampaknya tempat ini bisa juga dijadikan sebagai destinasi wisata di akhir pekan sekedar untuk “melarikan diri” sejenak dari hiruk pikuknya kehidupan kota. 

Kami tidak berlama – lama di tempat ini karena tujuan pertama kami adalah curug Buniagung, yang berjarak kurang dari 300 m dari tempat ini. Sekitar 100 meter kami meninggalkan tempat tadi, sepeda kemudian berbelok ke kanan menuju sebuah jalan setapak menuruni lembah. Inilah rupanya jalan masuk menuju curug Buniagung, di ujung jalan setapak terdapat sebuah jembatan bambu yang menghubungkan jalan setapak tadi dengan jalan kecil yang telah dilapisi semen di seberang sungai. Tepat di bawah jembatan inilah curug Buniagung berada, namun untuk mencapai lokasi curugnya kami harus melewati kembali sebuah jalan setapak menuju bibir air terjun. Di sebuah persimpangan, sepeda kami simpan dan kami lanjutkan dengan berjalan kaki menuju lokasi curug karena kondisi jalan setapak yang tidak mungkin bisa dilalui oleh sepeda. Tidak sampai 10 menit akhirnya sampailah kami di curug Buniagung. Curugnya lumayan tinggi, sekitar 10 m dan berair cukup deras. Sangat berbeda dengan curug Cangkring di daerah Jelekong yang pernah kami kunjungi sebelumnya yang lebih mirip shower alami karena debit airnya yang sangat kecil, padahal dengan gambaran lokasi yang hampir serupa, tersembunyi di dekat keramaian.    

Seperti biasa, kami pun segera mengambil posisi terbagus untuk berfoto-foto , namun niat untuk mandi dan bermain air di sini sejenak dikesampingkan dulu, berhubung kami masih harus melanjutkan perjalanan yang masih cukup jauh menuju lokasi selanjutnya yaitu gua jepang dan puncak gunung Sadu. Setelah puas berfoto-foto dan menikmati suasana curug Buniagung, sekitar pukul 11.15 kamipun beranjak meninggalkan lokasi curug menuju tempat sepeda tersimpan. Di persimpangan dekat lokasi penyimpanan sepeda, perjalanan dilanjutkan dengan menaiki sebuah gang kecil menanjak ke arah barat. puluhan anak tangga dan kondisi jalannya yang licin karena lembab dan berlumut siap menguji fisik kami. Benar saja, kondisi gang yang menanjak dan licin ini sangat menyulitkan untuk melangkah, apalagi dengan menuntun sepeda, butuh perjuangan ekstra untuk melaluinya. Tiba di ujung gang jalan semen berubah menjadi jalan setapak, posisinya cukup tinggi, sehingga jalan yang tadi terlewati di kampung Legok Jampang terlihat berada di bawah. Juga terlihat kawasan perbukitan daerah Sukanagara, yang sebagian besar bukitnya sudah hancur dipapas untuk dijadikan perumahan.

Tidak banyak berhenti ketika menyusuri jalan setapak ini, pun ketika kami sampai di ujung jalan setapak ini, karena masih ada 2 destinasi lagi yang harus kami kunjungi. Kami bergegas meninggalkan jalan setapak ini menyusuri jalan aspal menuju gunung Sadu. Sekitar pukul 12 siang kami tiba di sebuah persimpangan di kampung Cijengkol. Kami arahkan sepeda menuju ke utara menuju situs gunung Sadu, namun sebelum sampai ke sana, kami akan mengunjungi dulu gua jepang yang lokasinya ada di dekat gunung Sadu. Sekitar 50 m sebelum tempat parkir situs gunung Sadu, sepeda kami simpan, dan kami berjalan mengarah ke barat menuruni sebuah bukit kecil. Tepat di kaki bukit, di dekat pemakaman umum kami menemukan sebuah lubang kecil,yang hanya bisa dimasuki dengan berjalan jongkok. Awalnya kami tidak menyangka itu adalah mulut sebuah goa, tapi teman yang sudah lebih dulu mengetahui tempat ini terus meyakinkan kami, bahkan dia lebih dulu masuk ke mulut gua. Didorong rasa penasaran akan rupa di balik mulut gua yang sangat sempit itu, kami pun satu persatu masuk ke sana. Dan benar juga ternyata, di balik mulutnya yang sempit, ternyata di dalamnya adalah sebuah gua yang cukup besar dan lumayan panjang. Tingginya sekitar 1,2 m dengan panjang gua sekitar 15 m, di ujung gua bagian dalam, terdapat bekas longsoran, tampaknya sebuah longsoran menutupi ujung gua itu sehingga menjadi buntu. Hal yang sama terjadi di mulut gua, longsoran tanah menyebabkan mulut gua mengecil bahkan hampir menutupinya. Menurut teman saya yang mendapat cerita dari masyarakat sekitar sini, gua ini adalah satu dari 5 gua yang ada di sekitar gunung Sadu yang dibuat pada jaman pendudukan jepang. Tampaknya trip gowes berikutnya harus mengagendakan untuk menyusuri 5 gua jepang di sekitar gunung Sadu ini, cukup menarik juga. 

Setelah puas menikmati suasana gua, kami kembali ke atas, melanjutkan perjalanan menuju situs gunung sadu. Jalan aspal berakhir di sebuah tempat parkir di dekat sebuah lapangan bola. Di sekitar tempat parkir tampak beberapa bangunan, sepertinya untuk pengunjung situs ini. Hanya sangat disayangkan kondisi bangunan – bangunan tersebut sangat memprihatinkan, kotor dan tidak terurus. Kembali sepeda kami simpan, kami titipkan di sebuah warung, dan perjalanan menuju puncak gunung Sadu dilanjutkan dengan berjalan kaki. Setelah menyusuri samping lapangan bola, kami memasuki jalan setapak menanjak di tengah rerimbunan pohon – pohon bambu. Sejuknya suasana sedikit mengobati rasa lelah menyusuri jalan menanjak menuju puncak gunung sadu. Setelah 10 menit berjalan, sampailah kami di puncak gunung Sadu (911 mdpl). 

Di puncaknya yang cukup luas terdapat beberapa gundukan batu – batu besar dan bale – bale bambu yang digunakan para pengunjung untuk beristirahat. Konon katanya di gundukan – gundukan batu besar itulah terdapat fenomena geomagnetik yang cukup kuat, sehingga dapat mengacaukan arah kompas, sayang saat itu kami tidak membawa kompas sehingga tidak dapat membuktikan secara langsung fenomena tersebut. Hanya melalui cerita beberapa orang yang sedang duduk di batu – batu besar, menurut mereka duduk di batu – batu itu menjadi semacam media untuk terapi pengobatan. Mungkin saja gelombang geomagnetik yang kuat di sekitar batu itu memberikan semacam energi positif bagi tubuh sehingga dapat menjadi terapi bagi penyakit yang mereka derita, entahlah. Kami harus menanyakan kepada orang yang ahli untuk bisa mendapatkan penjelasan lebih lengkap tentang fenomena ini. 30 menit kami berada di puncak gunung Sadu, hari semakin beranjak siang, sekitar pukul 14 siang kami pun beranjak meninggalkan puncak gunung Sadu menuju tempat sepeda dititipkan. Setelah regrouping, satu persatu sepeda meninggalkan situs gunung Sadu menuju kota Soreang melalui jalan Cijengkol yang menurun sampai ke jalan raya Sadu, setelah kembali regrouping kami pun mengayuh sepeda masing – masing pulang menuju bandung. Di belakang kami gunung Sadu berdiri dengan anggun, dengan segala cerita, fenomena dan misterinya, melepas kami pulang. 

Thursday, June 5, 2014

TREK UPHILL SUKANAGARA – CIMONCE, SATU LAGI TREK UPHILL MENANTANG YANG MENUNGGU UNTUK DITAKLUKKAN


Bagi sebagian goweser, goweser Bandung Selatan sekalipun, nama trek Sukanagara – Cimonce sepertinya kurang begitu dikenal baik, trek ini jarang sekali menjadi pilihan para goweser ketika akan melakukan trip gowes di daerah Soreang dan sekitarnya, mereka lebih memilih trek Leuweung Datar, Cilame – Gunung Padang, Puncak Mulya atau menyusuri jalan raya Soreang - Ciwidey yang memang lebih terkenal. Trek yang letaknya hanya terpisah satu lembah dengan trek legendaris Leuweung Datar ini sebenarnya masih terhubung dengan trek Leuweung Datar tersebut, titik pertemuan antara trek Sukanagara dan trek Leuweung Datar ini berada di ujung tanjakan Gunung Bubut, sehingga sebenarnya trek ini bisa divariasikan juga dengan trek Leuweung Datar, seperti yang sudah pernah kami lakukan sebelumnya ketika menyusuri jalur Leuweung Datar beberapa waktu lalu. Namun karena kalah terkenal itulah, maka trek Sukanagara – Cimonce ini menjadi kurang begitu terdengar namanya di kalangan goweser uphiller.

Titik start trek Sukanagara – Cimonce berada di kampung Panyirapan, sangat mudah untuk dicapai. Kita hanya tinggal mengarahkan sepeda kita dari jalan raya Soreang ke arah selatan di perempatan Pemda menuju jalan bypass Al Fathu, dan setelah sekitar 1 km melaju, kita akan menemukan sebuah persimpangan dengan berhiaskan gapura yang bertuliskan kampung Panyirapan, itulah jalan menuju desa Sukanagara. Di depan kita berdiri jejeran perbukitan memanjang dari timur ke barat, di perbukitan itulah trek Sukanagara – Cimonce berada. Sedangkan untuk titik finish-nya ada 2 pilihan, menuju Pasir Jambu dengan menempuh trek makadam menanjak sejauh kurang lebih 2 km dari kampung Babakan sampai pertigaan Gunung Bubut Leuweung Datar (±1.240 mdpl) dengan elevasi sekitar 110 m, kemudian dilanjutkan dengan menempuh separuh dari trek Leuweung Datar menuju Ciseupan dan finish di jalan raya Pasir Jambu. titik finish selanjutnya dari trek ini adalah Cimonce kemudian berlanjut ke daerah Cukang Haur di jalan raya Soreang – Ciwidey, atau dari Cimonce bisa mengambil arah ke timur menuju Pasir Salam dan keluar di daerah Cebek, sekitar 500 meter sebelah barat kampung Panyirapan yang menjadi titik start trek ini. Bagi goweser sejati, yang memiliki stamina sangat prima mungkin mengambil titik finish di Pasir Jambu dengan melewati Gunung Bubut bisa dijadikan pilihan, namun bagi saya dan teman – teman yang hanya goweser suka – suka, cukuplah untuk mengambil titik finish di Cimonce dan turun menuju Cukang Haur saja.

Di suatu Minggu pagi yang cerah kami dan teman – teman goweser Koskas Bandung berkumpul di Lanud Sulaeman Bandung Selatan yang menjadi titik kumpul, dan kemudian tepat pukul 07.30 kami pun bergerak menyusuri jalan raya Kopo - Soreang yang ramai menuju kampung Panyirapan. Supaya tidak terlalu terganggu keramaian lalu lintas dan kemacetan akibat aktifitas pasar tumpah di sekitar kompleks Pemda Kabupaten Bandung, kami memilih untuk berbelok di daerah Cincin dan menyusuri jalan Citaliktik yang lebih sepi dan lebih segar. Sekitar pukul 08.15 wib kami pun tiba di gerbang jalan kampung Panyirapan, dan sepeda pun kemudian kami arahkan ke selatan menyusuri jalan ber-hotmix mulus menuju jalan desa Sukanagara - Babakan. Sekitar 1 km pertama kami mengayuh pedal sepeda, trek yang tersaji masih terbilang cukup bersahabat, tanjakan landai masih bisa dilalui dengan relatif lancar, satu yang menghambat gowesan kami adalah aktifitas delman dan sepeda – sepeda motor yang banyak berseliweran lumayan mengganggu gowesan kami. Barulah selepas sebuah pertigaan dan kami mulai memasuki jalan desa Sukanagara – Babakan jalan menjadi lebih lengang.

Namun ternyata, kondisi lengang yang kami temui bukan berarti gowesan menjadi lebih mudah, karena ternyata selepas pertigaan tadi jalan menjadi semakin menanjak. Walaupun tidak begitu curam namun jarak tanjakan yang cukup panjang dan nyaris tanpa jeda mulai membuat nafas kami tersengal, keringat mulai bercucuran deras dan lutut mulai terasa panas. Hanya saja karena belum genap menempuh jarak 2 km menggowes, kami masih bisa menjaga ritme gowesan dan masih berada dalam satu rombongan. Barulah setelah menginjak kilometer 3 setelah melewati kantor Balai Desa Sukanagara, lutut kami mulai terasa goyah dan gowesan mulai terasa melambat, dan rombongan pun mulai terpisah – pisah. Jalan yang semakin mulus selepas balai desa Sukanagara tidak membuat gowesan semakin mudah, tanjakan – tanjakan yang kami jumpai semakin curam dan panjang, mulai menguji ketahanan fisik dan mental kami mengayuh pedal sepeda. Satu – satunya hiburan yang juga menjadi obat pelepas lelah kami adalah pemandangan indah yang tersaji di belakang kami. Hamparan pemandangan kota dan pegunungan di kawasan utara dan timur Bandung cukup mengobati rasa lelah kami ketika kami harus menyerah dan berhenti  di pertengahan tanjakan, kami segera melemparkan pandangan ke arah utara dan segera saja kami reguk semua keindahan yang tersaji saat itu. Masih ada beberapa tanjakan lagi yang harus kami hadapi untuk sampai di kampung Babakan yang akan menjadi tempat beristirahat dan tempat re-grouping sebelum kami melanjutkan perjalanan menuju kampung Cimonce.

Satu tanjakan panjang dan berhias beberapa belokan tajam sudah menanti di hadapan kami. Pedal mulai dikayuh meskipun fisik sudah semakin melemah, hari yang sudah semakin terik juga menjadi siksaan tersendiri bagi kami menyusuri tanjakan ini. Dengan satu kali berhenti di tengah tanjakannya saya dan seorang teman akhirnya bisa juga melewati tanjakan ini, dan kami pun berhenti sejenak di ujung tanjakan untuk mengatur nafas dan mengistirahatkan otot – otot kaki yang semakin panas dan menegang sambil menikmati pemandangan sekitar yang indah. Di sebelah utara masih menemani dengan setia jejeran Gunung Burangrang, Tangkuban Parahu, Palasari, dan Manglayang dengan bangunan – bangunan kota yang seakan berserak di bawahnya. Di sebelah timur mata kami tertuju pada sebuah punggungan bukit yang dibatasi sebuah lembah yang cukup dalam dari tempat kami beristirahat saat ini, dan di punggungan sanalah trek legendaris Leuweung Datar berada. Samar – samar terdengar raungan suara mesin sepeda motor yang tengah berjuang melewati tanjakan – tanjakan Leuweung Datar yang cukup “kejam”. Waktu sudah menunjukkan pukul 09.20 wib, perjalanan pun kembali dilanjutkan menuju kampung Babakan. Sekitar 500 m lagi dari ujung tanjakan ini kami akan sampai di kampung Babakan, masih dengan menyusuri tanjakan meskipun sudah sedikit lebih “jinak” elevasinya. Pukul 09.30 sampailah kami di kampung Babakan desa Sukanagara yang memiliki ketinggian ±1.130 mdpl, setelah menempuh jarak sekitar 6,4 km. Nyaris tidak ada jalur mendatar di sini, meskipun memang tidak dijumpai juga tanjakan terjal seperti trek Leuweung Datar, namun tanjakan-tanjakan landai yang tanpa jeda tetap saja mampu menguras stamina. Trek ini sangat cocok bagi para goweser untuk menguji endurance, ketahanan fisik dan teknik cadence atau teknik mempertahankan ritme dan putaran gowesan kita.

Di sebuah warung kami semua beristirahat sejenak, menghindari sengatan sinar matahari yang semakin terik sambil menunggu teman – teman yang masih berjuang menaklukkan tanjakan – tanjakan menuju kampung Babakan. Di kampung ini terdapat sebuah pertigaan, ke arah kiri berupa jalur makadam menanjak adalah jalur yang menuju Leuweung Datar, sejauh kurang lebih 2 km, tepatnya menuju pertigaan di ujung tanjakan Gunung Bubut yang merupakan titik tertinggi dari trek uphill Leuweung Datar ini. Sedangkan jalur ke arah kanan adalah jalur yang akan kami tuju, yaitu menuju kampung Cimonce yang berada sekitar 1 km lagi di depan kami. Satu persatu  teman – teman yang berada di rombongan terakhirpun tiba di sini. Setelah hampir 1 jam kami beristirahat dan re-grouping kami pun mulai beranjak meninggalkan kampung Babakan, kembali mengayuh pedal sepeda di tengah sengatan sinar matahari menuju kampung Cimonce. Jalur yang kami lalui relatif datar, hanya saja aspal yang mulus mulai berganti jalur makadam, dan perjalanan kami masih saja ditemani pemandangan indah kawasan Bandung Utara dan sekitarnya. Belum lama kami melaju, seorang teman tergoda untuk membeli beberapa buah tomat segar yang baru saja dipanen sang petani, rupanya bayangan akan segarnya menikmati segarnya buah tomat di cuaca tengah hari yang panas ini membuat dia tergoda untuk membeli satu kantong tomat.

Pada pukul 10.35 wib selepas sebuah turunan kami berhadapan dengan sebuah tanjakan makadam yang lumayan curam, berat juga mengayuh pedal menaklukkan tanjakan ini, apalagi di tengah sengatan sinar matahari yang semakin mendekati tengah hari. Terengah – engah kami melewatinya, dan setelah sekitar 5 menit berjibaku, sampai juga kami di ujung tanjakan yang sebenarnya tidak begitu panjang ini. Setibanya di ujung tanjakan kami semua berhenti di sebuah pertigaan di sebuah tempat yang bernama Pasir Batu Bedil, sudah berada di kawasan kampung Cimonce. Di tempat ini kami beristirahat dan kembali re-grouping sambil menikmati buah tomat segar, nikmat sekali rasanya. Trek berikutnya yang akan kami lalui adalah sebuah turunan panjang dari kampung Cimonce menuju titik finish trek ini di jalan raya Soreang – Ciwidey di kampung Cukang Haur. Turunan dengan jarak sekitar 3 km dan elevasi sekitar 200 m ditambah dengan bonus pemandangan perbukitan di sebelah barat siap memanjakan kami di akhir trek ini. 5 menit kami meluncur menuruni sisa perjalanan ini, namun tiba – tiba godaan pemandangan indah perbukitan di hadapan kami memaksa kami untuk menghentikan sementara laju sepeda dan mengambil beberapa foto mengabadikan pemandangan indah di hadapan kami. Setelah puas berfoto – foto kami kembali meluncur turun, dan sekitar pukul 10.55 wib tibalah kami semua di tepi jalan raya Soreang – Ciwidey.

Kembali kami re-grouping di tepi jalan raya Soreang – Ciwidey dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan pulang menuju Bandung, spontan saya dan seorang teman ATB bersepakat untuk memberikan sedikit kejutan dalam perjalanan pulangnya, dengan tidak menyusuri jalan raya Soreang - Ciwidey yang mengarah ke Sadu tetapi saya sengaja mengarahkan rombongan menuju ke arah kota Ciwidey dulu. Teman – teman mulai bertanya – tanya, apalagi ternyata setelah ±500 m kami melaju, saya berbelok ke arah barat menuju sebuah jalan kecil. Kejutan pertama sudah semakin dekat, dan setelah melewati jembatan sungai Ciwidey tampaklah di hadapan kami 1 tanjakan curam yang lumayan panjang, itulah kejutan pertamanya. Tertatih – tatih kami melewati tanjakan ini, dan ujung dari tanjakan ini adalah sebuah pertigaan di jalan raya Sadu - Cikoneng – Ciwidey. Selain memberikan kejutan, tujuan saya melewati jalur ini adalah untuk menghindari jalur utama yang pasti akan sangat padat saat itu karena bertepatan dengan masa liburan long weekend akhir tahun, akan sangat tidak nyaman mengayuh sepeda di tengah lalu lintas yang sangat padat, karenanya jalur ini menjadi pilihan karena lebih sepi, lebih sejuk karena banyak dipayungi rerimbunan pohon – pohon bambu, juga cukup banyak pemandangan indah yang bisa dilihat di sepanjang jalur ini.

30 menit kami menyusuri jalur Cikoneng yang cukup mulus dan naik turun ini, tibalah kami kampung Sadu, di sinilah kejutan terakhir sudah saya siapkan untuk teman – teman gowes kali ini. Sepeda – sepeda tidak diarahkan menuju jalan utama, namun kembali menanjak sedikit ke arah barat kemudian masuk ke pematang sawah. Dan tak lama kemudian tampaklah di hadapan kami jembatan kereta api tua Sadu yang eksotis dan cukup terkenal itu, kami semua akan menggowes sepeda menyeberangi sungai Ciwidey dengan menyusuri jembatan kereta api tersebut. Semua tampak gembira menyambut sajian kejutan terakhir yang tidak terduga ini. Dan satu per satu sepedapun bergerak menyeberangi jembatan kereta ini, walaupun harus ekstra hati – hati karena di sepanjang jembatan tidak terdapat penghalang di samping kiri dan kanan jembatan. Tepat pukul 12 wib  siang kami semua sampai di ujung jembatan kereta api Sadu, kemudian bergerak menuju ke sebuah warung di ujung jembatan untuk beristirahat dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan pulang kembali menuju Bandung.

Sebagai tambahan saja, apabila ingin mendapatkan sensasi yang berbeda dan ingin mendapatkan trek yang lebih menantang, rute trek ini bisa dibalik, start bisa dimulai di desa Sadu kemudian masuk ke Cimonce melalui Cukang Haur yang kondisi tanjakannya lebih terjal dan kondisi jalan yang tidak begitu bagus, penasaran?? selamat mencoba...... 




MENIKMATI SENSASI ROLLER COASTER TREK GUNUNG PUNTANG – BATUKARUT


Trek Gunung Puntang, di kecamatan Cimaung salah satu trek sepeda offroad yang sangat sayang untuk dilewatkan, terutama bagi para goweser pecinta XC dan XC trail dengan sajian tanjakan dan  turunan menantang di sepanjang jalurnya. Dikatakan menikmati sensasi roller coaster Dikatakan menikmati sensasi roller coaster karena selama perjalanan sejauh kurang lebih 13 km menyusuri lereng – lereng pegunungan Malabar kita akan disuguhi trek yang sangat variatif mulai dari trek mendatar, tanjakan – tanjakan dan turunan – turunan yang berkontur landai maupun curam, lurus atau dihiasi belokan tajam, dengan panjang tanjakan atau turunan yang beragam yang akan membuat kita harus mengeluarkan seluruh kemampuan fisik, mental dan skill bersepeda kita ketika melaluinya, apalagi apabila menyusurinya dalam kondisi trek basah selama musim penghujan. Padahal bila dilihat dari keseluruhan trek offroad ini dari titik start di gerbang buper Gunung Puntang di ketinggian ±1.285 mdpl sampai titik finish di kampung Kiarapayung di ketinggian ±1.015 mdpl, elevasi dari trek offroadnya hanya sekitar 250 m, namun kontur pegunungan Malabar-lah yang menjadikan kondisi trek ini sangat variatif. Dan di samping itu, di sepanjang perjalanan, mulai dari Cimaung sampai pada saat menyusuri trek offroad kita akan mendapatkan beragam kejutan, terutama bagi para goweser yang sudah biasa gowes di tempat lain namun pertama kali menginjakkan kakinya di sini, perjalanan menyusuri trek ini akan menjadi pengalaman yang sangat mengesankan, karena sangat sulit ditemui di trek lain. Kejutan – kejutan apa saja itu? Nanti akan kita ulas di paragraf – paragraf berikutnya.

Untuk mencapai titik start trek ini di gerbang buper Gunung Puntang, kita bisa menempuh rute Banjaran – Cimaung, dilanjutkan dengan menempuh jalan aspal menanjak sejauh 8 km menuju buper Gunung Puntang. Jalur aspal Cimaung - buper Gunung Puntang sendiri merupakan jalur uphill favorit di daerah Bandung Selatan yang cukup banyak dikunjungi para goweser setiap akhir pekannya. Bagi yang memiliki stamina prima, menuju titik start trek offroad Gunung Puntang ini bisa dicapai dengan mengayuh sepeda melaui rute – rute seperti tersebut di atas. Opsi lainnya yaitu menggowes sepeda dulu menuju pertigaan Cimaung dengan mencicipi tanjakan Kiang Roke yang landai namun cukup panjang, kemudian me-loading  sepeda kita dari pertigaan Cimaung menuju buper Gunung Puntang bisa juga dijadikan alternatif. Atau kita bisa juga memilih untuk loading  langsung dari Bandung menuju gerbang buper Gunung Puntang. Saya dan teman – teman ingin menghemat tenaga dulu supaya lebih maksimal ketika menyusuri trek offroad-nya memilih opsi kedua, gowes dulu sampai Cimaung untuk pemanasan, dilanjutkan dengan me-loading  sepeda dari pertigaan Cimaung gerbang buper Gunung Puntang.

15 menit berlalu, pukul 09.45 saya dan teman – teman sampai di dekat gerbang buper Gunung Puntang, tepatnya di depan sebuah taman wisata. Kejutan pertama adalah ongkos loading  yang murah, satu unit mobil pick up berkapasitas 15 orang bersedia mengangkut kami dari Cimaung sampai gerbang buper hanya dengan ongkos 150 ribu saja, setelah dibagi dengan jumlah teman – teman yang ikut gowes pada kesempatan kali ini sebanyak 16 orang, jumlah iuran per-orangnya cukup membuat terkejut teman – teman goweser yang biasa loading  di daerah Bandung Utara dan sekitarnya. Satu – per satu sepeda pun diturunkan dari mobil kemudian dicek kembali sistem pengereman, shifting, dan tekanan bannya untuk memastikan semuanya dalam kondisi baik ketika kami mulai memasuki trek offroad. Ini untuk meminimalisasi kemungkinan gangguan yang mungkin terjadi selama perjalanan, mengingat trek yang dihadapi sangat beragam mulai dari tanjakan, turunan baik yang berupa trek tanah maupun makadam yang pastinya akan membuat sepeda kita bekerja keras. Setelah semuanya oke, satu per satu sepeda pun mulai memasuki singel trek mengarah ke utara memasuki hutan pinus. Sedikit turunan di awal trek dengan kondisi tanah yang becek sedikit berlumpur mulai membangkitkan semangat kami menggowes, semangat ini akan  sangat dibutuhkan untuk menghadapi tanjakan di depan yang sudah menghadang. Dengan stamina yang masih segar, tanjakan basah nan licin ini bisa dilalui tanpa harus dengan “tuntun bike” atau TTB, namun memang dibutuhkan kemampuan teknik pedalling dan handling sepeda yang bagus apabila ingin melewati tanjakan ini dengan mulus. Ada beberapa yang bisa melewati tanjakan becek ini dengan mulus, tapi ada juga yang gagal dan akhirnya memilih ber-TTB untuk melewatinya.

10 menit berlalu, setelah menyusuri trek yang cukup datar, tibalah kami di sebuah turunan yang lumayan panjang dan curam, kami menamai turunan ini Turunan Kopi, karena ujung turunan ini berada di rerimbunan pohon – pohon kopi hasil program PHBM beberapa tahun lalu. Sebenarnya turunan ini akan sangat enak untuk dilalui ketika kering atau sedikit basah, apabila kondisi trek sangat basah, selain tanah merah akan terbawa ban sepeda dan tersangkut di fork atau chainstay yang akhirnya akan mengunci sepeda kita, juga di beberapa tempat kondisi trek menjadi sangat licin, siap menjatuhkan kita dari sepeda. Turunan kopi  saat itu lumayan bersahabat, basah tapi tidak berlumpur, cukup enak untuk memacu sepeda, dengan dihiasi beberapa belokan cukup tajam, sayang rasanya kalau tidak mencoba untuk memacu adrenalin di turunan ini sampai ke ujungnya di rerimbunan pohon kopi, asal tetap berkonsentrasi mengendalikan sepeda supaya roda tidak masuk ke monorel dan membuat kita terjerembab mencium tanah. Biasanya di rerimbunan pohon kopi ini kami beristirahat cukup lama, selain untuk membersihkan tanah yang tersangkut di fork atau chainstay, juga untuk re-grouping, namun karena kali ini trek cukup bersahabat, sepeda masih “relatif bersih” kami pun langsung melanjutkan perjalanan tanpa jeda dulu di spot ini.

Kejutan berikutnya sudah menanti di depan kami, 10 menit kami berjalan meninggalkan turunan kopi kami pun bertemu dengan trek yang sebenarnya adalah sebuah parit berair cukup jernih dan deras, kali ini kita akan mengayuh sepeda melalui parit sepanjang ± 25 m, asyik sekali mengayuh sepeda melintasinya, namun harus tetap berhati – hati karena di sekitar parit banyak terdapat kerikil lepas yang akan mengganggu handling sepeda kita, bahkan tidak mungkin akan membuat kita terjatuh. Mengayuh pedal melintasi parit berair ini menjadi kejutan sekaligus pengalaman berkesan terutama bagi para goweser yang pertama kali menginjakkan kakinya di trek ini. Hiburan yang tersaji masih berlanjut, ujung dari parit ini adalah sebuah turunan yang cukup menantang yang berujung di sebuah sungai. Ketika menuruninya sebaiknya kita menunduk saja memperhatikan arah dan mengendalikan laju sepeda, menikmati sepeda yang meluncur turun dimainkan gravitasi, jangan dulu mengangkat kepala karena kalau kita mengangkat kepala maka akan terlihat di depan kita sebuah tanjakan siap menanti, jangan sampai kenikmatan kita meluncur turun harus terganggu karena melihat tanjakan yang akan dihadapi berikutnya.

Setelah melintasi sungai kecil tadi tibalah kita di mulut tanjakan, cukup panjang dan berbelok di ujungnya. Di ujung belokan itu ada spot yang cukup luas dan nyaman untuk kita beristirahat sejenak mengatur nafas. 10 menit kami tertatih – tatih menuntun sepeda melewati tanjakan ini. Pukul 10.25 kami tiba di ujung tanjakan, sebuah tempat yang cukup nyaman, luas dan teduh karena dipayungi rerimbunan pohon – pohon pinus, kami pun beristirahat dan re-grouping. Beberapa teman segera membuka bekal makanan kecil dan snack untuk sekedar mengganjal perut yang mulai lapar. Kami belum akan membuka bekal makan siang di sini, karena sesi makan siang akan menjadi kejutan penutup di akhir perjalanan sesuai dengan yang sudah direncanakan sejak jauh – jauh hari.

10 menit kami beristirahat di sini dan kami pun kembali melanjutkan perjalanan menuju spot berikutnya yaitu Tanjakan Langit 1, yang biasanya menjadi titik pertemuan dari beberapa jalur yang ada di trek offroad Gunung Puntang ini, terutama bagi para motocrosser. Untuk menuju Tanjakan Langit ini kami akan disuguhi trek menurun yang cukup panjang dan menantang, apabila sedang kering trek ini seakan menjadi surga bagi para goweser pencinta turunan/ downhill, mereka akan memacu sepeda mereka melahap turunan – turunan menantang menuju Tanjakan Langit. Sebelum menuju ke turunan tersebut kami harus menyusuri dulu trek mendatar dengan diselingi beberapa tanjakan dan turunan landai. Fisik yang sudah agak melemah menjadikan perjalanan menjadi agak melambat, mental mulai agak bermain di sini. Namun rasa lelah cukup terobati dengan indahnya pemandangan sekitar yang menghijau, eksotisme lereng – lereng curam, dan segarnya udara pegunungan Malabar. 15 menit kami menempuh jalur tersebut sebelum akhirnya kami sampai juga di di mulut turunan. Segmen pertama dari turunan ini adalah sebuah turunan curam di bawah rimbunnya pohon – pohon pinus. Treknya meliuk – liuk melintasi akar – akar yang dihiasi guguran daun pinus, ditambah kondisi tanah yang basah akan sedikit menegangkan pastinya melintasi segmen pertama dari turunan ini. Berbekal nyali saja rasanya tidak akan cukup untuk bisa membawa sepeda melewati trek di sela – sela pepohonan, karena roda sepeda kita akan menginjak tanah basah dan akar – akar licin ditambah guguran daun. Harus disertai dengan konsentrasi dan kemampuan mengendalikan sepeda yang baik untuk bisa melewati turunan ini dengan mulus.  Setelah melewati rerimbunan pohon pinus kondisi trek menurun ini menjadi agak bersahabat, karena dari sini trek menjadi terbuka sehingga sinar matahari bisa leluasa masuk dan membuat trek menjadi sedikit kering, dari sini kami pun memacu sepeda menuju sebuah persimpangan yang kedua – duanya sama menuju ke Tanjakan Langit, namun dua trek menurun ini menawarkan karakteristik turunan yang berbeda. Jalur yang mengarah ke kiri tipikal turunannya pendek – pendek dan curam, dihiasi beberapa belokan tajam, sangat cocok bagi para goweser yang menyukai turunan yang penuh tantangan. Apalagi dalam kondisi trek basah seperti saat ini, dalam kondisi kering pun trek ini sama menantangnya, karena tanah yang kering menjadi gembur dan lepas, sama memberi efek licin ketika melintasinya. Sedangkan turunan yang mengarah ke kanan menyajikan karakteristik turunan tidak begitu curam namun panjang dan minim belokan tajam. Kami mengambil jalur kanan karena kebetulan saja kami sudah lama tidak mencoba turunan itu, sepeda – sepeda meluncur cepat melintasi turunan mengasyikkan itu. 10 menit kami dimanjakan turunan – turunan tersebut sebelum akhirnya sampailah kami di Tanjakan langit yang memiliki ketinggian ±1.230 mdpl.

Spot Tanjakan Langit adalah sebuah dataran cukup luas dan datar di ujung tanjakan terjal yang dikenal dengan nama Tanjakan Langit, disini juga terdapat saung bambu yang terkadang dijadikan warung makanan. Tempat ini menjadi tempat beristirahat para crosser sekaligus untuk mendinginkan mesin motor mereka sehabis menjajal terjalnya tanjakan ini, terutama bagi para crosser yang mengambil start dari Ciapus atau daerah – daerah di bawah lokasi Buper Gunung Puntang. Kami para goweser juga menjadikan tempat ini sebagai tempat beristirahat karena tempatnya cukup luas, sehingga leluasa untuk sekedar menjadi tempat beristirahat juga sebagai tempat untuk mengecek lagi kondisi sepeda setelah melahap trek sebelumnya. Sekitar 10 menit kami berhenti di tanjakan langit untuk beristirahat dan memeriksa kembali kondisi sepeda masing – masing, khususnya pada sistem pengereman, drivetrain dan tekanan ban setelah sebelumnya sekitar 1 jam lebih sepeda kami “siksa”. Setelah semua siap kami pun kembali melanjutkan perjalanan menuju Tegal Caang, kondisi trek yang dilalui masih berupa turunan panjang dengan belokan – belokan landai dihiasi dengan sembulan akar – akar pinus dan monorel. Untungnya saat kami melintasinya, kondisi trek agak lebar, mungkin beberapa waktu ke belakang ada yang membersihkan pinggiran trek ini. Dengan kondisi ini kami bisa mengarahkan sepeda ke pinggiran trek untuk menghindari jebakan monorel . 5 menit berlalu dan sekitar pukul 11.15 sampailah kami di Tegal Caang, sebuah spot yang cukup indah karena berada di ujung punggungan, sehingga kita dapat menikmati pemandangan di arah barat, yang terhampar di kejauhan pemandangan kota Soreang, Banjaran, Baleendah dan sekitarnya. Di sini juga terdapat persimpangan, yang mengarah ke barat menuruni punggungan akan yang membawa kita ke Ciapus kota Banjaran, dan ke arah utara yang akan kami tuju adalah arah menuju kampung Cigentur Batukarut. Kembali kami berhenti di sini untuk re-grouping dan mengabadikan pemandangan indah di hadapan kami yang sangat sayang untuk dilewatkan. Di sini kami mengumpulkan tenaga, mengembalikan stamina yang sudah melemah, untuk menempuh perjalanan berikutnya menuju tanjakan langit 2, trek kebun kopi yang menanjak dan berbatu – batu, tanjakan mata air, rawa dan tanjakan hutan bambu sebelum akhirnya kami akan disuguhi sajian terakhir berupa turunan sangat panjang sampai di titik finish di Batukarut plus beberapa kejutan lain yang telah siap menanti kami.  

Kami pun kembali melanjutkan perjalanan menuju tanjakan langit 2, sebuah tanjakan terjal dan panjang dengan 1 belokan tajam di tengahnya, kembali menanjak menuju ujungnya. 15 menit kami berjibaku melewati tanjakan ini, dan sesampainya di ujung tanjakan kami hanya berhenti sekitar 5 menit saja sekedar untuk mengatur nafas yang terengah – engah, karena di ujung tanjakan tidak ada tempat yang cukup luas untuk beristirahat juga karena waktu yang semakin beranjak siang sedangkan kami harus mengejar waktu untuk makan siang di lokasi yang sudah direncanakan sebelumnya. Dari ujung tanjakan kondisi trek relatif datar meskipun ada di beberapa titik sedikit menanjak, tapi  di sepanjang trek ini kami bisa mengayuh pedal sepeda dengan leluasa menuju sebuah pertigaan di sebuah sungai yang mengering. Dari sini terdengar raungan motor – motor cross yang juga tengah melintasi trek ini, pada jarak beberapa puluh meter di depan, kami pasti akan berpapasan dengan mereka. Lalu  sepeda kami arahkan ke kanan memasuki kebun kopi bawah rimbunnya pohon – pohon pinus, trek sedikit menanjak dan di sepanjang treknya banyak terdapat batu – batu besar sehingga sepeda tidak bisa lagi kami naiki, kami semua ber-TTB melewati kebun kopi ini.

Selepas kebun kopi spot yang dituju berikutnya adalah mata air, dan selama perjalanan menuju mata air kami sempat berpapasan dan berhenti di beberapa titik memberi jalan kepada beberapa rombongan motocross yang juga melintasi trek yang kami lalui. Untuk menuju spot mata air kami harus melewati 1 tanjakan terjal, panjang tanjakan sekitar 15 m, tapi karena kondisinya basah dan berlumpur, melewati tanjakan ini terasa sangat menyiksa. Ketika langkah - langkah menapaki tanjakan, kaki seakan tidak mendapatkan pijakan, pasti melorot lagi. Ditambah lagi harus menuntun sepeda, semakin bertambah penderitaan kami, beberapa teman mencoba untuk memanggul sepeda, namun ternyata itu pun bukan opsi yang bagus untuk melewatinya. Fisik dan mental prima kembali bermain di sini, ditambah dengan kerjasama yang solid kami saling membantu berusaha melewati tanjakan ini. Kami pun berjajar di pinggiran tanjakan di tanah yang masih agak berumput dan memiliki undakan, satu per satu sepeda kami estafetkan sampai ke ujung tanjakan, 15 menit kami harus berjuang untuk melewati tanjakan yang “hanya”  berjarak 15 m saja. Tapi satu kejutan sudah menanti di hadapan kami, di ujung tanjakan, itu yang membuat kami bersemangat untuk segera melewati tanjakan berlumpur ini. Sebuah mata air di ujung tanjakan, tepat di bawah trek yang kami lewati siap menyegarkan kerongkongan dan badan kami yang lelah disiksa tanjakan. Setiba di ujung tanjakan, beberapa teman bergegas menuruni tebing setinggi sekitar 5 m menuju sumber mata air yang berada di celah bebatuan, dari celah itu mengalir air yang sangat jernih, membuat tergoda kami untuk segera meminumnya. Satu per satu botol – botol air minum diisi penuh, dan kemudian mengalirlah air murni pegunungan malabar membasahi kerongkongan, membuat kami seakan mendapatkan kembali tenaga baru untuk menyelesaikan trip ini. Sekali lagi, bagi goweser yang pertama kali ke sini, suguhan air segar alami langsung dari sumbernya akan menjadi pengalaman yang mengesankan dan sulit untuk dilupakan.

10 menit kami berhenti di sini, kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali, dan langsung berhadapan dengan tanjakan berlumpur yang tipikalnya mirip sekali dengan tanjakan di bawah mata air tadi. Berbekal pengalaman melewati tanjakan pertama, kami pun langsung membuat formasi berjajar di sepanjang sisi tanjakan untuk mengestafetkan sepeda – sepeda, untuk kali ini kami juga menggunakan seutas tambang sebagai alat tambahan sehingga kami bisa lebih cepat dan lancar menaklukkan tanjakan lumpur kedua ini. Spot berikutnya yang kami lalui adalah rawa, trek di sini menurun, memasuki lahan basah yang mirip rawa, kemudian menanjak landai dan sedikit jalur mendatar menuju hutan bambu. Dengan memasuki hutan bambu ini berarti kami sudah berada di bagian akhir dari singel trek Gunung Puntang. Mulai dari sini trek seluruhnya menurun, diawali singel trek menuju bendungan, dilanjutkan dengan trek makadam di hutan pinus dan ladang penduduk menuju kampung Kiara Payung, dan diakhiri dengan jalan aspal menurun menuju Batukarut.  
Pukul 12.45 ketika perut sudah semakin menjerit minta segera diisi, satu per satu pun meluncur meninggalkan hutan bambu memasuki singel trek menurun bertanah basah nan licin di antara rerimbunan pepohonan Kaliandra. Beberapa teman terjerembab mencium tanah terkena jebakan monorel, namun semua tetap gembira dan menikmati sensasi yang disajikan turunan ini. Selepas sebuah pertigaan, kondisi trek menjadi agak kering karena tidak lagi dipayungi rerimbunan pohon kaliandra, kami semakin memacu sepeda menuju ujung singel trek di sebuah pertigaan. Semua tiba di pertigaan di mulut trek makadam dengan wajah – wajah gembira setelah disuguhi turunan sebelumnya. Kami kemudian mengambil arah kiri di pertigaan tadi menuju kejutan terakhir, yaitu istirahat dan makan siang di pinggir bendungan berlatarkan sisi utara pegunungan Malabar. Kami bergegas mengayuh sepeda menuju bendungan, dan wajah – wajah gembira itu terlihat semakin sumringah melihat kejutan terakhir dari perjalanan menyusuri trek offroad Gunung Puntang ini.
Pukul 13.00 kami pun tiba di bendungan yang memiliki ketinggian ±1.190 mdpl ini, setelah mendapatkan lokasi yang cukup nyaman di pinggir bendungan kami semua memarkir sepeda – sepeda dan segera membuka dan kemudian menikmati bekal makan siang dengan lahap. Rasa gembira dan kepuasan seakan berlipat – lipat, tanjakan – tanjakan terjal seakan terlupakan setelah dimanjakan dengan turunan – turunan, segarnya meminum air dari mata air, dan sekarang ditutup dengan makan siang bersama di bendungan yang cukup indah dan sunyi ini. Ini masih belum cukup, di akhir perjalanan turunan panjang masih menanti kami. Hampir 1 jam kami berada di tempat ini, sekitar pukul 13.55 kami pun beranjak meninggalkan bendungan indah nan sunyi ini untuk menuntaskan perjalanan. Turunan makadam panjang dari pertigaan bendungan – ujung singel trek menuju pinggiran hutan pinus, berlanjut menuruni makadam di tengah ladang – ladang penduduk menuju ujung trek offroad di kampung Kiara Payung, kemudian ditutup dengan menyusuri jalan aspal menurun sejauh ± 3 km menuju titik finish di kampung Cigentur Batukarut yang berketinggian ± 730 mdpl, dari bendungan sampai kampung Cigentur secara keseluruhan kami akan meluncur turun dengan elevasi ± 460 m, sangat mengasyikkan.
Satu per satu sepeda meluncur turun di trek makadam hutan pinus menuju ladang penduduk dan kemudian memasuki jalan aspal di kampung Kiara Payung. Di kampung Kiara Payung kami berhenti sejenak untuk re-grouping, dan kembali melanjutkan perjalanan meluncur menyusuri jalan aspal menurun yang relatif mulus menuju kampung Cigentur. Sekitar pukul 14.15 kami tiba di kampung Cigentur, setelah re-grouping sekali lagi kami pun beranjak meninggalkan kampung Cigentur memasuki jalan Banjaran – Arjasari menuju jalan raya Banjaran, dan pulang ke rumah masing – masing dengan membawa berjuta momen dan pengalaman berkesan selama menyusuri trek roller coaster Gunung Puntang – Batukarut ini.


GOWES PIKNIK TREK KERTAMANAH -CURUG PANGANTEN-CINYIRUAN


Sekali lagi Pangalengan menawarkan trek XC yang sangat menarik dan menantang, lokasinya masih di sekitar perkebunan Kertamanah . Untuk gowes kali ini kami akan mencoba trek Kertamanah -Artavella kemudian dilanjutkan piknik ke Curug Panganten dan finish di kampung Cinyiruan, masih di daerah perkebunan Kertamanah . Salah satu sesi acara dari gowes kali ini adalah piknik sekaligus botram atau makan bersama di area Curug Panganten sebelum kemudian meluncur menuruni perbukitan dari Artavella sampai Cinyiruan. Trip kali ini merupakan kombinasi dari trek Artavella-Campaka, dan dilanjutkan dengan menyusuri singel trek Campaka-Cinyiruan yang merupakan bagian dari trek Kertamanah -Bojongwaru yang sudah pernah saya bahas sebelumnya. Sudah terbayang keasyikan yang akan kami dapatkan dari trip kali ini, sebelumnya kami pernah mencoba trek Kertamanah -Bojongwaru yang memiliki turunan-turunan menantang,dan kali ini trek ini akan disatukan dengan trek Artavella yang posisinya lebih tinggi dari Kertamanah , yang baru pertama kali kami coba. Bisa dibayangkan keasyikan yang akan didapatkan ketika sepeda-sepeda kami meluncur menuruni perbukitan dari ketinggian ±1960 mdpl menuju ketinggian ±1550 mdpl.

Seperti biasa kami berangkat pagi - pagi dari Bandung, sepeda kami loading dengan menggunakan 1 unit truk. Sampai di penangkaran rusa Kertamanah  sekitar pukul 9.15 dan sepeda kami turunkan di sini, kami berencana untuk mulai menggowes dari sini menuju Artavella sejauh kurang lebih 5 km. setelah mempersiapkan sepeda masing-masing dan menyantap cemilan sekedar untuk mengganjal perut dan menambah stamina, kami pun memulai perjalanan menuju Artavella dengan menempuh jalur Campaka menuju titik pemberhentian pertama di daerah kampung Cibitung . Jarak dari Campaka ke kampung Cibitung  kurang lebih 2 km, berupa jalan makadam dan tanjakan-tanjakan landai, kami masih bisa menikmati perjalanan ini, meskipun tetap saja membuat nafas menjadi lebih cepat dan jantung berdetak lebih kencang, lumayan sebagai pemanasan.

Sebenarnya selain melewati Campaka, jalur menuju kampung Cibitung  bisa juga ditempuh melalui jalur PLTP Wayang - Windu yang kondisi jalannya beraspal dan relatif masih mulus, hanya saja melewati jalur ini jalan yang dilalui sedikit memutar dan lebih banyak dihiasi tanjakan-tanjakan. Dengan mengambil jalur Campaka maka tenaga bisa dihemat karena  mulai dari kampung Cibitung -lah baru akan ditemui tanjakan – tanjakan yang lebih berat menuju Artavella. Ujung dari jalur makadam ini adalah sebuah perempatan yang lokasinya berada di atas kampung Cibitung , yang juga menjadi pertemuan dengan jalur dari PLTP Wayang – Windu. Mulai dari sini kondisi jalan menjadi beraspal, dengan kerusakan di beberapa bagiannya, sedikit memudahkan kami untuk mengendalikan sepeda. Namun ternyata mulai dari sini tanjakan yang dijumpai mulai terasa lebih berat.

Hari semakin terik, mengayuh pedal di jalan menanjak di ketinggian lebih dari 1600 mdpl benar – benar menyiksa. Gowesan terasa sangat lambat dan berat, ditambah dengan gersangnya kondisi di sekitar jalur yang dilalui, hampir tidak ditemui tegakan pepohonan rindang yang memayungi kami, benar – benar menjadi ujian fisik dan mental untuk melaluinya. Dengan sendirinya rombongan kami terbagi menjadi 3 grup, grup yang berada paling depan adalah teman – teman yang memiliki stamina prima, mereka mengayuh pedal sepeda dengan stabil, kecepatan konstan dan tanpa istirahat  meskipun di jalan menanjak. Grup kedua yang berada di tengah adalah yang stamina dan kondisi fisiknya pas – pasan namun masih berusaha mengayuh pedal melewati jalur ini, dan sebisa mungkin tanpa TTB, meskipun akhirnya setiap sehabis melewati satu tanjakan harus berhenti untuk mengatur nafas dan mengistirahatkan otot – otot kaki yang mulai menegang, untuk kemudian kembali mengayuh sepedanya melanjutkan perjalanan, slogan penyemangat yang biasa dipakai adalah “biar lambat asal tidak TTB”. Sedang grup yang terakhir adalah teman – teman yang lebih memilih untuk sepenuhnya ber-TTB, menuntun sepeda – sepeda mereka. Sebagian ada yang memang sudah kehabisan tenaga sejak memasuki jalan aspal di Cibitung  tadi, atau ada juga yang TTB karena sepeda – sepeda mereka berspesifikasi FR yang akan membuat pengendaranya sangat tersiksa apabila mencoba mengendarai sepedanya di jalur aspal menanjak ini. Namun yang harus diapresiasi dari grup ketiga ini adalah mental dan semangat mereka yang kuat untuk terus melanjutkan perjalanan meskipun harus bersusah payah menuntun sepeda, dan menjadi yang paling lambat di antara rombongan ini. Tidak terasa jarak Kertamanah  – Artavella yang “hanya” 5 km harus ditempuh selama 2 jam, karena sepanjang jalan yang dilalui adalah tanjakan – tanjakan yang nyaris tanpa jeda yang akhirnya membuat waktu tempuhnya menjadi sedemikian lama.

Titik pemberhentian kami berikutnya adalah Artavella di ketinggian ±1960 mdpl, tempat ini adalah sebuah pertigaan yang salah satu jalurnya menuju ke Curug Panganten. Di kawasan ini pula jalan aspal berakhir, di sebuah sumur sumber gas bumi PLTP Wayang – Windu. Sekitar pukul 12 sampailah kami di Artavella, dari pertigaan ini kami menuju ke arah utara untuk beristirahat sejenak di sebuah warung kecil yang berada di tengah – tengah ladang sayuran dan tegakan pohon – pohon Eukaliptus. Warung ini menjadi tempat beristirahat dan menjadi penyedia kebutuhan para petani penggarap seperti rokok, minuman ringan, makanan kecil dan sebagainya selagi mereka bekerja di sekitar sini. Kami pun beristirahat di warung ini, menyantap makanan kecil dan cemilan untuk mengembalikan stamina yang terkuras selama perjalanan dari Kertamanah  tadi. Setelah beristirahat sekitar 45 menit kami pun melanjutkan sisa perjalanan menuju Curug Panganten. Jalur yang harus ditempuh adalah sebuah singel trek menurun di tengah – tengah ladang, di ujung turunan sana jalur terlihat menanjak sampai ke batas hutan. Setelah sedikit menghibur diri dengan meluncur di turunan yang tidak terlalu panjang itu sampailah kami di sebuah jembatan kecil di ujung turunan tadi, dan di depan kami adalah sebuah singel trek menanjak di tengah ladang sayuran dan kemudian disambung dengan hamparan lahan bukaan yang kelihatannya belum lama diolah dari hutan tak lama lagi akan menjelma menjadi ladang - ladang sayuran. Melihat dari kondisinya tidak memungkinkan untuk mengendarai sepeda melewatinya, akhirnya kami semua pun menuntun sepeda masing – masing merayapinya, dan setelah bersusah payah melewati ladang dan kemudian menuju ke lahan bukaan bertanah gembur yang menyulitkan kaki untuk melangkah, pukul 13 akhirnya sampai juga kami di batas hutan yang ditandai oleh pagar memanjang yang memisahkan kawasan hutan dan lahan bukaan. Batas hutan ini berada di sebuah punggungan, ini berarti perjalanan kami berikutnya menuju curug untuk sementara tidak akan menemukan tanjakan-tanjakan, namun trek yang sempit karena berada di pinggir jurang tidak memungkinkan untuk membawa sepeda sampai ke lokasi curug, kami pun memutuskan untuk menyimpan sepeda di batas hutan.  Setelah memastikan sepeda dalam posisi aman kami pun melanjutkan perjalanan menuju lokasi curug. Singel trek menuju lokasi curug selain sempit juga licin karena memang curug ini cukup tersembunyi di tengah hutan sehingga tidak begitu banyak orang yang mengetahui keberadaan Curug Panganten ini, membuat lokasi di sekitarnya pun masih asri dan terjaga kealamiannya.

Setelah berjalan meniti singel trek sempit dan licin kurang lebih 100 m, sampailah kami di sebuah belokan, sampai di belokan ini suara gemuruh air terjun belum terdengar, baru lah setelah kami melewati punggungan kecil gemuruh suara air terjun terdengar, tak lama kemudian di hadapan kami tampaklah 2 curug kembar berdampingan setinggi ± 30 m, itulah Curug Panganten, indah sekali. Airnya yang deras namun jernih menimbulkan semburan angin bercampur dengan uap - uap air yang membasahi tubuh kami. Sejenak awan tersibak dan matahari menyinari curug ini, seketika itu pula selarik pelangi muncul di hadapan kami, dahsyat..!! Semua rasa lelah hilang berganti rasa takjub dan gembira menyaksikan sajian alam yang menakjubkan di hadapan kami. Beberapa teman spontan menjerit bahagia mengekspresikan rasa hati mereka mendapati semua keindahan ini.

Segera kami mendekati curug, mengambil posisi terbagus dan kemudian berfoto – foto mengabadikan keindahan Curug Panganten ini. Namun kami tidak sempat berenang disini, meskipun saat itu air curug tidak begitu besar membuat air curug cukup jernih, karena berhubung hari yang sudah semakin siang sementara perjalanan kami masih cukup jauh. Juga posisi Curug Panganten yang berada di ketinggian lebih dari 2000 mdpl membuat suhu di sekitar sini cukup dingin, padahal saat itu waktu menunjukkan pukul 14.00 wib. Kami pun segera menuju acara utama kami yang sudah direncanakan yaitu botram alias makan bersama. Kami mengambil spot di sebuah tempat yang agak lapang, di balik sebuah belokan supaya ketika kami makan kami tidak akan kebasahan terkena terpaan uap air curug. Perut yang sejak dari tadi meminta untuk diisi akhirnya bisa mendapatkan bagiannya, kami segera membuka dan memakan perbekalan yang kami bawa. Nikmat sekali menyantap makanan ketika rasa lapar sudah mencapai puncaknya sambil diiringi deru air terjun Curug Panganten, sempurna. Beberapa teman segera memanaskan air dan membuat teh dan kopi, semakin terasa sempurna suasana botram saat itu, beristirahat setelah perut kenyang terisi sambil menikmati indahnya Curug Panganten dengan ditemani segelas teh panas. Tidak terasa 1 jam lebih kami berada di tempat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 15, kami harus segera meninggalkan Curug Panganten karena kami masih harus menuntaskan sisa perjalanan trip ini menuju titik finish di kampung Cinyiruan.

Kami pun kembali berjalan menyusuri singel trek menuju batas hutan ke tempat sepeda  diparkir, segera mempersiapkan sepeda masing – masing dan sepeda pun melaju membelah lahan – lahan bukaan dan ladang – ladang sayuran menuju Artavella. Setelah regrouping  kami pun segera meluncur meninggalkan Artavella untuk menjemput kejutan – kejutan yang akan kami jumpai di trek menurun di depan. Seperti sudah disebutkan di atas, posisi Artavella berada di ketinggian ±1960 mdpl dan perjalanan akan menuju kampung Cinyiruan di ketinggian ±1550 mdpl, meluncur turun di sepanjang singel trek membelah ladang – ladang sayur dan perkebunan teh dengan elevasi ± 400 m pasti akan memberikan sensasi yang luar biasa, apalagi buat para pencinta downhill dengan sepeda FR-nya yang sejak dari kampung Cibitung sudah harus menuntun sepedanya, sekaranglah saatnya bagi mereka untuk “membalas dendam”. Dari pertigaan Artavella kami menuju ke arah timur menuju ujung jalan aspal di sebuah sumur gas milik PLTP Wayang – Windu, dari sana mulai masuk singel trek, dan selepas sumur gas tersebut terbentanglah singel trek meliuk – liuk menuruni perbukitan di bawah kami, berlatar ladang sayuran dan perkebunan teh.  kota Pangalengan dan Situ Cileunca di kejauhan terlihat seakan dibentengi oleh deretan pegunungan kawasan Cagar Alam Gunung Tilu. Sejenak kami berhenti untuk mengabadikan pemandangan menakjubkan ini, dan selanjutnya kami pun memacu sepeda masing – masing menuruni singel trek yang masih terhitung mulus ini. Turunan pertama yang kami hadapi adalah sebuah turunan yang cukup curam dan panjang, kami menamainya “Turunan 45” , karena tingkat kemiringannya yang ekstrem, juga karena di sini kami diharuskan untuk memiliki “semangat 45” untuk bisa melewati turunan ini dengan mulus. Beberapa teman sukses menuruninya, terutama mereka yang mengendarai sepeda AM dan FR. Saya dan teman – teman yang bersepeda XC dengan travel fork maksimal 120 mm pun tidak mau ketinggalan untuk bisa melewati turunan ini dengan mulus walaupun kami harus dengan berhati – hati ekstra konsentrasi. Beberapa teman ada yang gagal dan terjatuh ketika melewatinya, namun semua tetap gembira

Di turunan ini sebagian dari kami memang masih belum bisa menikmatinya, mungkin masih beradaptasi. Tapi di turunan – turunan berikutnyalah kami semua bisa sepenuhnya menikmati sajian trek menurun ini. Setelah menyeberangi sebuah sungai kecil sampailah kami di sebuah turunan panjang yang cukup landai, bebas monorail dan cukup lebar pula, kurang lebih 1m lebarnya. Di sinilah kami benar – benar bersenang – senang mengendarai sepeda yang melaju kencang, melibas belokan – belokan yang membentuk berm – berm  alami, juga melakukan jump  di dropoff yang juga terbentuk secara alami. Tidak terasa sampailah kami di sebuah persimpangan, ini adalah titik awal dari trek Kertamanah  – Bojongwaru yang sudah pernah saya bahas sebelumnya. Jadi mulai dari sini kami akan menyusuri trek Kertamanah  – Bojongwaru, yang masih dihiasi turunan – turunan menantang dan mengasyikkan meskipun di beberapa bagian ada dihiasi tanjakan – tanjakan. Namun karena pertimbangan waktu yang sudah beranjak sore (sekitar pukul 15.30 kami tiba di persimpangan ini) maka diputuskanlah kami akan menyusuri separuh atau ½ bagian dari trek Kertamanah  – Bojongwaru ini dan akan mengambil titik finish di Makam Belanda Gerard Alfred Cup kemudian turun menuju kampung Cinyiruan.

Kembali kami mengayuh pedal mengarah ke timur menuju turunan di sebuah lembah, dan satu per satu sepeda meluncur turun menuju ujung turunan yang berupa sungai kecil, dan seperti biasa, sebuah turunan di lembah yang diakhiri sebuah sungai, pastilah kita akan berhadapan dengan tanjakan, begitu pula di sini, kami sekarang berhadapan dengan sebuah tanjakan yang akan membawa kami menuju jalan aspal untuk kemudian nanti kembali masuk ke singel trek “walungan saat”. Di persimpangan tadi kami berada di ketinggian ±1550 mdpl, dan kami akan menyusuri singel trek disambung dengan jalan aspal menanjak ini menuju ketinggian ±1750 mdpl, untuk kemudian turun lagi ke kampung cinyiruan di ketinggian ±1500 mdpl. Lumayan setelah berjibaku dengan tanjakan yang cukup melelahkan ini kami akan mendapatkan bonus turunan panjang di trek “walungan saat” sampai ke makam Mr. Cup. Tiba di persimpangan menuju trek “walungan saat” kembali kami beristirahat mengatur nafas sekaligus menunggu teman – teman yang masih berjuang mengayuh pedalnya menuju ke sini. Di sini kami beristirahat sambil menikmati pemandangan perkebunan teh yang menakjubkan, cukup untuk sedikit mengembalikan stamina. Setelah regrouping kami pun satu per satu mulai menuruni trek “walungan saat” yang diawali dengan “pumping track” atau trek yang berupa gundukan – gundukan kecil, enak sekali melewatinya, apalagi dengan sepeda yang bersuspensi mumpuni. Selepas ini singel trek berubah sedikit mulus dengan hiasan 1 belokan tajam membentuk berm, nikmat sekali melewati turunan berbelok ini, dan setelah ini barulah kami melewati singel trek yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan sungai kering, banyak batu – batu besar juga cerukan – cerukan dalam, karena itulah trek ini dinamai “walungan saat” yang dalam bahasa indonesia berarti sungai yang kering. Dari sini disambung kembali dengan turunan yang cukup landai dan agak lebar dihiasi rerumputan yang merupakan sajian penutup dari trip kali ini, di sini kami  memacu sepeda sambil tetap waspada dan konsentrasi karena di beberapa bagian terdapat batu – batu lumayan besar yang tertutup rerumputan.


Akhirnya sekitar pukul 16.30 sore sampailah kami di makam belanda Mr. Cup, dan setelah semua berkumpul kami pun masuk ke jalan makadam menurun menuju kampung Cinyiruan. Ada sedikit rasa penasaran karena masih banyak turunan menantang apabila kami melanjutkan trip ini hingga kampung Bojongwaru. Tapi tidak apa – apa, karena kami sudah berencana akan mencoba sekali lagi trip ini, start  dari Artavella dan  finish bukan di Bojongwaru pangalengan, melainkan lebih jauh dari itu, treknya akan diperpanjang hingga menuju Datar Mala dan finish di Cikalong kecamatan Cimaung. Sambil mengayuh sepeda semua pengalaman dan keindahan yang tadi sudah dilewati terus terbayang di benak di fikiran masing – masing.  Dan rencana trip selanjutnya seakan terpatri di hati kami ketika sepeda – sepeda kami meluncur turun menyusuri jalan aspal perkebunan Kertamanah menuju jalan raya Pangalengan yang mengantar kami pulang kembali menuju Bandung. 

MENCICIPI PEDASNYA TANJAKAN – TANJAKAN TREK UPHILL SOREANG – PUNCAK MULYA


Satu lagi trek uphill yang cukup menantang bisa dijumpai di kawasan selatan Bandung, tepatnya di daerah Soreang, yaitu trek Soreang - Puncak Mulya. Berada di sebelah barat kota kecamatan Soreang, kampung Puncak Mulya secara administratif masuk ke kecamatan Kutawaringin. Rute jalur ini mudah ditemui karena titik start-nya dimulai dari kampung Leuwi Munding yang lokasinya tepat berada di belakang Alun – Alun Soreang. Panjang trek Puncak Mulya ini sekitar 6 km dengan dihiasi beberapa tanjakan curam yang cukup menantang untuk ditaklukkan oleh para goweser uphiller/ pecinta tanjakan. Namun tingkat kesulitan di trek ini masih lebih ringan apabila dibandingkan dengan trek Leuweung Datar yang memang memiliki tanjakan lebih banyak, lebih curam dan jarak yang lebih jauh sampai ke titik tertingginya, sehingga ketenaran trek Puncak Mulya ini dengan sendirinya berada di bawah trek Leuweung Datar yang sudah masuk kategori trek uphill legendaris bersanding dengan trek Tanjakan Monteng Majalaya-Kamojang. Tapi mengingat lokasi dan jaraknya yang relatif dekat dengan pusat kota Soreang, juga jarak treknya yang tidak begitu jauh namun dihiasi tanjakan – tanjakan yang cukup menantang membuat trek ini juga cukup banyak didatangi goweser pecinta uphill dan rasanya layak juga untuk dicoba. Dan jadilah saya bersama 3 orang teman mencoba untuk merasakan juga bagaimana pedasnya tanjakan di trek Soreang – Puncak Mulya ini.

Pukul 8 pagi kami sudah berada di Alun – Alun Soreang, sambil mempersiapkan bekal cemilan dan air minum untuk bekal selama perjalanan kami bertemu dan mengobrol dengan goweser – goweser lain yang juga berkumpul di sini, yang memang jadi titik kumpul bagi goweser yang akan melakukan perjalanan seperti ke arah Ciwidey, Buper Andes - Nangerang, dan tentu saja ke kampung Puncak Mulya. Dari ngobrol – ngobrol tersebut didapat informasi bahwa dari kampung Puncak Mulya ternyata perjalanan bisa dilanjutkan menuju kecamatan Cililin atau Situwangi kecamatan Cihampelas kabupaten Bandung Barat dengan melalui daerah Mukapayung dan Walahir. Atau bisa juga dilanjutkan menuju Ciwidey dengan melalui daerah Gunung Padang yang cukup dikenal di kalangan para peziarah, atau orang yang tengah “menginginkan sesuatu”. Bisa juga dilanjutkan menuju Buper Andes dan Sadu dengan melalui kampung Cilame atau yang terdekat ke daerah Pasir Angin yang berada di kaki Gunung Singa Leuwi Munding. Dan kami yang baru pertama kali menjajal trek ini memutuskan untuk turun menuju Cilame saja, tepatnya menuju kampung Cilame Tengah, dan dilanjutkan menyusuri jalan desa dan saluran irigasi kembali ke kampung Leuwi Munding sebagai titik finish dengan alasan ketidaktahuan kami akan estimasi waktu yang dibutuhkan apabila turun ke Cililin atau Ciwidey, sedangkan waktu gowes kami terbatas hanya sampai tengah hari.

Setelah berpamitan kepada goweser – goweser lain, tepat pukul 09.00 kami bergerak menuju kampung Leuwi Munding, pagi yang segar dan tidak terlalu panas mengiringi perjalanan kami. Setelah melewati jembatan Sungai Ciwidey jalan menjadi sedikit menanjak, terus menuju jembatan di saluran irigasi dan berakhir di atas saluran irigasi, “tanjakan selamat datang” ini cukup membuat detak jantung menjadi lebih cepat, lumayan sebagai pemanasan. Dari ujung tanjakan perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri jalan beraspal mulus dan berhawa sejuk karena di kiri kanan kami dipayungi rerimbunan pohon – pohon bambu. Karena kebetulan saat itu adalah hari Minggu, kami pun berpapasan dengan beberapa rombongan yang akan hiking ke Gunung Singa melalui kampung Pasir Angin. Ya, Gunung Singa di daerah Leuwi Munding ini memang menjadi salah satu lokasi favorit untuk melakukan kegiatan hiking, dan dapat menikmati pemandangan kota Soreang, Bandung dan sekitarnya ketika tiba di puncaknya. 15 menit berlalu sampailah kami di sebuah pertigaan. Berbelok ke kiri menuju ke arah barat adalah tujuan kami, menuju kampung Puncak Mulya, sedangkan lurus ke arah utara akan membawa kita menuju kampung Sinday, Jatisari, Stadion Si Jalak Harupat kecamatan Kutawaringin dan sekitarnya.

Yang pertama harus dihadapi ketika kami berbelok ke arah kampung Puncak Mulya adalah jalan menanjak dengan kondisi aspal yang buruk, sebagian besar aspal di jalan ini sudah habis terkikis dan hanya menyisakan kerikil – kerikil lepas. Kami lumayan dibuat ngos – ngosan, melewati jalan menanjak dengan kondisi jalan penuh kerikil ini. Namun selepas tanjakan ini kondisi jalan mulai membaik dan kami mendapatkan bonus jalan mendatar cukup panjang ditambah sebuah turunan sebelum menuju tanjakan berikutnya. Dari pertigaan sampai ke tanjakan yang kami akan kami hadapi berikutnya ini posisinya berada di sisi utara Gunung Singa, kemudian kami bergerak menuju ke sisi baratnya, sehingga mulai dari ujung tanjakan di depan sampai ke kampung Puncak Mulya posisi kami jadi membelakangi Gunung Singa, ini membuat setiap istirahat dan melirik ke arah timur selalu pemandangan Gunung Singa dan kota Soreang selalu menemani dan menjadi penghibur kami. Tanjakan berikutnya tidak begitu panjang dan relatif masih landai, namun dihiasi sebuah belokan, ini yang membuatnya menjadi menarik. Akselerasi jadi sedikit berkurang karena harus berbelok, hasilnya selepas belokan gowesan harus lebih di-push untuk mengejar akselerasi yang tadi sempat berkurang, dan meskipun tanjakan ini bisa dilewati dengan lancar namun tetap membuat nafas menjadi semakin ngos – ngosan.  Jalan kembali datar, lumayan sekitar 8 menit menikmati jalan mendatar ini, kami bertemu kembali dengan tanjakan landai, dengan karakteristik lurus, kembali tanjakan ini dilewati dengan lancar, tapi betis mulai terasa panas dan gowesan sudah mulai terasa memberat, tidak terasa sudah hampir 2 km kami menyusuri jalur ini, pantas saja betis dan dengkul ini sudah mulai sedikit overheat.  

Hanya 5 menit berlalu di jalan mendatar, tibalah kami di sebuah tanjakan lagi, kali ini lumayan curam dan panjang. Di kiri kami berdiri anggun Gunung Aul dengan 2 puncaknya yang berhadapan, gunung ini terlihat gersang, jarang pepohonan, berbeda jauh dengan Gunung Kutawaringin di sisi kanan kami, gunung ini hijau dan bervegetasi lebat. Di kejauhan terlihat seorang pengendara motor yang berboncengan tengah berjuang melewati tanjakan ini namun gagal, motornya menyerah tidak sanggup melewatinya, akhirnya sang penumpang harus rela berjalan menuntaskan tanjakan tersebut. Kami sedikit gugup, sebegitu beratnya kah tanjakan ini sehingga motorpun harus menyerah di tengahnya?? Satu per satu sepeda melaju mulai mendaki tanjakan ini, selepas jembatan di awal tanjakan betis mulai menegang, namun kaki masih bisa menoleransi kayuhan, sepeda masih bisa melaju meskipun sedikit merayap. Memasuki pertengahan tanjakan gowesan terasa semakin berat, dan di depan ada sedikit jalan bergelombang, inilah yang menyebabkan motor tadi menyerah rupanya, dan memang ketika sepeda menginjak jalan yang bergelombang ini, kayuhan yang tadi sudah dimaksimalkan pun seakan tidak cukup untuk bisa melaluinya, berat sekali memang. Satu per satu kami berhasil melewati tanjakan ini, dan kami pun beristirahat sejenak di bawah rerimbunan bambu di ujung tanjakan untuk mengatur nafas yang tersengal. Di sini rupanya ada juga 3 orang goweser lain yang sama – sama sedang beristirahat setelah melewati tanjakan ini, setelah sejenak mengobrol rombongan goweser tadi akhirnya melanjutkan perjalanan duluan. 10 menit kami beristirahat di ujung tanjakan ini, setengah jalan lagi untuk mencapai kampung puncak mulya, waktu sudah menunjukkan pukul 09.55, ketinggian kami saat itu berada di ± 1025 mdpl, lumayan juga elevasinya, ketinggian saat start di kampung leuwi munding adalah ± 785 mdpl, dan saat ini kami sudah melalui separuh dari keseluruhan perjalanan menuju kampung Puncak Mulya. 

Sepeda kami pun melaju kembali menyongsong tanjakan – tanjakan yang entah seperti apa di karakteristiknya di depan sana. Selepas tanjakan ini rupanya kami tidak lagi menemui bonus jalan mendatar, yang ada hanyalah jalan berkelok – kelok, tidak terlihat menanjak namun ketika melewatinya betis terasa menegang dan nafas terengah – engah, cukup panjang juga jalan berkelok ini dan di ujungnya ada sebuah jembatan, kemudian jalan berbelok, baru kemudian setelah jembatan ini kami bertemu lagi dengan sebuah tanjakan lumayan curam. Karakteristik jalur yang seperti ini mengingatkan saya ke trek uphill di Bandung Timur yang cukup terkenal yaitu Ujung Berung -  Palintang, jalur ini mirip sekali dengan jalur selepas lapangan bola Palintang menuju titik tertingginya di pertigaan menuju Cibodas, Palasari 2 dan jalur Genteng. Kembali kami beristirahat di ujung tanjakan ini sambil menyaksikan pemandangan Gunung Singa dan kota Soreang di hadapan kami. Di sisi utara terlihat jalan berkelok – kelok yang tadi kami lewati, pantas saja kami terengah – engah, dari sini baru terlihat menanjaknya jalan yang baru saja kami lewati itu. Tidak terlalu lama kami berhenti di sini karena cuaca sudah beranjak panas dan di sini pun cukup gersang, tidak ada pohon – pohon peneduh. Namun di hadapan kami kembali sebuah tanjakan menanti, pendek namun cukup curam, dengan susah payah kami melewatinya, beruntung dari sini kami kembali dipayungi pepohonan sehingga kami tidak terlalu menderita.

Dan tantangan pun berlanjut, selepas ini kembali jalan menanjak, lebih curam dari sebelumnya, kemudian jalan berbelok patah, mirip sekali karakteristiknya dengan tanjakan Omen di trek Leweung datar, hanya tingkat kecuraman dan panjang tanjakannya saja yang berbeda, tanjakan ini lebih pendek dan relatif lebih landai apabila dibandingkan dengan tanjakan Omen. Lutut semakin gemetar, betis semakin menegang dan nafas tersengal - sengal ketika kami melewati tanjakan ini. Seperti halnya ketika melewati tanjakan Omen, di tanjakan ini pun kami berhenti beristirahat di ujung belokan patah di tengah – tengah tanjakan. Sepertinya spot seperti ini memang sangat cocok untuk berhenti beristirahat sambil memperhatikan para goweser lain berjuang menapakinya, seperti yang biasa dijumpai di tanjakan Omen dan tanjakan Monteng Kamojang. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10.25 ketika kami beristirahat di sini, dan ternyata jarak yang kami tempuh yang hanya sekitar 600 m ini harus dilalui selama 30 menit lebih.

Perjalanan menuju kampung Puncak Mulya sudah mendekati akhir, tanjakan ini adalah tanjakan terakhir sebelum memasuki kampung Puncak Mulya. Setelah 5 menit beristirahat kami melanjutkan perjalanan, dan tidak lama kemudian sampailah kami di kampung Puncak Mulya, dengan ciri yang paling khas ketika kita menginjakkan di kampung ini adalah plang SDN PUNCAK MULYA yang menjadi penanda kalau perjalanan menuju kampung Puncak Mulya ini berakhir. Kami tiba di sini sekitar pukul 10.45, berarti kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam 45 menit untuk mencapai kampung yang berketinggian ± 1100 mdpl ini dari Soreang, namun kami bisa memastikan bagi para goweser pencinta uphill jarak 6 km dari Soreang menuju kampung Puncak Mulya ini tidak akan memakan waktu selama kami, mungkin ada yang bisa mencapainya kurang dari 1 jam saja. Dan di sebuah warung di dekat pertigaan kami beristirahat sambil sedikit bertanya – tanya jalur yang akan kami tempuh pada saat pulang nanti.

Dari pertigaan di dekat warung ini jalur yang mengarah ke utara adalah jalur yang menuju kecamatan Cililin atau ke Situwangi kecamatan Cihampelas dengan melewati daerah Mukapayung dan Walahir yang sempat dilanda longsor besar beberapa waktu ke belakang. Sedangkan jalur yang mengarah ke selatan adalah jalur yang menuju Pasir Angin, Cilame dan Buper Andes, atau ke Ciwidey. Dan sesuai dengan kesepakatan awal tadi, kami pun pulang dengan mengambil jalur kampung Cilame Tengah dan menuju kembali ke Leuwi Munding sejauh kurang kebih 7.5 km. Setelah kembali berhadapan dengan beberapa tanjakan, akhirnya kami sepenuhnya meluncur menyusuri jalan menurun menuju kampung Cilame Tengah, dilanjutkan dengan menyusuri jalan ke arah utara di tengah – tengah area pesawahan dan saluran irigasi menuju kembali ke kampung Leuwi Munding sebagai titik akhir perjalanan kami mencicipi pedasnya trek uphill Soreang - Puncak Mulya ini.