Showing posts with label uphill. Show all posts
Showing posts with label uphill. Show all posts

Wednesday, February 21, 2018

TREK UPHILL CANGKRING – GENTONG , TREK EKSOTIS YANG TERSEMBUNYI DI PERBUKITAN BALEENDAH


Setelah sekian lama berkutat dengan trek – trek bersepeda Bandung Selatan yang berada di seputaran Soreang dan Pangalengan, saya seakan melupakan potensi jalur bersepeda lainnya yang masih banyak terdapat di Bandung Selatan. Salah satu trek bersepeda yang cukup menarik untuk dikunjungi adalah trek Cangkring  - Gentong  yang berada di daerah Jelekong, sekitar 5 km arah timur Dayeuhkolot, di jalan raya Laswi/ Baleendah – Ciparay. Trek ini kalah terkenal dibandingkan dengan trek Ciparay – Situ Cisanti, Pangalengan atau Monteng – Kamojang yang sudah melegenda di kalangan goweser. Tapi dengan ketidakterkenalannya bukan berarti trek Cangkring ini tidak cukup menantang, trek ini saya yakin bisa memuaskan hasrat para goweser pecinta uphill, meskipun secara level memang trek ini tidak bisa dibandingkan dengan trek – trek legendaris tadi, tapi saya kira trek ini layak juga untuk dimasukkan dalam list jalur gowes di seputaran Bandung. Level tanjakannya berada di antara Warung Bandrek Bandung Utara dan Kiara Payung di kawasan timur Bandung. Tidak begitu berat memang, tapi tetap layak juga untuk dimasukkan ke dalam agenda para goweser uphill,  atau bagi para goweser Bandung Selatan dan sekitarnya yang sudah merasa bosan atau merasa kejauhan bila harus menjajal trek di utara atau timur Bandung.


Seperti halnya trek Warung Bandrek, Caringin Tilu, Palintang, Batukuda atau Kiara Payung, trek Cangkring  inipun bisa ditempuh dalam waktu yang tidak begitu lama, hanya dengan 4 – 5 jam kita sudah bisa menjelajahi trek ini. Satu kelebihan dari trek ini adalah akses menuju lokasi yang tidak begitu ramai, berbeda dengan kalau kita ingin bersepeda di kawasan yang tadi saya sebutkan di atas. Pun ketika kita bersepeda di treknya, treknya relatif sepi sehingga kita bisa menikmati setiap gowesan kita. Titik start trek ini ada di tiga titik di sepanjang jalan raya Laswi/ Baleendah – Ciparay, yaitu jalan desa Jelekong, jalan Cangkring  dan yang terakhir adalah jalan TPA (tempat pembuangan akhir) Cangkring yang berada sekitar 1 km arah timur Jelekong. Jalur Jelekong  menyatu dengan Cangkring di sebuah pertigaan tepat sebelum jalan menanjak menuju Gentong, tepatnya di depan TPU Cangkring, dan akan menyatu dengan jalur TPA di sebuah persimpangan di kampung Gentong  (±930 mdpl) yang merupakan titik tertinggi dari trek ini.

Terdapat 2 pilihan variasi trek yang ditawarkan jalur ini. Bagi goweser yang ingin mengayuh sepeda dengan santai, sambil menikmati suasana dan pemandangan sekitar, menikmati setiap kayuhan menyusuri tanjakan – tanjakan yang tidak begitu curam dan beraspal mulus, jalur TPA Cangkring  bisa dijadikan pilihan, plus kita bisa mendapatkan “bonus” dengan mengunjungi Curug Cangkring  yang lokasinya berada di tengah – tengah perjalanan menuju Gentong . Sedang bagi goweser yang lebih memilih trek yang lebih menantang dengan tanjakan yang lebih curam ditambah kondisi jalan yang tidak begitu bagus bisa mengambil titik start dari pertigaan Cangkring  atau Jelekong . 

Untuk trip kali ini saya memilih untuk gowes menyusuri jalur TPA dan pulang ke jalur Jelekong, keseluruhan trip ini dari kediaman saya di Margahayu Raya sampai finish kembali ke rumah memakan waktu sekitar 4 jam, cukup singkat, sangat cocok bagi para goweser yang memiliki waktu gowes yang sempit. Sebenarnya dari pertigaan Gentong, perjalanan masih bisa dilanjutkan menuju Arjasari, dan dari sana bisa mengambil finish di Banjaran atau Ciparay. Dari pertigaan Jelekong, di dekat Padepokan wayang Giriharja, sepeda diarahkan menuju timur sekitar 1 km, ke arah pertigaan jalan TPA Cangkring, kemudian belok ke kanan, dan dari sana kemudian sepeda pun mulai menapaki jalan TPA Cangkring. Di awal perjalanan saya belum menemui tanjakan – tanjakan, jalur masih datar, lumayan untuk sekedar pemanasan dan mempersiapkan tubuh kita untuk menghadapi tanjakan di depan sana. Setelah 5 menit gowes, selepas Tugu Selamat Datang di kampung Cilayung barulah saya bertemu dengan satu tanjakan lumayan panjang, namun masih cukup landai. Tanjakan ini berujung di pertigaan menuju Pengolahan Sampah TPA Cangkring , tanjakan selamat datang ini cukup membuat dengkul menjadi panas, keringat mulai bercucuran dan nafas menjadi sedikit lebih cepat. Tiba di ujung tanjakan, saya berhenti sejenak sambil menunggu teman yang masih berjibaku di tanjakan pertama tadi, di depan sana terlihat 1 lagi tanjakan landai tapi cukup panjang, bagus untuk melatih ritme putaran kayuhan (cadence) dan melatih daya tahan/ endurance bersepeda kita. Membutuhkan waktu sekitar 10 menit dengan gowesan santai untuk mencapai ujung tanjakan ini, dan di ujung tanjakan sambil beristirahat kita bisa melemparkan pandangan kita ke arah utara, menyaksikan hamparan persawahan dan bangunan – bangunan terhampar. 


View kota Bandung dari ujung tanjakan TPA

Sekitar 50 meter selepas tanjakan ini bertemulah saya dengan sebuah persimpangan, lurus menuju Gentong, ke kiri menuju komplek perumahan Delima Indah dan ke kanan akan membawa kita menuju Curug Cangkring , sayang rasanya bila gowes ke sini tanpa mengunjunginya, akhirnya saya membawa sepeda berbelok ke kanan menuju jalan menurun menuju Curug Cangkring. Tidak terlalu jauh ternyata untuk menuju ke lokasi curug, sekitar 100 m dari persimpangan jalan TPA, kemudian kita berbelok ke sebuah gang di kanan jalan yang berada tepat di samping sebuah warung. Kondisi jalan berubah menjadi singel trek menurun (sebuah kondisi yang khas/ tipikal apabila kita akan mengunjungi sebuah curug, kita akan selalu menemui turunan – turunan untuk tiba di lokasi curugnya). Dan setelah sekitar 25 m berjalan, sepeda sudah tidak mungkin lagi untuk dibawa, akhirnya sepeda disimpan di satu tempat yang posisinya berada tepat di atas curug, dan kita masih harus menuruni lagi singel trek ini untuk mencapai curugnya. Sekitar 15 meter saya dan teman berjalan menuruninya, akhirnya sampai juga kami di Curug Cangkring  (796 mdpl). Curugnya lumayan tinggi, sekitar 15 m dan terdiri dari 2 buah curug, sekarang kami berada di depan curug pertama, dan curug yang kedua berada di bawah kami. Sayang saat itu debit airnya sangat sedikit, jadi lebih terlihat sebagai sebuah tebing saja. 15 menit kami habiskan waktu untuk beristirahat dan menikmati suasana curug, dan kami pun kembali menuju tempat sepeda tersimpan dan kembali menuju jalan TPA.



Curug Cangkring


Sampai di persimpangan jalan TPA – Curug Cangkring , sepeda kemudian saya arahkan ke selatan menuju Gentong. Kondisi jalan masih beraspal mulus sampai di mulut komplek perumahan Bukit Griya Indah, barulah selepas komplek perumahan tersebut jalan hotmix berubah menjadi aspal curah, dan mulai dari sini juga tanjakan menjadi lebih curam. Dari titik ini jalur sudah mulai mengarah ke barat, berarti tidak lama lagi saya akan sampai ke pertigaan Gentong. Tapi setelah sekitar 10 menit kita mengayuh pedal, di sepanjang kampung Panyawian, kampung terakhir sebelum menuju perempatan Gentong, jalan aspal kondisinya semakin buruk dan di beberapa titik tertutup tanah merah longsoran dari tebing di sekitarnya dan dari limpasan parit – parit yang membawa material tanah merah membuat jalan menjadi licin, apalagi pada malam sebelumnya daerah selatan diguyur hujan yang cukup lebat, sulit mengayuh sepeda di jalan yang licin seperti ini. Dan di satu tanjakan terakhir saya menyerah dan memutuskan untuk TTB saja, ban belakang yang sudah sedikit gundul membuat roda belakang kehilangan traksi dan selalu selip ketika pedal dikayuh. 






Di ujung tanjakan yang berada di sebuah punggungan, kami beristirahat sambil menikmati pemandangan ke arah utara. Sayang saat itu cuaca sedikit berkabut sehingga pandangan tidak bisa lepas menikmati seluruh kota Bandung dan jejeran pegunungan di sebelah utara. Di sini aspal sudah hampir seluruhnya hilang, yang tersisa hanyalah jalan makadam berhias tanah merah, di sini terdapat juga pertigaan yang menuju kampung Rancakole kecamatan Ciparay, trek berikutnya yang harus saya datangi. Dan setelah sepeda melaju sekitar 50 meter mengarah ke barat melalui jalan yang hancur itulah kami akhirnya sampai di persimpangan Gentong - Cangkring  (930 mdpl), di sana terdapat juga sebuah warung, kita bisa beristirahat sambil menikmati cemilan tradisional seperti gorengan dan lontong, cukup untuk mengganjal perut sebelum kita melanjutkan perjalanan pulang. 


View kota Bandung dari titik tertinggi jalur ini

Perempatan Gentong

Persimpangan ini adalah titik tertinggi dari trek uphill Cangkring  – Jelekong, arah timur adalah arah TPA arah yang tadi saya tempuh, arah barat menuju kampung Cipeuteuy – balai desa Pinggirsari dan tembus ke jalan raya Arjasari - Banjaran. Ke arah utara menuju ke kampung Jelekong kemudian menuju jalan raya Laswi, sedangkan ke arah selatan menuju jalan raya Arjasari – Ciparay. Bagi yang masih ingin melanjutkan acara gowesnya bisa mengambil arah ke selatan atau ke barat yang keduanya akan menuju jalan raya Ciparay – Arjasari – Banjaran. Sedang bagi yang ingin menyudahi acara gowesnya bisa mengambil arah utara yang akan membawa kita menuju jalan Laswi/ Baleendah – Ciparay dengan melewati desa Jelekong, daerah tempat lahirnya maestro wayang golek Giriharja, Ki dalang Asep Sunandar Sunarya. Dan di sepanjang jalan desa Jelekong  yang juga merupakan daerah sentra lukisan, sambil gowes kita bisa menyaksikan deretan workshop – workshop lukisan, mungkin ada yang menarik minat kita dan ingin membelinya sekedar untuk buah tangan dari daerah Jelekong  ini, dan jalan desa Jelekong  berakhir di jalan raya Laswi tepat di samping padepokan wayang Giriharja. 

Sedikit saran dari saya, bagi goweser yang ingin mencari trek yang lebih menantang, anda bisa mengambil titik start dari jalan Cangkring , belokannya ada di sebelum pertigaan jalan TPA.  Dari sini tanjakan yang ditemui lebih berat dan curam, meskipun jarak tempuh menuju pertigaan Gentong  lebih dekat dibandingkan dengan jalur TPA. Sedangkan bagi anda yang ingin menggowes sepeda dengan santai sambil refreshing, tanpa harus dikejutkan dengan tanjakan – tanjakan curam, jalur TPA adalah jalur yang cocok bagi anda. Sedangkan untuk pilihan jalur pulang bisa menempuh jalur – jalur yang sudah tadi saya sebutkan di atas. Selamat gowes…..  



Tuesday, February 20, 2018

HAL – HAL YANG PENTING DIPERHATIKAN SEBELUM BERSEPEDA XC

Aktifitas bersepeda seperti juga olahraga luar ruang lainnya tentu saja memiliki beberapa hal yang harus diperhatikan ketika kita akan melakukannya, khususnya yang berkategori XC atau lebih yang akan membawa kita menjelajahi alam dengan segala karakteristiknya, seperti berbagai kondisi jalur yang dihadapi (makadam, singel trek, dsb) ataupun kondisi alamnya itu sendiri yang seperti faktor cuaca. Persiapan yang kita lakukan sebelum kita melakukan aktifitas bersepeda dengan kategori XC atau lebih tidak cukup hanya mengandalkan fisik dan mental saja, tetapi perlengkapan lain yang berhubungan dengan sepeda kita seperti part sepeda cadangan, toolset portabel, atau yang berhubungan dengan fisik kita seperti makanan, minuman, dan yang kita kenakan saat kita bersepeda seperti sarung tangan/ glove, sepatu, kacamata/ google, jas hujan dan body protector. Semuanya dipersiapkan agar kita mendapatkan kenyamanan sekaligus keamanan saat kita menjelajah alam dengan sepeda kita.



Pertama yang akan kita bahas adalah yang berhubungan dengan sepeda sebagai tunggangan kita, resikonya akan fatal bila diabaikan. Yang wajib kita bawa diantaranya adalah :

  1. Ban dalam cadangan dan pompa portabel. Kita tidak akan pernah tahu kapan ban kita tiba-tiba kempes, adakalanya ketika di jalur offroad yang rentan membuat ban bocor ban kita baik-baik saja, tapi ketika dalam perjalanan pulang, di jalan mulus pula, ban tiba-tiba kempes. Atau kita mengalami snake bite yang sering terjadi ketika melalui jalur offroad khususnya jalur yang berbatu atau makadam. Snake bite terjadi ketika ban menginjak batu yang agak tajam atau meruncing dan mengakibatkan ban dalam sepeda bocor dengan bentuk bocoran 2 lubang yang mirip dengan bekas gigitan ular. Ketika hal tersebut terjadi, kita bisa langsung mengganti ban dalam dengan cadangannya dan dapat kembali melanjutkan perjalanan, tanpa harus panik mencari alat penambal ban atau pun tukang tambal ban yang belum tentu ada di jalur yang kita lalui. 
  2. Hanger/ anting RD (Rear derailleur). Ketika kita bersepeda menembus semak-semak atau di jalur yang banyak terdapat potongan ranting atau dahan seperti saat bersepeda di kebun teh, atau ketika kita bersepeda di jalur tanah merah basah dan berlumpur adakalanya ranting, dahan atau lumpur tersebut tiba-tiba masuk dan terbawa roda kita kemudian mengunci RD, sehingga ketika kita tanpa sadar mengayuh sepeda, RD tersebut akan tertarik ke atas dan otomatis akan membengkokkan atau mematahkan hanger yang menjadi adaptor RD ke frame sepeda kita. Bahkan dalam beberapa kasus hal tersebut dapat membuat RD rontok. Memang apabila kita masih cukup beruntung hanger yang bengkok masih bisa diluruskan lagi meskipun cukup sulit mengingat hanger terbuat dari bahan logam yang cukup kuat, dan kalaupun bisa kembali lurus biasanya kerap terjadi masalah dalam proses shifting/ perpindahan giginya. Apabila sudah tidak dapat diperbaiki lagi maka pilihan terakhirnya adalah membuat sepeda kita menjadi single speed dengan mematikan atau mencopot RD dan menempatkan rantai pada satu gigi saja. Konsekuensinya adalah stamina akan cepat terkuras karena kita harus melanjutkan sisa perjalanan dengan hanya menggunakan 1 speed saja. Untuk menghindari hal tersebut terjadi maka sangat penting untuk membawa hanger RD cadangan, bahkan untuk perjalanan yang bermedan berat dan memakan waktu lama disarankan juga untuk membawa RD cadangan.
  3. Pin dan mata rantai cadangan. Setelah kita menempuh jalur basah dan berlumpur biasanya rantai mengering dan terasa menegang sehingga rawan putus. Atau proses perpindahan gigi yang tidak tepat dan kasar ketika kita memindahkan speed terutama pada saat menanjak bisa juga mengakibatkan rantai putus. Bila dalam perjalanan rantai kita putus maka pin dan mata rantai cadangan akan sangat membantu kita.
  4. Brakepad atau kanvas rem, ketika menempuh jalur terutama jalur basah atau berlumpur atau bersepeda di tengah hujan, aktifitas pengereman dalam kondisi basah membuat brakepad kita akan cepat habis. Lumpur atau pasir halus yang menempel di rotor atau rims seakan menjadi ampelas yang akan menggerus brakepad kita. Kita tentu tidak mengharapkan brakepad habis ketika kita masih di tengah perjalanan, oleh karenanya cukup bijaksana apabila kita membawa brakepad cadangan. 
  5. Senter sepeda, persiapan kalau-kalu kita kemalaman di perjalanan. 
  6. Toolset portabel akan berguna kalau ada part sepeda yang longgar, rusak atau perlu diganti di tengah perjalanan.
  7. Pisau lipat, terlihat seperti mengada-ada melengkapi diri dengan pisau lipat ketika bersepeda. Tapi kita tidak pernah bisa memprediksi hal-hal darurat yang mungkin terjadi dan pada saat itu terjadi pisau bisa menjadi penolong kita. Cukup bijaksana bila kita membawanya ketika kita bersepeda.

RD yang rusak terkena hantaman kayu

Proses penggantian ban dalam yg bocor oleh ban dalam cadangan

Yang kedua yang perlu diperhatikan adalah perlengkapan yang berhubungan dengan diri kita sebagai pengendaranya, hal itu adalah : 

  1. Helm sepeda, ini adalah yang paling utama, karena berhubungan langsung dengan keselamatan kita ketika bersepeda.
  2. Kacamata/ google, sangat berguna pada saat sepeda kita menembus semak belukar, kita dapat berkonsentrasi pada jalur yang kita lalui tanpa khawatir mata kita terkena semak-semak atau ranting pohon yang melintang karena mata sudah terlindungi kacamata/ google. Atau pada saat kita terjatuh, kita tidak dapat mengontrol posisi jatuh, setidaknya mata kita sudah terlindungi oleh kacamata yang kita pakai dari kemungkinan terkena atau tergores sesuatu.
  3. Sarung tangan/ glove, fungsinya melindungi jari-jari kita ketika menembus semak belukar. Penggunaan sarung tangan yang model half atau full finger bisa disesuaikan dengan kondisi jalur yang dihadapi. Apabila jalur yang dihadapi banyak melalui semak belukar, ada baiknya kita memakai sarung tangan full finger sehingga dapat lebih maksimal melindungi jari-jari kita dari kemungkinan terkena duri atau ranting-ranting. Disarankan juga untuk memakai pakaian tangan panjang untuk menghindari tangan kita tergores sesuatu. 
  4. Sepatu, ketika kita melalui jalur offoad, akan lebih nyaman dan aman bila kita mengenakan sepatu dibandingkan dengan apabila kita memakai sandal gunung sekalipun.
  5. Body protector, biasanya terdiri dari pelindung siku, dengkul dan tulang kering akan sangat melindungi kita dari kemungkinan cedera ketika kita bersepeda di jalur menurun, atau juga menjadi pelindung tangan dan kaki kita ketika kita menembus semak-semak.
  6. Jas hujan, ketika bersepeda di musim hujan atau di musim yang tidak menentu dan cuaca yang susah untuk diprediksi seperti saat ini, kita sebaiknya tidak meninggalkan jas hujan ketika bersepeda. Dan jas hujan bisa berfungsi juga sebagai penangkal angin atau dingin ketika kita harus melanjutkan perjalanan di malam hari, terutama ketika melalui jalur menurun.
  7. Makanan dan minuman. Tubuh kita membutuhkan pasokan energi dan air yang cukup ketika bersepeda, ketika kita melalui jalur yang jauh dari keramaian seperti di tengah hutan atau perkebunan akan susah mencari warung penjual makanan, dan pada saat stamina kita menurun, bisa mengonsumsi makanan dan minuman yang kita bawa untuk mengembalikan stamina. Untuk makanan ringan disarankan untuk membawa makanan yang bisa mengembalikan energi seperti biskuit, roti, coklat atau pisang, dan untuk minuman saya pribadi menyarankan untuk membawa air mineral saja. Untuk perjalanan yang estimasi waktunya seharian atau fullday trip disarankan untuk membawa nasi sebagai santapan siang kita di tengah perjalanan. 
Tool standar yang bisa dibawa saat bersepeda 


Hal berikutnya yang harus diperhatikan adalah kondisi sepeda kita. Ada baiknya sehari sebelum bersepeda kita mengecek kondisi dan kesiapan sepeda, seperti tekanan angin, rem, setelan drive train dan lain sebagainya secara menyeluruh, karena di luar hal-hal tersebut di atas ada saja kejadian-kejadian yang di luar perkiraan kita, seperti seatpost patah, pedal copot, jari-jari roda putus dan lain sebagainya. Untuk lebih meyakinkan, lebih baik mengecek kondisi sepeda ke bengkel sepeda langganan kita. 

Selanjutnya persiapkan dan rencanakan rute yang akan kita jelajahi. Penting juga bagi kita untuk mengetahui dan memiliki gambaran atau informasi tentang jalur yang akan dijelajahi seperti daerah tempat jalur itu berada, jalan menuju ke jalur tujuan, kondisi jalur, komposisi tanjakan-turunan dan estimasi waktu tempuh. Kita bisa mencari tahu hal tersebut dengan bertanya kepada komunitas-komunitas sepeda yang sudah mengenal jalur yang akan kita jelajahi, atau mungkin dengan mengajak teman yang sudah pernah menjelajahi jalur tersebut. Bagi yang memiliki perangkat GPS bisa mencari tracklog (rekaman data jalur yang dilalui dari suatu trip) yang biasanya mudah didapatkan di dunia maya, kemudian menjelajahi jalur tersebut dengan berpedoman pada tracklog yang sudah didapatkan sebelumnya. Atau bisa juga langsung menjelajahi jalur tersebut dengan berpegang pada perangkat GPS tanpa harus berpedoman pada tracklog yang ada.

Dan setelah segala sesuatunya siap, kita pun siap untuk bersepeda XC menjelajahi alam sekitar. Ketika bersepeda ingatlah untuk selalu menghormati alam dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak pepohonan atau hal-hal lain yang merusak alam sekitar, nikmatilah setiap gowesan kita dan keindahan alam yang tersaji di sekeliling kita. Tetaplah untuk selalu berpegang kepada prinsip dan etika penjelajahan yaitu, "jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan mengambil apapun kecuali foto dan jangan membunuh apapun kecuali waktu". Selamat bersepeda…!!!


Dimuat di HU Pikiran Rakyat edisi 1Juli 2012



Thursday, January 25, 2018

PAKET LENGKAP TRIP GOWES GUNUNG GALUNGUNG TASIKMALAYA

Membaca judul di atas tampak sekilas seperti iklan sebuah trip wisata, namun sedikit uraian berikut akan menjelaskan mengapa saya memakai istilah tersebut untuk judul artikel ini. Kawah Galunggung yang berada di barat kota Tasikmalaya saat ini sudah menjadi salah satu destinasi wisata andalan, pesona alam kawah Galunggung, air terjun, dan pemandian air panas selalu ramai dikunjungi wisatawan. Begitupun bagi pencinta gowes, kawasan wisata Galunggung menawarkan sensasi bersepeda yang bisa memuaskan hasrat para goweser, baik untuk para goweser pencinta uphill/ tanjakan maupun para goweser pencinta turunan dan penggemar downhill. Bagi pencinta bike-camping/ Gemboler disini juga sudah tersedia beberapa spot camping ground yang dapat digunakan untuk bermalam. Bukan hanya di bagian atas/ kaldera, para goweser juga bisa menikmati sajian wisata di kawasan Cipanas Galunggung yang menawarkan kolam – kolam pemandian maupun kamar rendam air panas alami untuk merelaksasi otot yang tegang setelah mengayuh sepeda. Selain itu juga warung – warung yang berada di sekitar kolam banyak menawarkan kudapan, dari mulai gorengan sampai liwet dan nasi timbel yang patut dicoba. Oleh karena itulah saya rasa tidak berlebihan apabila saya menyebut gowes ke kawasan ini dengan istilah trip gowes paket lengkap.



Kawasan wisata kawah Galunggung berada di ketinggian ± 1150 mdpl, sedangkan parkir atas/ tangga menuju kaldera sebagai titik finish para goweser berada di ketinggian ±1070 mdpl. kota Tasikmalaya sendiri berada di ketinggian ±400 mdpl, dengan elevasi ±700 m dapat dipastikan jalur obyek wisata Galunggung menjadi surga bagi para goweser pencinta uphill. Tidak hanya itu, di sana juga sudah tersedia jalur Downhill yang cukup menarik dengan beberapa obstacle yang sangat menantang untuk ditaklukkan. Jalur downhill  sepanjang kira - kira 1,2 km ini bisa juga digunakan untuk para goweser dengan sepeda standar XC karena di beberapa obstacle sudah diberi “chicken way” sehingga yang tidak ingin melewati rintangan yang dibuat untuk para goweser DH bisa menggunakan chicken way yang berada di sampingnya.

Saya berkesempatan untuk gowes mencicipi jalur Galunggung ini dengan naik memakai jalur normal dan turun menggunakan jalur DH hingga ujungnya di gerbang 2. Jarak dari kediaman saya di Singaparna sekitar 15.7 km hingga ke parkiran atas. Saya berangkat bersama teman yang sengaja gowes dari Bandung ke Tasikmalaya untuk liburan tahun baru. Tepat pukul 08.00 kami mulai mengayuh pedal menyusuri jalan ber-hotmix mulus menuju Tawang Banteng, di sepanjang jalan sawah terhampar luas sehingga membuat gowes menjadi lebih mengasyikkan. Tak lama kemudian kami tiba di pertigaan Sukaratu – Cipanas, lalu lintas terasa ramai, sebagian besar tampaknya mengarah ke obyek wisata Galunggung. Pukul 08.20 kami tiba di perempatan jalan raya Mangin – Cipanas, di sini banyak goweser yang tengah beristirahat sebelum memasuki jalur menanjak menuju Galunggung.


Lepas dari perempatan Mangin jalan mulai menanjak sedang tapi cukup membuat napas ngos – ngosan ternyata, dan 2.5 km kemudian barulah kami bertemu tanjakan yang membuat napas semakin terengah – engah dan keringat bercucuran. Akhirnya pukul 08.35 kami sampai juga di gerbang 1 Galunggung/ gerbang Cipanas (±733 mdpl). Berarti kami sudah menempuh jarak sekitar 9.5 km, di sini sudah terdapat banyak goweser tiba lebih dulu. Kendaraan roda 2 maupun roda 4 semakin banyak berdatangan karena hari itu adalah hari terakhir di tahun 2017 yang bertepatan juga dengan libur panjang akhir tahun dan tahun baru.




Saya dan teman bergabung dengan 2 orang goweser dari kota Tasikmalaya, sehingga kami melanjutkan trip ini berempat. Di hadapan sudah menanti tanjakan curam, pukul 09.25 sepeda mulai bergerak menuju tanjakan pertama, ternyata memang berat tanjakan ini, berbelok kemudian masih disusul tanjakan berikutnya, meskipun tidak securam tanjakan pertama tapi tenaga sudah kadung terkuras di tanjakan sebelumnya. Hampir 15 menit kami berjibaku melahap tanjakan sepanjang hampir 500 m ini. Masih ada tanjakan - tanjakan lagi untuk mencapai gerbang 2 (±921 mdpl), kami istirahat sejenak untuk mengatur napas dan melemaskan otot kaki.




Pedal kembali dikayuh, masih ada sekitar 1,2 km lagi untuk mencapai gerbang 2. Gowesan semakin terasa berat, akhirnya pukul 10.05 kami tiba di gerbang 2, disini kami bertemu dengan para goweser DH yang akan mencicipi jalur DH Galunggung. Sambil beristirahat kami berfoto – foto sejenak di plang “Galunggung” yang tepat berada di pertigaan menuju parkir barat dan parkir timur kaldera Galunggung. Masih ada sekitar 1 km lagi untuk menuju titik finish di parkiran atas/ tangga kaldera.




Kembali sepedah melaju di jalanan menanjak, kayuhan semakin terasa berat saja, saya 3 kali berhenti beristirahat untuk melewati 2 tanjakan terakhir ini, teman saya sudah lebih dahulu finish dan setelah berjuang hampir 50 menit akhirnya pukul 11 tiba juga di parkiran atas (±1070 mdpl). Kami beristirahat sambil menikmati pemandangan sekitar yang sangat memanjakan mata, ditemani teh manis dan beberapa potong gorengan.







Setelah puas beristirahat kami beranjak menuju sebelah timur parkiran. Single track bertipikal pasir sudah menanti, pasti akan sangat menyulitkan untuk mengendalikan sepeda, khususnya saya yang terbiasa bersepeda offroad di jalur bertipikal tanah. Beberapa goweser downhill sudah lebih dahulu meluncur, saya yang memakai sepeda XC dan “buta jalur” sama sekali hanya bermodal nekad berusaha untuk mengendalikan sepeda di jalur berpasir yang sangat licin itu. Beberapa obstacle drop off rendah dari tumpukan karung lancar terlewati, namun ketika harus berhadapan dengan jembatan bambu dengan drop off lebih dari 1m saya memilih untuk TTB melewatinya. Ada beberapa obstacle jembatan bambu seperti ini dengan ketinggian drop off bervariasi. Semakin ke bawah pasir licin semakin berkurang membuat saya semakin nyaman melewatinya. Namun naas di ujung jalur akibat “buta jalur” tadi saya tidak mengantisipasi sebuah drop off  gundukan karung yang ternyata di baliknya terdapat parit selebar 50cm lebih, kadung kaget saya menekan rem dan akhirnya saya terjungkal karena roda depan nyangkut di ujung parit, sayang sekali setelah lulus melewati hampir keseluruhan jalur DH ini, saya harus menyerah di ujung yang hanya berjarak 15 m saja dari titik finish.  




Beruntung saya tidak mendapat cedera berarti, hanya kaki lecet terhantam pedal dan muka sedikit perih akibat mencium jalur berpasir. Sejenak saya beristirahat sambil menenangkan diri. Akhirnya pada pukul 13.20 setelah berpamitan dengan teman – teman goweser DH, kami semua meluncur meninggalkan gerbang 2 menuju plang “Galunggung” di dekat gerbang 1 untuk berfoto sekedar untuk kenang – kenangan.  Setelah puas berfoto sepeda kembali meluncur menuju kota Tasikmalaya.


Elevation profile dan tracklog

Dimuat di HU Pikiran Rakyat edisi Minggu 11 Maret 2018




Saturday, March 4, 2017

MENGAGUMI KEMEGAHAN CURUG CIPARAY DI KAKI GUNUNG GALUNGGUNG

Destinasi gowes saya berikutnya di Tasikmalaya adalah Curug Ciparay, terletak di lereng barat gunung Galunggung, tepatnya di kampung Parentas desa Cidugaleun kecamatan Cigalontang kabupaten Tasikmalaya, berjarak sekitar 15 km dari ibu kota Tasikmalaya, Singaparna. Lokasi wanawisata air terjun kembar ini berada di ketinggian 860 mdpl, masuk ke dalam wilayah BKPH Singaparna dan KPH Tasikmalaya. Curug pertama memiliki debit air sangat besar sedang curug yang satu lagi memiliki debit tidak begitu besar sehingga kita bisa mendekat hingga ke kolam penampungan airnya. 

Curug Ciparay

Awal Desember 2016 trip ini direalisasikan. Pukul 08 pagi sepeda mulai meluncur  menuju alun – alun Singaparna, seperti pada gowes sebelumnya, tidak banyak pesepeda yang saya temui, jauh berbeda dengan di Bandung yang selalu ramai oleh para pesepeda di setiap Minggu pagi. Dari alun alun sepeda diarahkan ke utara menuju jalan Leuwisari, masih juga tidak banyak ditemui para goweser, padahal menurut info yang saya dapat biasanya hari Minggu banyak yang gowes ke Curug Ciparay. 

Matahari tidak begitu terik pagi itu membuat kayuhan menjadi bersemangat. Lepas dari Leuwisari menuju desa Sariwangi masih belum ditemui tanjakan - tanjakan yang dapat membuat lutut goyah, hanya beberapa tanjakan landai yang masih bisa dilalui dengan mulus. 8 km lepas dari Singaparna barulah saya menemui tanjakan yang akhirnya mampu membuat nafas tersengal dan keringat bercucuran, ini ternyata adalah tanjakan pembuka sebelum akhirnya saya dipaksa untuk melahap tanjakan – tanjakan berikutnya yang lebih kejam. 2 km lepas dari tanjakan tadi saya tiba di jembatan Cidugaleun sepanjang ±100 m dengan sungai yang berair cukup deras di bawahnya, sungai ini berasal dari Curug Ciparay, saya semakin penasaran sebesar apakah Curug Ciparay, melihat derasnya air di sungai ini.




Tanjakan menyambut selepas jembatan Cidugaleun

Jembatan Cidugaleun berlatar gn. Galunggung

Sejenak saya beristirahat dan berfoto – foto, dengan latar gunung Galunggung membuat pemandangan di sekitar jembatan menjadi eksotis. Sambil mengumpulkan tenaga karena di depan sudah menghadang satu tanjakan lagi yang kelihatannya cukup panjang. Pedal kembali dikayuh, sejenak melihat peta di handphone, ternyata cukup panjang juga jalan menanjak ini, hampir 1,8 km dengan elevasi sekitar 85 m. Ternyata desa Cidugaleun ( ±680 mdpl) adalah akhir dari jalan ber-hotmix mulus, berikutnya ban sepeda harus menginjak jalan yang sebagian besar kondisinya sudah hancur. Komplit sudah, dengan stamina yang sudah menurun dihadapkan pada jalan menanjak sekaligus rusak. Gowes semakin melambat, ritme kayuhan dan handling sepeda diatur sedemikian rupa supaya sepeda tetap melaju. Jarak 900 m ditempuh hampir 15 menit, saya tiba di sebuah jembatan lagi, di atasnya terdapat spanduk besar bertuliskan “WANA WISATA CURUG CIPARAY 3 KM”. Tanjakan curam menanti di hadapan, susah payah sepeda dikayuh melewatinya. Sejenak saya berhenti mengatur nafas dan melemaskan otot kaki yang mulai keram. Sepeda saya tuntun sejenak menuju jalan yang agak datar, kondisi jalan sedikit membaik, perlahan sepeda kembali melaju dan saya memutuskan untuk berhenti di sebuah warung. Menurut pemilik warung, kampung tempat saya istirahat ini bernama kampung Pasir Pari, berada di ketinggian ±831 mdpl. Berarti dari jembatan tadi saya gowes dengan elevasi sekitar 142 m dan jarak 1,9 km namun memakan waktu hingga 45 menit. Dari sini ke lokasi curug sekitar 1,8 km lagi, dan dari gerbang tiket menuju titik air terjun kita harus menuruni jalan setapak sejauh sekitar 450 m. 






Berlatar gn. Karacak tertutup awan

Pukul 11.15 saya kembali melanjutkan perjalanan, selepas warung saya mendapatkan bonus jalan mendatar cenderung menurun. Di sebelah utara menjulang gunung Galunggung, sedang di hadapan saya gunung Karacak sedikit tertutup kabut. Jalan menurun ini mengantarkan saya menuju satu jembatan lagi, dari sini jalan sudah sepenuhnya hancur, jalan makadam menanjak harus ditempuh untuk sampai ke lokasi curug. Dengan terengah engah dan beberapa kali beristirahat akhirnya pada pukul 11.45 sampailah saya di lokasi wanawisata Curug Ciparay. Di bawah sana terlihat dua curug kembar dengan debit air cukup besar, setelah membayar tiket seharga Rp. 5.000,- sepeda saya bawa masuk dan dititipkan di warung, karena dengan kondisi jalan setapak menurun ditambah stamina yang sudah melemah tidak memungkinkan saya untuk membawa sepeda mendekati lokasi curug. Posisi warung – warung  berada di ±860m, berada di atas lembah dengan view menghadap ke sisi barat gunung Galunggung, posisinya seperti diapit oleh gunung Galunggung dan gunung Karacak. Jalan makadam ini kabarnya tembus ke daerah Wanaraja kab. Garut, dan kampung terdekat dari curug ini adalah kampung Parentas, lain waktu rasanya ingin mencoba gowes ke kampung Parentas dan pulang ke arah Garut.






Curug Ciparay berlatar gn. Galunggung


Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Curug Ciparay (±778 mdpl), meskipun tenaga sudah hampir habis, tapi rasa penasaran untuk melihat lebih dekat Curug Ciparay membuat saya kembali bersemangat. Dan pukul 12.20 sampailah saya di mulut air terjun , dua curug besar menyambut dengan hempasan angin bercampur titik titik air menerpa tubuh, debit air sangat besar yang jatuh inilah yang menyebabkan angin tersebut. Di tengah keajaiban alam ini, saya merasa sangat kecil, hanya rasa takjub meliputi saat menyaksikan kemegahan Curug Ciparay, pesona curug kembar yang memiliki ketinggian 75m dan 55 m ini membuat saya tidak mampu berkata apa – apa lagi. 












Kolaborasi dua hobi hehehe....

Hanya sekitar 10 menit berada di lokasi curug, saya harus segera kembali ke atas mengingat perjalanan pulang yang masih harus ditempuh, ditambah kondisi fisik yang sudah melemah, pasti akan membuat perjalanan pulang akan sama menyiksanya. Tertatih saya menuju ke warung tempat sepeda dititipkan, beberapa kali berhenti menarik nafas dan melenturkan otot kaki yang nyaris keram. Setibanya di warung segera saya menyantap makanan ringan untuk mengganjal perut dan mengisi kembali tenaga untuk saya pulang. Dan tepat pukul 13.15 saya meninggalkan Curug Ciparay, sepeda kembali menyusuri jalan makadam bersambung jalan hotmix mulus, menikmati turunan  - turunan panjang hingga ke kota Singaparna.