Showing posts with label cross country. Show all posts
Showing posts with label cross country. Show all posts

Tuesday, February 20, 2018

HAL – HAL YANG PENTING DIPERHATIKAN SEBELUM BERSEPEDA XC

Aktifitas bersepeda seperti juga olahraga luar ruang lainnya tentu saja memiliki beberapa hal yang harus diperhatikan ketika kita akan melakukannya, khususnya yang berkategori XC atau lebih yang akan membawa kita menjelajahi alam dengan segala karakteristiknya, seperti berbagai kondisi jalur yang dihadapi (makadam, singel trek, dsb) ataupun kondisi alamnya itu sendiri yang seperti faktor cuaca. Persiapan yang kita lakukan sebelum kita melakukan aktifitas bersepeda dengan kategori XC atau lebih tidak cukup hanya mengandalkan fisik dan mental saja, tetapi perlengkapan lain yang berhubungan dengan sepeda kita seperti part sepeda cadangan, toolset portabel, atau yang berhubungan dengan fisik kita seperti makanan, minuman, dan yang kita kenakan saat kita bersepeda seperti sarung tangan/ glove, sepatu, kacamata/ google, jas hujan dan body protector. Semuanya dipersiapkan agar kita mendapatkan kenyamanan sekaligus keamanan saat kita menjelajah alam dengan sepeda kita.



Pertama yang akan kita bahas adalah yang berhubungan dengan sepeda sebagai tunggangan kita, resikonya akan fatal bila diabaikan. Yang wajib kita bawa diantaranya adalah :

  1. Ban dalam cadangan dan pompa portabel. Kita tidak akan pernah tahu kapan ban kita tiba-tiba kempes, adakalanya ketika di jalur offroad yang rentan membuat ban bocor ban kita baik-baik saja, tapi ketika dalam perjalanan pulang, di jalan mulus pula, ban tiba-tiba kempes. Atau kita mengalami snake bite yang sering terjadi ketika melalui jalur offroad khususnya jalur yang berbatu atau makadam. Snake bite terjadi ketika ban menginjak batu yang agak tajam atau meruncing dan mengakibatkan ban dalam sepeda bocor dengan bentuk bocoran 2 lubang yang mirip dengan bekas gigitan ular. Ketika hal tersebut terjadi, kita bisa langsung mengganti ban dalam dengan cadangannya dan dapat kembali melanjutkan perjalanan, tanpa harus panik mencari alat penambal ban atau pun tukang tambal ban yang belum tentu ada di jalur yang kita lalui. 
  2. Hanger/ anting RD (Rear derailleur). Ketika kita bersepeda menembus semak-semak atau di jalur yang banyak terdapat potongan ranting atau dahan seperti saat bersepeda di kebun teh, atau ketika kita bersepeda di jalur tanah merah basah dan berlumpur adakalanya ranting, dahan atau lumpur tersebut tiba-tiba masuk dan terbawa roda kita kemudian mengunci RD, sehingga ketika kita tanpa sadar mengayuh sepeda, RD tersebut akan tertarik ke atas dan otomatis akan membengkokkan atau mematahkan hanger yang menjadi adaptor RD ke frame sepeda kita. Bahkan dalam beberapa kasus hal tersebut dapat membuat RD rontok. Memang apabila kita masih cukup beruntung hanger yang bengkok masih bisa diluruskan lagi meskipun cukup sulit mengingat hanger terbuat dari bahan logam yang cukup kuat, dan kalaupun bisa kembali lurus biasanya kerap terjadi masalah dalam proses shifting/ perpindahan giginya. Apabila sudah tidak dapat diperbaiki lagi maka pilihan terakhirnya adalah membuat sepeda kita menjadi single speed dengan mematikan atau mencopot RD dan menempatkan rantai pada satu gigi saja. Konsekuensinya adalah stamina akan cepat terkuras karena kita harus melanjutkan sisa perjalanan dengan hanya menggunakan 1 speed saja. Untuk menghindari hal tersebut terjadi maka sangat penting untuk membawa hanger RD cadangan, bahkan untuk perjalanan yang bermedan berat dan memakan waktu lama disarankan juga untuk membawa RD cadangan.
  3. Pin dan mata rantai cadangan. Setelah kita menempuh jalur basah dan berlumpur biasanya rantai mengering dan terasa menegang sehingga rawan putus. Atau proses perpindahan gigi yang tidak tepat dan kasar ketika kita memindahkan speed terutama pada saat menanjak bisa juga mengakibatkan rantai putus. Bila dalam perjalanan rantai kita putus maka pin dan mata rantai cadangan akan sangat membantu kita.
  4. Brakepad atau kanvas rem, ketika menempuh jalur terutama jalur basah atau berlumpur atau bersepeda di tengah hujan, aktifitas pengereman dalam kondisi basah membuat brakepad kita akan cepat habis. Lumpur atau pasir halus yang menempel di rotor atau rims seakan menjadi ampelas yang akan menggerus brakepad kita. Kita tentu tidak mengharapkan brakepad habis ketika kita masih di tengah perjalanan, oleh karenanya cukup bijaksana apabila kita membawa brakepad cadangan. 
  5. Senter sepeda, persiapan kalau-kalu kita kemalaman di perjalanan. 
  6. Toolset portabel akan berguna kalau ada part sepeda yang longgar, rusak atau perlu diganti di tengah perjalanan.
  7. Pisau lipat, terlihat seperti mengada-ada melengkapi diri dengan pisau lipat ketika bersepeda. Tapi kita tidak pernah bisa memprediksi hal-hal darurat yang mungkin terjadi dan pada saat itu terjadi pisau bisa menjadi penolong kita. Cukup bijaksana bila kita membawanya ketika kita bersepeda.

RD yang rusak terkena hantaman kayu

Proses penggantian ban dalam yg bocor oleh ban dalam cadangan

Yang kedua yang perlu diperhatikan adalah perlengkapan yang berhubungan dengan diri kita sebagai pengendaranya, hal itu adalah : 

  1. Helm sepeda, ini adalah yang paling utama, karena berhubungan langsung dengan keselamatan kita ketika bersepeda.
  2. Kacamata/ google, sangat berguna pada saat sepeda kita menembus semak belukar, kita dapat berkonsentrasi pada jalur yang kita lalui tanpa khawatir mata kita terkena semak-semak atau ranting pohon yang melintang karena mata sudah terlindungi kacamata/ google. Atau pada saat kita terjatuh, kita tidak dapat mengontrol posisi jatuh, setidaknya mata kita sudah terlindungi oleh kacamata yang kita pakai dari kemungkinan terkena atau tergores sesuatu.
  3. Sarung tangan/ glove, fungsinya melindungi jari-jari kita ketika menembus semak belukar. Penggunaan sarung tangan yang model half atau full finger bisa disesuaikan dengan kondisi jalur yang dihadapi. Apabila jalur yang dihadapi banyak melalui semak belukar, ada baiknya kita memakai sarung tangan full finger sehingga dapat lebih maksimal melindungi jari-jari kita dari kemungkinan terkena duri atau ranting-ranting. Disarankan juga untuk memakai pakaian tangan panjang untuk menghindari tangan kita tergores sesuatu. 
  4. Sepatu, ketika kita melalui jalur offoad, akan lebih nyaman dan aman bila kita mengenakan sepatu dibandingkan dengan apabila kita memakai sandal gunung sekalipun.
  5. Body protector, biasanya terdiri dari pelindung siku, dengkul dan tulang kering akan sangat melindungi kita dari kemungkinan cedera ketika kita bersepeda di jalur menurun, atau juga menjadi pelindung tangan dan kaki kita ketika kita menembus semak-semak.
  6. Jas hujan, ketika bersepeda di musim hujan atau di musim yang tidak menentu dan cuaca yang susah untuk diprediksi seperti saat ini, kita sebaiknya tidak meninggalkan jas hujan ketika bersepeda. Dan jas hujan bisa berfungsi juga sebagai penangkal angin atau dingin ketika kita harus melanjutkan perjalanan di malam hari, terutama ketika melalui jalur menurun.
  7. Makanan dan minuman. Tubuh kita membutuhkan pasokan energi dan air yang cukup ketika bersepeda, ketika kita melalui jalur yang jauh dari keramaian seperti di tengah hutan atau perkebunan akan susah mencari warung penjual makanan, dan pada saat stamina kita menurun, bisa mengonsumsi makanan dan minuman yang kita bawa untuk mengembalikan stamina. Untuk makanan ringan disarankan untuk membawa makanan yang bisa mengembalikan energi seperti biskuit, roti, coklat atau pisang, dan untuk minuman saya pribadi menyarankan untuk membawa air mineral saja. Untuk perjalanan yang estimasi waktunya seharian atau fullday trip disarankan untuk membawa nasi sebagai santapan siang kita di tengah perjalanan. 
Tool standar yang bisa dibawa saat bersepeda 


Hal berikutnya yang harus diperhatikan adalah kondisi sepeda kita. Ada baiknya sehari sebelum bersepeda kita mengecek kondisi dan kesiapan sepeda, seperti tekanan angin, rem, setelan drive train dan lain sebagainya secara menyeluruh, karena di luar hal-hal tersebut di atas ada saja kejadian-kejadian yang di luar perkiraan kita, seperti seatpost patah, pedal copot, jari-jari roda putus dan lain sebagainya. Untuk lebih meyakinkan, lebih baik mengecek kondisi sepeda ke bengkel sepeda langganan kita. 

Selanjutnya persiapkan dan rencanakan rute yang akan kita jelajahi. Penting juga bagi kita untuk mengetahui dan memiliki gambaran atau informasi tentang jalur yang akan dijelajahi seperti daerah tempat jalur itu berada, jalan menuju ke jalur tujuan, kondisi jalur, komposisi tanjakan-turunan dan estimasi waktu tempuh. Kita bisa mencari tahu hal tersebut dengan bertanya kepada komunitas-komunitas sepeda yang sudah mengenal jalur yang akan kita jelajahi, atau mungkin dengan mengajak teman yang sudah pernah menjelajahi jalur tersebut. Bagi yang memiliki perangkat GPS bisa mencari tracklog (rekaman data jalur yang dilalui dari suatu trip) yang biasanya mudah didapatkan di dunia maya, kemudian menjelajahi jalur tersebut dengan berpedoman pada tracklog yang sudah didapatkan sebelumnya. Atau bisa juga langsung menjelajahi jalur tersebut dengan berpegang pada perangkat GPS tanpa harus berpedoman pada tracklog yang ada.

Dan setelah segala sesuatunya siap, kita pun siap untuk bersepeda XC menjelajahi alam sekitar. Ketika bersepeda ingatlah untuk selalu menghormati alam dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak pepohonan atau hal-hal lain yang merusak alam sekitar, nikmatilah setiap gowesan kita dan keindahan alam yang tersaji di sekeliling kita. Tetaplah untuk selalu berpegang kepada prinsip dan etika penjelajahan yaitu, "jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan mengambil apapun kecuali foto dan jangan membunuh apapun kecuali waktu". Selamat bersepeda…!!!


Dimuat di HU Pikiran Rakyat edisi 1Juli 2012



Thursday, January 25, 2018

PAKET LENGKAP TRIP GOWES GUNUNG GALUNGUNG TASIKMALAYA

Membaca judul di atas tampak sekilas seperti iklan sebuah trip wisata, namun sedikit uraian berikut akan menjelaskan mengapa saya memakai istilah tersebut untuk judul artikel ini. Kawah Galunggung yang berada di barat kota Tasikmalaya saat ini sudah menjadi salah satu destinasi wisata andalan, pesona alam kawah Galunggung, air terjun, dan pemandian air panas selalu ramai dikunjungi wisatawan. Begitupun bagi pencinta gowes, kawasan wisata Galunggung menawarkan sensasi bersepeda yang bisa memuaskan hasrat para goweser, baik untuk para goweser pencinta uphill/ tanjakan maupun para goweser pencinta turunan dan penggemar downhill. Bagi pencinta bike-camping/ Gemboler disini juga sudah tersedia beberapa spot camping ground yang dapat digunakan untuk bermalam. Bukan hanya di bagian atas/ kaldera, para goweser juga bisa menikmati sajian wisata di kawasan Cipanas Galunggung yang menawarkan kolam – kolam pemandian maupun kamar rendam air panas alami untuk merelaksasi otot yang tegang setelah mengayuh sepeda. Selain itu juga warung – warung yang berada di sekitar kolam banyak menawarkan kudapan, dari mulai gorengan sampai liwet dan nasi timbel yang patut dicoba. Oleh karena itulah saya rasa tidak berlebihan apabila saya menyebut gowes ke kawasan ini dengan istilah trip gowes paket lengkap.



Kawasan wisata kawah Galunggung berada di ketinggian ± 1150 mdpl, sedangkan parkir atas/ tangga menuju kaldera sebagai titik finish para goweser berada di ketinggian ±1070 mdpl. kota Tasikmalaya sendiri berada di ketinggian ±400 mdpl, dengan elevasi ±700 m dapat dipastikan jalur obyek wisata Galunggung menjadi surga bagi para goweser pencinta uphill. Tidak hanya itu, di sana juga sudah tersedia jalur Downhill yang cukup menarik dengan beberapa obstacle yang sangat menantang untuk ditaklukkan. Jalur downhill  sepanjang kira - kira 1,2 km ini bisa juga digunakan untuk para goweser dengan sepeda standar XC karena di beberapa obstacle sudah diberi “chicken way” sehingga yang tidak ingin melewati rintangan yang dibuat untuk para goweser DH bisa menggunakan chicken way yang berada di sampingnya.

Saya berkesempatan untuk gowes mencicipi jalur Galunggung ini dengan naik memakai jalur normal dan turun menggunakan jalur DH hingga ujungnya di gerbang 2. Jarak dari kediaman saya di Singaparna sekitar 15.7 km hingga ke parkiran atas. Saya berangkat bersama teman yang sengaja gowes dari Bandung ke Tasikmalaya untuk liburan tahun baru. Tepat pukul 08.00 kami mulai mengayuh pedal menyusuri jalan ber-hotmix mulus menuju Tawang Banteng, di sepanjang jalan sawah terhampar luas sehingga membuat gowes menjadi lebih mengasyikkan. Tak lama kemudian kami tiba di pertigaan Sukaratu – Cipanas, lalu lintas terasa ramai, sebagian besar tampaknya mengarah ke obyek wisata Galunggung. Pukul 08.20 kami tiba di perempatan jalan raya Mangin – Cipanas, di sini banyak goweser yang tengah beristirahat sebelum memasuki jalur menanjak menuju Galunggung.


Lepas dari perempatan Mangin jalan mulai menanjak sedang tapi cukup membuat napas ngos – ngosan ternyata, dan 2.5 km kemudian barulah kami bertemu tanjakan yang membuat napas semakin terengah – engah dan keringat bercucuran. Akhirnya pukul 08.35 kami sampai juga di gerbang 1 Galunggung/ gerbang Cipanas (±733 mdpl). Berarti kami sudah menempuh jarak sekitar 9.5 km, di sini sudah terdapat banyak goweser tiba lebih dulu. Kendaraan roda 2 maupun roda 4 semakin banyak berdatangan karena hari itu adalah hari terakhir di tahun 2017 yang bertepatan juga dengan libur panjang akhir tahun dan tahun baru.




Saya dan teman bergabung dengan 2 orang goweser dari kota Tasikmalaya, sehingga kami melanjutkan trip ini berempat. Di hadapan sudah menanti tanjakan curam, pukul 09.25 sepeda mulai bergerak menuju tanjakan pertama, ternyata memang berat tanjakan ini, berbelok kemudian masih disusul tanjakan berikutnya, meskipun tidak securam tanjakan pertama tapi tenaga sudah kadung terkuras di tanjakan sebelumnya. Hampir 15 menit kami berjibaku melahap tanjakan sepanjang hampir 500 m ini. Masih ada tanjakan - tanjakan lagi untuk mencapai gerbang 2 (±921 mdpl), kami istirahat sejenak untuk mengatur napas dan melemaskan otot kaki.




Pedal kembali dikayuh, masih ada sekitar 1,2 km lagi untuk mencapai gerbang 2. Gowesan semakin terasa berat, akhirnya pukul 10.05 kami tiba di gerbang 2, disini kami bertemu dengan para goweser DH yang akan mencicipi jalur DH Galunggung. Sambil beristirahat kami berfoto – foto sejenak di plang “Galunggung” yang tepat berada di pertigaan menuju parkir barat dan parkir timur kaldera Galunggung. Masih ada sekitar 1 km lagi untuk menuju titik finish di parkiran atas/ tangga kaldera.




Kembali sepedah melaju di jalanan menanjak, kayuhan semakin terasa berat saja, saya 3 kali berhenti beristirahat untuk melewati 2 tanjakan terakhir ini, teman saya sudah lebih dahulu finish dan setelah berjuang hampir 50 menit akhirnya pukul 11 tiba juga di parkiran atas (±1070 mdpl). Kami beristirahat sambil menikmati pemandangan sekitar yang sangat memanjakan mata, ditemani teh manis dan beberapa potong gorengan.







Setelah puas beristirahat kami beranjak menuju sebelah timur parkiran. Single track bertipikal pasir sudah menanti, pasti akan sangat menyulitkan untuk mengendalikan sepeda, khususnya saya yang terbiasa bersepeda offroad di jalur bertipikal tanah. Beberapa goweser downhill sudah lebih dahulu meluncur, saya yang memakai sepeda XC dan “buta jalur” sama sekali hanya bermodal nekad berusaha untuk mengendalikan sepeda di jalur berpasir yang sangat licin itu. Beberapa obstacle drop off rendah dari tumpukan karung lancar terlewati, namun ketika harus berhadapan dengan jembatan bambu dengan drop off lebih dari 1m saya memilih untuk TTB melewatinya. Ada beberapa obstacle jembatan bambu seperti ini dengan ketinggian drop off bervariasi. Semakin ke bawah pasir licin semakin berkurang membuat saya semakin nyaman melewatinya. Namun naas di ujung jalur akibat “buta jalur” tadi saya tidak mengantisipasi sebuah drop off  gundukan karung yang ternyata di baliknya terdapat parit selebar 50cm lebih, kadung kaget saya menekan rem dan akhirnya saya terjungkal karena roda depan nyangkut di ujung parit, sayang sekali setelah lulus melewati hampir keseluruhan jalur DH ini, saya harus menyerah di ujung yang hanya berjarak 15 m saja dari titik finish.  




Beruntung saya tidak mendapat cedera berarti, hanya kaki lecet terhantam pedal dan muka sedikit perih akibat mencium jalur berpasir. Sejenak saya beristirahat sambil menenangkan diri. Akhirnya pada pukul 13.20 setelah berpamitan dengan teman – teman goweser DH, kami semua meluncur meninggalkan gerbang 2 menuju plang “Galunggung” di dekat gerbang 1 untuk berfoto sekedar untuk kenang – kenangan.  Setelah puas berfoto sepeda kembali meluncur menuju kota Tasikmalaya.


Elevation profile dan tracklog

Dimuat di HU Pikiran Rakyat edisi Minggu 11 Maret 2018