Showing posts with label xc. Show all posts
Showing posts with label xc. Show all posts

Tuesday, February 20, 2018

HAL – HAL YANG PENTING DIPERHATIKAN SEBELUM BERSEPEDA XC

Aktifitas bersepeda seperti juga olahraga luar ruang lainnya tentu saja memiliki beberapa hal yang harus diperhatikan ketika kita akan melakukannya, khususnya yang berkategori XC atau lebih yang akan membawa kita menjelajahi alam dengan segala karakteristiknya, seperti berbagai kondisi jalur yang dihadapi (makadam, singel trek, dsb) ataupun kondisi alamnya itu sendiri yang seperti faktor cuaca. Persiapan yang kita lakukan sebelum kita melakukan aktifitas bersepeda dengan kategori XC atau lebih tidak cukup hanya mengandalkan fisik dan mental saja, tetapi perlengkapan lain yang berhubungan dengan sepeda kita seperti part sepeda cadangan, toolset portabel, atau yang berhubungan dengan fisik kita seperti makanan, minuman, dan yang kita kenakan saat kita bersepeda seperti sarung tangan/ glove, sepatu, kacamata/ google, jas hujan dan body protector. Semuanya dipersiapkan agar kita mendapatkan kenyamanan sekaligus keamanan saat kita menjelajah alam dengan sepeda kita.



Pertama yang akan kita bahas adalah yang berhubungan dengan sepeda sebagai tunggangan kita, resikonya akan fatal bila diabaikan. Yang wajib kita bawa diantaranya adalah :

  1. Ban dalam cadangan dan pompa portabel. Kita tidak akan pernah tahu kapan ban kita tiba-tiba kempes, adakalanya ketika di jalur offroad yang rentan membuat ban bocor ban kita baik-baik saja, tapi ketika dalam perjalanan pulang, di jalan mulus pula, ban tiba-tiba kempes. Atau kita mengalami snake bite yang sering terjadi ketika melalui jalur offroad khususnya jalur yang berbatu atau makadam. Snake bite terjadi ketika ban menginjak batu yang agak tajam atau meruncing dan mengakibatkan ban dalam sepeda bocor dengan bentuk bocoran 2 lubang yang mirip dengan bekas gigitan ular. Ketika hal tersebut terjadi, kita bisa langsung mengganti ban dalam dengan cadangannya dan dapat kembali melanjutkan perjalanan, tanpa harus panik mencari alat penambal ban atau pun tukang tambal ban yang belum tentu ada di jalur yang kita lalui. 
  2. Hanger/ anting RD (Rear derailleur). Ketika kita bersepeda menembus semak-semak atau di jalur yang banyak terdapat potongan ranting atau dahan seperti saat bersepeda di kebun teh, atau ketika kita bersepeda di jalur tanah merah basah dan berlumpur adakalanya ranting, dahan atau lumpur tersebut tiba-tiba masuk dan terbawa roda kita kemudian mengunci RD, sehingga ketika kita tanpa sadar mengayuh sepeda, RD tersebut akan tertarik ke atas dan otomatis akan membengkokkan atau mematahkan hanger yang menjadi adaptor RD ke frame sepeda kita. Bahkan dalam beberapa kasus hal tersebut dapat membuat RD rontok. Memang apabila kita masih cukup beruntung hanger yang bengkok masih bisa diluruskan lagi meskipun cukup sulit mengingat hanger terbuat dari bahan logam yang cukup kuat, dan kalaupun bisa kembali lurus biasanya kerap terjadi masalah dalam proses shifting/ perpindahan giginya. Apabila sudah tidak dapat diperbaiki lagi maka pilihan terakhirnya adalah membuat sepeda kita menjadi single speed dengan mematikan atau mencopot RD dan menempatkan rantai pada satu gigi saja. Konsekuensinya adalah stamina akan cepat terkuras karena kita harus melanjutkan sisa perjalanan dengan hanya menggunakan 1 speed saja. Untuk menghindari hal tersebut terjadi maka sangat penting untuk membawa hanger RD cadangan, bahkan untuk perjalanan yang bermedan berat dan memakan waktu lama disarankan juga untuk membawa RD cadangan.
  3. Pin dan mata rantai cadangan. Setelah kita menempuh jalur basah dan berlumpur biasanya rantai mengering dan terasa menegang sehingga rawan putus. Atau proses perpindahan gigi yang tidak tepat dan kasar ketika kita memindahkan speed terutama pada saat menanjak bisa juga mengakibatkan rantai putus. Bila dalam perjalanan rantai kita putus maka pin dan mata rantai cadangan akan sangat membantu kita.
  4. Brakepad atau kanvas rem, ketika menempuh jalur terutama jalur basah atau berlumpur atau bersepeda di tengah hujan, aktifitas pengereman dalam kondisi basah membuat brakepad kita akan cepat habis. Lumpur atau pasir halus yang menempel di rotor atau rims seakan menjadi ampelas yang akan menggerus brakepad kita. Kita tentu tidak mengharapkan brakepad habis ketika kita masih di tengah perjalanan, oleh karenanya cukup bijaksana apabila kita membawa brakepad cadangan. 
  5. Senter sepeda, persiapan kalau-kalu kita kemalaman di perjalanan. 
  6. Toolset portabel akan berguna kalau ada part sepeda yang longgar, rusak atau perlu diganti di tengah perjalanan.
  7. Pisau lipat, terlihat seperti mengada-ada melengkapi diri dengan pisau lipat ketika bersepeda. Tapi kita tidak pernah bisa memprediksi hal-hal darurat yang mungkin terjadi dan pada saat itu terjadi pisau bisa menjadi penolong kita. Cukup bijaksana bila kita membawanya ketika kita bersepeda.

RD yang rusak terkena hantaman kayu

Proses penggantian ban dalam yg bocor oleh ban dalam cadangan

Yang kedua yang perlu diperhatikan adalah perlengkapan yang berhubungan dengan diri kita sebagai pengendaranya, hal itu adalah : 

  1. Helm sepeda, ini adalah yang paling utama, karena berhubungan langsung dengan keselamatan kita ketika bersepeda.
  2. Kacamata/ google, sangat berguna pada saat sepeda kita menembus semak belukar, kita dapat berkonsentrasi pada jalur yang kita lalui tanpa khawatir mata kita terkena semak-semak atau ranting pohon yang melintang karena mata sudah terlindungi kacamata/ google. Atau pada saat kita terjatuh, kita tidak dapat mengontrol posisi jatuh, setidaknya mata kita sudah terlindungi oleh kacamata yang kita pakai dari kemungkinan terkena atau tergores sesuatu.
  3. Sarung tangan/ glove, fungsinya melindungi jari-jari kita ketika menembus semak belukar. Penggunaan sarung tangan yang model half atau full finger bisa disesuaikan dengan kondisi jalur yang dihadapi. Apabila jalur yang dihadapi banyak melalui semak belukar, ada baiknya kita memakai sarung tangan full finger sehingga dapat lebih maksimal melindungi jari-jari kita dari kemungkinan terkena duri atau ranting-ranting. Disarankan juga untuk memakai pakaian tangan panjang untuk menghindari tangan kita tergores sesuatu. 
  4. Sepatu, ketika kita melalui jalur offoad, akan lebih nyaman dan aman bila kita mengenakan sepatu dibandingkan dengan apabila kita memakai sandal gunung sekalipun.
  5. Body protector, biasanya terdiri dari pelindung siku, dengkul dan tulang kering akan sangat melindungi kita dari kemungkinan cedera ketika kita bersepeda di jalur menurun, atau juga menjadi pelindung tangan dan kaki kita ketika kita menembus semak-semak.
  6. Jas hujan, ketika bersepeda di musim hujan atau di musim yang tidak menentu dan cuaca yang susah untuk diprediksi seperti saat ini, kita sebaiknya tidak meninggalkan jas hujan ketika bersepeda. Dan jas hujan bisa berfungsi juga sebagai penangkal angin atau dingin ketika kita harus melanjutkan perjalanan di malam hari, terutama ketika melalui jalur menurun.
  7. Makanan dan minuman. Tubuh kita membutuhkan pasokan energi dan air yang cukup ketika bersepeda, ketika kita melalui jalur yang jauh dari keramaian seperti di tengah hutan atau perkebunan akan susah mencari warung penjual makanan, dan pada saat stamina kita menurun, bisa mengonsumsi makanan dan minuman yang kita bawa untuk mengembalikan stamina. Untuk makanan ringan disarankan untuk membawa makanan yang bisa mengembalikan energi seperti biskuit, roti, coklat atau pisang, dan untuk minuman saya pribadi menyarankan untuk membawa air mineral saja. Untuk perjalanan yang estimasi waktunya seharian atau fullday trip disarankan untuk membawa nasi sebagai santapan siang kita di tengah perjalanan. 
Tool standar yang bisa dibawa saat bersepeda 


Hal berikutnya yang harus diperhatikan adalah kondisi sepeda kita. Ada baiknya sehari sebelum bersepeda kita mengecek kondisi dan kesiapan sepeda, seperti tekanan angin, rem, setelan drive train dan lain sebagainya secara menyeluruh, karena di luar hal-hal tersebut di atas ada saja kejadian-kejadian yang di luar perkiraan kita, seperti seatpost patah, pedal copot, jari-jari roda putus dan lain sebagainya. Untuk lebih meyakinkan, lebih baik mengecek kondisi sepeda ke bengkel sepeda langganan kita. 

Selanjutnya persiapkan dan rencanakan rute yang akan kita jelajahi. Penting juga bagi kita untuk mengetahui dan memiliki gambaran atau informasi tentang jalur yang akan dijelajahi seperti daerah tempat jalur itu berada, jalan menuju ke jalur tujuan, kondisi jalur, komposisi tanjakan-turunan dan estimasi waktu tempuh. Kita bisa mencari tahu hal tersebut dengan bertanya kepada komunitas-komunitas sepeda yang sudah mengenal jalur yang akan kita jelajahi, atau mungkin dengan mengajak teman yang sudah pernah menjelajahi jalur tersebut. Bagi yang memiliki perangkat GPS bisa mencari tracklog (rekaman data jalur yang dilalui dari suatu trip) yang biasanya mudah didapatkan di dunia maya, kemudian menjelajahi jalur tersebut dengan berpedoman pada tracklog yang sudah didapatkan sebelumnya. Atau bisa juga langsung menjelajahi jalur tersebut dengan berpegang pada perangkat GPS tanpa harus berpedoman pada tracklog yang ada.

Dan setelah segala sesuatunya siap, kita pun siap untuk bersepeda XC menjelajahi alam sekitar. Ketika bersepeda ingatlah untuk selalu menghormati alam dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak pepohonan atau hal-hal lain yang merusak alam sekitar, nikmatilah setiap gowesan kita dan keindahan alam yang tersaji di sekeliling kita. Tetaplah untuk selalu berpegang kepada prinsip dan etika penjelajahan yaitu, "jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan mengambil apapun kecuali foto dan jangan membunuh apapun kecuali waktu". Selamat bersepeda…!!!


Dimuat di HU Pikiran Rakyat edisi 1Juli 2012



Saturday, March 4, 2017

MENGAGUMI KEMEGAHAN CURUG CIPARAY DI KAKI GUNUNG GALUNGGUNG

Destinasi gowes saya berikutnya di Tasikmalaya adalah Curug Ciparay, terletak di lereng barat gunung Galunggung, tepatnya di kampung Parentas desa Cidugaleun kecamatan Cigalontang kabupaten Tasikmalaya, berjarak sekitar 15 km dari ibu kota Tasikmalaya, Singaparna. Lokasi wanawisata air terjun kembar ini berada di ketinggian 860 mdpl, masuk ke dalam wilayah BKPH Singaparna dan KPH Tasikmalaya. Curug pertama memiliki debit air sangat besar sedang curug yang satu lagi memiliki debit tidak begitu besar sehingga kita bisa mendekat hingga ke kolam penampungan airnya. 

Curug Ciparay

Awal Desember 2016 trip ini direalisasikan. Pukul 08 pagi sepeda mulai meluncur  menuju alun – alun Singaparna, seperti pada gowes sebelumnya, tidak banyak pesepeda yang saya temui, jauh berbeda dengan di Bandung yang selalu ramai oleh para pesepeda di setiap Minggu pagi. Dari alun alun sepeda diarahkan ke utara menuju jalan Leuwisari, masih juga tidak banyak ditemui para goweser, padahal menurut info yang saya dapat biasanya hari Minggu banyak yang gowes ke Curug Ciparay. 

Matahari tidak begitu terik pagi itu membuat kayuhan menjadi bersemangat. Lepas dari Leuwisari menuju desa Sariwangi masih belum ditemui tanjakan - tanjakan yang dapat membuat lutut goyah, hanya beberapa tanjakan landai yang masih bisa dilalui dengan mulus. 8 km lepas dari Singaparna barulah saya menemui tanjakan yang akhirnya mampu membuat nafas tersengal dan keringat bercucuran, ini ternyata adalah tanjakan pembuka sebelum akhirnya saya dipaksa untuk melahap tanjakan – tanjakan berikutnya yang lebih kejam. 2 km lepas dari tanjakan tadi saya tiba di jembatan Cidugaleun sepanjang ±100 m dengan sungai yang berair cukup deras di bawahnya, sungai ini berasal dari Curug Ciparay, saya semakin penasaran sebesar apakah Curug Ciparay, melihat derasnya air di sungai ini.




Tanjakan menyambut selepas jembatan Cidugaleun

Jembatan Cidugaleun berlatar gn. Galunggung

Sejenak saya beristirahat dan berfoto – foto, dengan latar gunung Galunggung membuat pemandangan di sekitar jembatan menjadi eksotis. Sambil mengumpulkan tenaga karena di depan sudah menghadang satu tanjakan lagi yang kelihatannya cukup panjang. Pedal kembali dikayuh, sejenak melihat peta di handphone, ternyata cukup panjang juga jalan menanjak ini, hampir 1,8 km dengan elevasi sekitar 85 m. Ternyata desa Cidugaleun ( ±680 mdpl) adalah akhir dari jalan ber-hotmix mulus, berikutnya ban sepeda harus menginjak jalan yang sebagian besar kondisinya sudah hancur. Komplit sudah, dengan stamina yang sudah menurun dihadapkan pada jalan menanjak sekaligus rusak. Gowes semakin melambat, ritme kayuhan dan handling sepeda diatur sedemikian rupa supaya sepeda tetap melaju. Jarak 900 m ditempuh hampir 15 menit, saya tiba di sebuah jembatan lagi, di atasnya terdapat spanduk besar bertuliskan “WANA WISATA CURUG CIPARAY 3 KM”. Tanjakan curam menanti di hadapan, susah payah sepeda dikayuh melewatinya. Sejenak saya berhenti mengatur nafas dan melemaskan otot kaki yang mulai keram. Sepeda saya tuntun sejenak menuju jalan yang agak datar, kondisi jalan sedikit membaik, perlahan sepeda kembali melaju dan saya memutuskan untuk berhenti di sebuah warung. Menurut pemilik warung, kampung tempat saya istirahat ini bernama kampung Pasir Pari, berada di ketinggian ±831 mdpl. Berarti dari jembatan tadi saya gowes dengan elevasi sekitar 142 m dan jarak 1,9 km namun memakan waktu hingga 45 menit. Dari sini ke lokasi curug sekitar 1,8 km lagi, dan dari gerbang tiket menuju titik air terjun kita harus menuruni jalan setapak sejauh sekitar 450 m. 






Berlatar gn. Karacak tertutup awan

Pukul 11.15 saya kembali melanjutkan perjalanan, selepas warung saya mendapatkan bonus jalan mendatar cenderung menurun. Di sebelah utara menjulang gunung Galunggung, sedang di hadapan saya gunung Karacak sedikit tertutup kabut. Jalan menurun ini mengantarkan saya menuju satu jembatan lagi, dari sini jalan sudah sepenuhnya hancur, jalan makadam menanjak harus ditempuh untuk sampai ke lokasi curug. Dengan terengah engah dan beberapa kali beristirahat akhirnya pada pukul 11.45 sampailah saya di lokasi wanawisata Curug Ciparay. Di bawah sana terlihat dua curug kembar dengan debit air cukup besar, setelah membayar tiket seharga Rp. 5.000,- sepeda saya bawa masuk dan dititipkan di warung, karena dengan kondisi jalan setapak menurun ditambah stamina yang sudah melemah tidak memungkinkan saya untuk membawa sepeda mendekati lokasi curug. Posisi warung – warung  berada di ±860m, berada di atas lembah dengan view menghadap ke sisi barat gunung Galunggung, posisinya seperti diapit oleh gunung Galunggung dan gunung Karacak. Jalan makadam ini kabarnya tembus ke daerah Wanaraja kab. Garut, dan kampung terdekat dari curug ini adalah kampung Parentas, lain waktu rasanya ingin mencoba gowes ke kampung Parentas dan pulang ke arah Garut.






Curug Ciparay berlatar gn. Galunggung


Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Curug Ciparay (±778 mdpl), meskipun tenaga sudah hampir habis, tapi rasa penasaran untuk melihat lebih dekat Curug Ciparay membuat saya kembali bersemangat. Dan pukul 12.20 sampailah saya di mulut air terjun , dua curug besar menyambut dengan hempasan angin bercampur titik titik air menerpa tubuh, debit air sangat besar yang jatuh inilah yang menyebabkan angin tersebut. Di tengah keajaiban alam ini, saya merasa sangat kecil, hanya rasa takjub meliputi saat menyaksikan kemegahan Curug Ciparay, pesona curug kembar yang memiliki ketinggian 75m dan 55 m ini membuat saya tidak mampu berkata apa – apa lagi. 












Kolaborasi dua hobi hehehe....

Hanya sekitar 10 menit berada di lokasi curug, saya harus segera kembali ke atas mengingat perjalanan pulang yang masih harus ditempuh, ditambah kondisi fisik yang sudah melemah, pasti akan membuat perjalanan pulang akan sama menyiksanya. Tertatih saya menuju ke warung tempat sepeda dititipkan, beberapa kali berhenti menarik nafas dan melenturkan otot kaki yang nyaris keram. Setibanya di warung segera saya menyantap makanan ringan untuk mengganjal perut dan mengisi kembali tenaga untuk saya pulang. Dan tepat pukul 13.15 saya meninggalkan Curug Ciparay, sepeda kembali menyusuri jalan makadam bersambung jalan hotmix mulus, menikmati turunan  - turunan panjang hingga ke kota Singaparna.


 

Sunday, December 11, 2016

GOWES SANTAI SINGAPARNA – SITU SANGHYANG CIBALANARIK TASIKMALAYA

Akhirnya kesempatan ini pun tiba, saya bisa gowes sedikit jauh dari rumah, tujuan saya adalah danau Situ Sanghyang. Secara administratif Situ Sanghyang berada di desa Cilolohan kecamatan Tanjungjaya kab. Tasikmalaya, berjarak sekitar 10 km dari ibu kota kabupaten Tasikmalaya, singaparna. Sedangkan lokasi danau yang erat dengan legenda “Si Buncireung” jelmaan Eyang Prabu Linggawastu ini berjarak sekitar 850 m dari jalan raya Cibalanarik. Danau alam yang memiliki luas sekitar 37 Ha  ini menawarkan panorama indah yang sayang untuk dilewatkan, dan bagi penggemar sepeda, selain kita bisa gowes menuju lokasi danau, kita juga berkesempatan untuk mencicipi singel trek offroad mengitari tepian danau, lumayan menarik menyusuri singel trek sejauh kurang lebih 3 km ini.




Musim hujan masih berlangsung ketika saya gowes mengunjungi danau ini, minggu pagi sekitar pukul 7 sepeda mulai melaju ke arah kota Singaparna, udara sejuk dan jalan  sedikit basah sisa hujan semalam. Beberapa pesepeda ditemui namun sebagian besar mereka berbelok ke arah GEBU atau Gedung Bupati (pusat pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya) semacam Gasibu-nya kota Bandung yang menjadi pusat keramaian di setiap minggu pagi. Meninggalkan GEBU, semakin jarang goweser ditemui, dan ketika saya sampai di pertigaan Mapolres Tasikmalaya di samping jalan raya Mangunreja – Sukaraja yang akan mengantarkan saya menuju ke Situ Sanghyang, tidak dijumpai lagi goweser yang searah dengan saya. Entah kepagian start gowesnya atau kenapa, sendirian saja menyusuri jalan raya Mangunreja – Cibalanarik ini tanpa berpapasan dengan goweser lain. Jalan berhotmix mulus membuat gowesan terasa ringan, di kiri kanan hamparan pesawahan menghijau, situasi ini menjadi tipikal rute gowes yang selalu saya temui di daerah Singaparna dan sekitarnya. Jalanan menurun landai, karena memang Situ Sanghyang sendiri berada di ketinggian 350 mdpl sedangkan kota Singaparna berada di ketinggian 410 mdpl menurut data GPS yang saya pegang.



Lepas dari kecamatan Mangunreja memasuki kecamatan Tanjungjaya rupanya adalah akhir dari jalan beraspal mulus, berikutnya sepeda harus dikayuh di jalan aspal yang sebagian besar sudah rusak, terus hingga menuju pertigaan Cibalanarik – Situ Sanghyang. Tepat pukul 08 sayapun tiba di pertigaan Cibalanarik – Situ Sanghyang, dan di sebelah kanan jalan terdapat gapura “SELAMAT DATANG DI OBYEK WISATA SITU SANGHYANG”. Dari pertigaan ini jarak menuju Situ Sanghyang tinggal sekitar 800 m  lagi,  dengan kondisi jalan yang masih saja buruk. Pukul 08.15 sampai juga di Situ Sanghyang, masih sangat sepi ketika saya tiba, bahkan penjaga loketpun belum tampak, matahari memantulkan cahayanya di permukaan danau, suasana hening seperti inilah memang yang saya harapkan setiap mengunjungi suatu tempat, dengan leluasa bisa menikmati setiap jengkal keindahan yang tersaji. Sepeda kemudian diarahkan ke arah kiri areal parkir, mencari spot yang pas untuk berfoto, di seberang danau tampak sebuah bangunan formasi huruf bertuliskan “SANGHYANG” menambah keindahan danau ini. Setelah mengambil beberapa foto sepeda kembali melaju di jalan selebar 1 mobil  menuju ke formasi huruf tersebut, ketika tiba di sana ternyata sudah ada beberapa orang yang tengah berfoto – foto, saya mengurungkan niat untuk berfoto - foto dan memilih untuk melanjutkan perjalanan menyusuri pinggiran danau, jalanan semakin hancur, dan akhirnya hanya menyisakan jalan setapak dengan kondisi basah dan licin.

Ini yang saya inginkan, singel trek basah di tengah rerimbunan semak bisa menjadi hiburan tersendiri, sepeda sedikit dipacu meskipun harus sedikit waspada, karena di beberapa titik terdapat monorail yang tertutup air bisa menjebak dan menjatuhkan kita dari sepeda. Sesekali berpapasan dengan petani yang tengah menuju ke ladang mereka, juga para pemancing yang tengah asyik memperhatikan ujung joran mereka, benar – benar suatu harmoni yang menarik di tengah keindahan Situ Sanghyang. Setelah berhenti sejenak, menyapa dan sedikit mengobrol dengan para pemancing tadi, sepeda kembali melaju menyusuri singel trek yang sudah sedikit kering, jalan kembali melebar namun masih berupa tanah merah, dan akhirnya setelah kurang lebih 3 km sepeda melaju, pukul 09 saya tiba kembali di area parkir.

singel trek di pinggiran situ Sanghyang



Saat itu gerbang tiket sudah dibuka, pengunjung sudah mulai berdatangan, para pedagang juga sudah mulai meramaikan sekitar Situ Sanghyang. Di area parkir ini terdapat beberapa tempat duduk dengan posisi menghadap danau, tempat ini rupanya yang menjadi spot berfoto seperti pada foto – foto yang kerap saya jumpai di internet. Beberapa goweser juga sudah tampak di sekitaran area parkir, namun saya harus bergegas pulang, saya berencana untuk pulang tidak melalui jalur yang sama, entah lewat mana, yang saya tahu jalan raya Cibalanarik berujung di daerah Papayan kecamatan Sukaraja, masih sekitar 15 km lagi, belum dari Papayan menuju Singaparna yang berjarak sekitar 25 km dengan kondisi menanjak pula. Melewati jalur memintas melalui Urug – Pamipiran pun sepertinya sama melelahkannya, meskipun bisa mengurangi jarak sekitar 5 km, tapi sama saja banyak tanjakan yang masih harus dihadapi.

mengintip pemancing




Jurus GPS-pun akhirnya dikeluarkan, “Gunakan Penduduk Sekitar” untuk mencari informasi jalur yang harus dilalui, dan setelah bertanya – tanya, info pun didapat. Rute terdekat menuju Singaparna adalah dengan melewati kampung Tonjong yang berjarak sekitar 1 km dari pertigaan Cibalanarik – Situ Sanghyang dan saya memutuskan untuk pulang dengan melewati rute tersebut. Saat itu saya belum tahu bahwa sebenarnya selain lewat Tonjong, ada juga jalur menuju Singaparna tetapi dengan melalui Cibeuti kecamatan Kawalu terlebih dahulu, yaitu melewati kampung Tambakbaya dan tembus ke Tanjung - Cibeuti dengan jarak yang lebih jauh, sekitar 3 km dari pertigaan Situ Sanghyang, nanti saja saya akan coba rute yang melewati Tambakbaya.





Hanya memakan waktu 15 menit untuk mencapai kampung Tonjong, jalan kembali berhotmix mulus, dan masih saja menurun, kaki masih terasa ringan menginjak pedal. Setibanya di pertigaan Tonjong, sepeda berbelok ke arah utara, kembali menemui jalan menurun dan di depan terbentang aliran sungai Ciwulan, rupanya ada sedikit surprise yang akan saya dapatkan di ujung turunan ini, sebuah jembatan gantung beralas kayu menyambut saya, di bawahnya mengalir deras sungai Ciwulan yang bermuara ke pantai Karang Tawulan selatan Tasikmalaya. Jembatan gantung yang mengingatkan saya kepada jembatan gantung yang menghubungkan kampung Daraulin dan jalan raya Cipatik - Soreang di selatan Bandung, namun jembatan gantung Tonjong lebih eksotis karena berada di lembah nan hijau dengan hamparan sawah – sawah, di bawahnya mengalir deras sungai Ciwulan dengan jeram – jeramnya yang eksotis. Sejenak saya berhenti di jembatan gantung Tonjong ini untuk mengambil beberapa foto dan mengobrol dengan seorang bapak yang menjaga dan mengatur lalu lalang kendaraan melewati jembatan ini, menurut bapak ini terkadang terlihat beberapa penyuka olahraga arung jeram melintas menerjang jeram – jeram Ciwulan yang memang terlihat sangat menantang. Menurut saya sangat berjasa sekali si bapak ini, beliau mengatur siapa yang harus duluan melewati jembatan gantung. Tidak terbayang apabila tidak ada si bapak, motor akan saling berebut untuk duluan masuk ke jembatan gantung yang lebarnya hanya 1 m ini, yang akan membuat motor - motor tersebut “stuck” di tengah jembatan kareana tidak saling mengalah. Selembar uang kertas pecahan 1.000 atau 2.000 saya rasa sangat layak untuk dimasukkan ke “kencleng & sair” yang dipasang di mulut jembatan gantung.

Jembatan gantung Tonjong-Sukarame

Berlatar sungai Ciwulan


Dan menurut si bapak tadi, ternyata jembatan ini terhubung ke daerah Sukarame, posisinya sekitar 500 m dari kantor Polsek Sukarame, berarti tinggal sekitar 6 km lagi yang harus saya tempuh dengan mengambil jalur ke arah utara untuk pulang. Namun tepat dari ujung jembatan saya disambut tanjakan lumayan panjang hingga ke jalan raya Sukarame berlanjut menyusuri jalan yang masih berhiaskan beberapa tanjakan landai hingga daerah tempat tinggal saya, berhubung jembatan Tonjong ada di ketinggian 295 mdpl dan saya harus gowes kembali menuju ke 410 mdpl.

Tracklog situ Sanghyang (jalur warna hijau)

Statistik trip situ Sanghyang

Dimuat di harian Pikiran Rakyat edisi 12 Februari 2017


(data – data tulisan sebagian disarikan dari : https://dyaiganov.wordpress.com/situ sanghyang)