Thursday, January 25, 2018

PAKET LENGKAP TRIP GOWES GUNUNG GALUNGUNG TASIKMALAYA

Membaca judul di atas tampak sekilas seperti iklan sebuah trip wisata, namun sedikit uraian berikut akan menjelaskan mengapa saya memakai istilah tersebut untuk judul artikel ini. Kawah Galunggung yang berada di barat kota Tasikmalaya saat ini sudah menjadi salah satu destinasi wisata andalan, pesona alam kawah Galunggung, air terjun, dan pemandian air panas selalu ramai dikunjungi wisatawan. Begitupun bagi pencinta gowes, kawasan wisata Galunggung menawarkan sensasi bersepeda yang bisa memuaskan hasrat para goweser, baik untuk para goweser pencinta uphill/ tanjakan maupun para goweser pencinta turunan dan penggemar downhill. Bagi pencinta bike-camping/ Gemboler disini juga sudah tersedia beberapa spot camping ground yang dapat digunakan untuk bermalam. Bukan hanya di bagian atas/ kaldera, para goweser juga bisa menikmati sajian wisata di kawasan Cipanas Galunggung yang menawarkan kolam – kolam pemandian maupun kamar rendam air panas alami untuk merelaksasi otot yang tegang setelah mengayuh sepeda. Selain itu juga warung – warung yang berada di sekitar kolam banyak menawarkan kudapan, dari mulai gorengan sampai liwet dan nasi timbel yang patut dicoba. Oleh karena itulah saya rasa tidak berlebihan apabila saya menyebut gowes ke kawasan ini dengan istilah trip gowes paket lengkap.



Kawasan wisata kawah Galunggung berada di ketinggian ± 1150 mdpl, sedangkan parkir atas/ tangga menuju kaldera sebagai titik finish para goweser berada di ketinggian ±1070 mdpl. kota Tasikmalaya sendiri berada di ketinggian ±400 mdpl, dengan elevasi ±700 m dapat dipastikan jalur obyek wisata Galunggung menjadi surga bagi para goweser pencinta uphill. Tidak hanya itu, di sana juga sudah tersedia jalur Downhill yang cukup menarik dengan beberapa obstacle yang sangat menantang untuk ditaklukkan. Jalur downhill  sepanjang kira - kira 1,2 km ini bisa juga digunakan untuk para goweser dengan sepeda standar XC karena di beberapa obstacle sudah diberi “chicken way” sehingga yang tidak ingin melewati rintangan yang dibuat untuk para goweser DH bisa menggunakan chicken way yang berada di sampingnya.

Saya berkesempatan untuk gowes mencicipi jalur Galunggung ini dengan naik memakai jalur normal dan turun menggunakan jalur DH hingga ujungnya di gerbang 2. Jarak dari kediaman saya di Singaparna sekitar 15.7 km hingga ke parkiran atas. Saya berangkat bersama teman yang sengaja gowes dari Bandung ke Tasikmalaya untuk liburan tahun baru. Tepat pukul 08.00 kami mulai mengayuh pedal menyusuri jalan ber-hotmix mulus menuju Tawang Banteng, di sepanjang jalan sawah terhampar luas sehingga membuat gowes menjadi lebih mengasyikkan. Tak lama kemudian kami tiba di pertigaan Sukaratu – Cipanas, lalu lintas terasa ramai, sebagian besar tampaknya mengarah ke obyek wisata Galunggung. Pukul 08.20 kami tiba di perempatan jalan raya Mangin – Cipanas, di sini banyak goweser yang tengah beristirahat sebelum memasuki jalur menanjak menuju Galunggung.


Lepas dari perempatan Mangin jalan mulai menanjak sedang tapi cukup membuat napas ngos – ngosan ternyata, dan 2.5 km kemudian barulah kami bertemu tanjakan yang membuat napas semakin terengah – engah dan keringat bercucuran. Akhirnya pukul 08.35 kami sampai juga di gerbang 1 Galunggung/ gerbang Cipanas (±733 mdpl). Berarti kami sudah menempuh jarak sekitar 9.5 km, di sini sudah terdapat banyak goweser tiba lebih dulu. Kendaraan roda 2 maupun roda 4 semakin banyak berdatangan karena hari itu adalah hari terakhir di tahun 2017 yang bertepatan juga dengan libur panjang akhir tahun dan tahun baru.




Saya dan teman bergabung dengan 2 orang goweser dari kota Tasikmalaya, sehingga kami melanjutkan trip ini berempat. Di hadapan sudah menanti tanjakan curam, pukul 09.25 sepeda mulai bergerak menuju tanjakan pertama, ternyata memang berat tanjakan ini, berbelok kemudian masih disusul tanjakan berikutnya, meskipun tidak securam tanjakan pertama tapi tenaga sudah kadung terkuras di tanjakan sebelumnya. Hampir 15 menit kami berjibaku melahap tanjakan sepanjang hampir 500 m ini. Masih ada tanjakan - tanjakan lagi untuk mencapai gerbang 2 (±921 mdpl), kami istirahat sejenak untuk mengatur napas dan melemaskan otot kaki.




Pedal kembali dikayuh, masih ada sekitar 1,2 km lagi untuk mencapai gerbang 2. Gowesan semakin terasa berat, akhirnya pukul 10.05 kami tiba di gerbang 2, disini kami bertemu dengan para goweser DH yang akan mencicipi jalur DH Galunggung. Sambil beristirahat kami berfoto – foto sejenak di plang “Galunggung” yang tepat berada di pertigaan menuju parkir barat dan parkir timur kaldera Galunggung. Masih ada sekitar 1 km lagi untuk menuju titik finish di parkiran atas/ tangga kaldera.




Kembali sepedah melaju di jalanan menanjak, kayuhan semakin terasa berat saja, saya 3 kali berhenti beristirahat untuk melewati 2 tanjakan terakhir ini, teman saya sudah lebih dahulu finish dan setelah berjuang hampir 50 menit akhirnya pukul 11 tiba juga di parkiran atas (±1070 mdpl). Kami beristirahat sambil menikmati pemandangan sekitar yang sangat memanjakan mata, ditemani teh manis dan beberapa potong gorengan.







Setelah puas beristirahat kami beranjak menuju sebelah timur parkiran. Single track bertipikal pasir sudah menanti, pasti akan sangat menyulitkan untuk mengendalikan sepeda, khususnya saya yang terbiasa bersepeda offroad di jalur bertipikal tanah. Beberapa goweser downhill sudah lebih dahulu meluncur, saya yang memakai sepeda XC dan “buta jalur” sama sekali hanya bermodal nekad berusaha untuk mengendalikan sepeda di jalur berpasir yang sangat licin itu. Beberapa obstacle drop off rendah dari tumpukan karung lancar terlewati, namun ketika harus berhadapan dengan jembatan bambu dengan drop off lebih dari 1m saya memilih untuk TTB melewatinya. Ada beberapa obstacle jembatan bambu seperti ini dengan ketinggian drop off bervariasi. Semakin ke bawah pasir licin semakin berkurang membuat saya semakin nyaman melewatinya. Namun naas di ujung jalur akibat “buta jalur” tadi saya tidak mengantisipasi sebuah drop off  gundukan karung yang ternyata di baliknya terdapat parit selebar 50cm lebih, kadung kaget saya menekan rem dan akhirnya saya terjungkal karena roda depan nyangkut di ujung parit, sayang sekali setelah lulus melewati hampir keseluruhan jalur DH ini, saya harus menyerah di ujung yang hanya berjarak 15 m saja dari titik finish.  




Beruntung saya tidak mendapat cedera berarti, hanya kaki lecet terhantam pedal dan muka sedikit perih akibat mencium jalur berpasir. Sejenak saya beristirahat sambil menenangkan diri. Akhirnya pada pukul 13.20 setelah berpamitan dengan teman – teman goweser DH, kami semua meluncur meninggalkan gerbang 2 menuju plang “Galunggung” di dekat gerbang 1 untuk berfoto sekedar untuk kenang – kenangan.  Setelah puas berfoto sepeda kembali meluncur menuju kota Tasikmalaya.


Elevation profile dan tracklog

Dimuat di HU Pikiran Rakyat edisi Minggu 11 Maret 2018




Friday, December 29, 2017

MENGGAPAI PUNCAK BATU KUDA, MENEMBUS KERAPATAN VEGETASI GUNUNG HARUMAN CIBIUK

Gunung Haruman memiliki ketinggian ±1219 mdpl berada di dua kecamatan yaitu kecamatan Kadungora dan kecamatan Cibiuk kabupaten Garut. Gunung ini erat sekali kaitannya dengan legenda Batukuda, yaitu sebongkah batu besar menyerupai kuda yang berada di puncak tertinggi Haruman, menurut kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Garut seperti yang saya kutip dari laman bedanews.com situs Batukuda ini merupakan benda prasejarah peninggalan zaman megalithikum yang digunakan masyarakat masa itu sebagai tempat pemujaan, selain itu juga masyarakat sekitar meyakini kalau batukuda ini adalah peninggalan prabu Kian Santang. Gunung ini juga berkaitan erat dengan salah satu tokoh penyebar agama Islam di Garut khususnya daerah Garut Utara yaitu Syekh Jafar Sidik atau Mbah Wali Cibiuk/ Sunan Cibiuk yang makamnya berada di kaki gunung Haruman tepatnya di desa Cipaeuran kec Cibiuk. Makam beliau selalu ramai dikunjungi para peziarah sehingga mendorong pemkab Garut untuk menjadikan makam ini sebagai obyek wisata religi/ ziarah, salah satu warisan Syekh Jafar Sidik yang masih bisa dirasakan sampai saat ini adalah sambal khas Cibiuk yang saat ini sudah sangat terkenal di mana – mana (sangiang.wordpress.com/nyukcruk-galur-patilasan-sunan-haruman).

Gunung Haruman berlatar gunung Sadakeling


Pertengahan desember 2017 kemarin tepatnya pada tanggal 17 Desember 2017 saya dan 3 orang teman mencoba untuk hiking tektok ke gunung Haruman dengan mengambil titik start di kampung Haruman Sari kec Kadungora (675 mdpl) dan berencana lintas jalur dengan turun melalui jalur desa Cipaeuran kec. Cibiuk (645 mdpl). Setelah Tiba di kampung Haruman Sari dan mendapatkan tempat untuk menitipkan motor kami sempatkan ngobrol sejenak dengan warga untuk mengenal lebih dahulu karakter jalur gunung ini. Ternyata selain situs Batukuda dan makam Syekh Jafar Sidik, gunung ini terkenal juga akan babi hutannya yang cukup mudah ditemui, kakek berbaju putih berjenggot panjang yang selalu menyuruh pulang apabila waktu sholat tiba dan satu lagi (ini yang menarik) adalah tidak adanya jalur menuju ke puncak Haruman, sehingga beberapa warga mengingatkan kami untuk berhati – hati karena warga sekitar pun banyak yang tersesat atau kehilangan jejak ketika mendaki gunung ini.








Pukul 09.30 hiking dimulai dengan memasuki gang kecil mengarah ke timur, tidak lama kami berjalan kami tiba di ujung gang dan mulai masuk jalur setapak. Sajian jalan setapak menanjak ini lumayan membuat kami berkeringat. Sejenak melihat peta digital di HP, kontur cukup rapat sampai ke puncak akan kami hadapi selama perjalanan. Selama perjalanan tak henti – hentinya nyamuk mengerubungi kami, benar juga kata teman yang pernah ke gunung ini, naik ke Haruman seperti masuk ke kerajaan nyamuk saja layaknya, dan kami sekarang merasakan bagaimana rasanya dikerubungi nyamuk - nyamuk Haruman yang ukurannya sedikit lebih besar dibandingkan dengan nyamuk domestik. Sekitar 700 m berjalan, kami bertemu sebuah rumah cukup besar, namun sudah kosong dan tidak terawat, entah apa fungsinya dulu ketika bangunan ini didirikan. Tak lama kemudian kami bertemu jalan makadam, sepertinya ini adalah bekas jalan menuju lokasi Paralayang yang dahulu sempat meramaikan suasana gunung Haruman. Saat ini kondisinya sudah rusak dan kiri kanannya sudah banyak ditumbuhi semak sehingga terlihat seperti jalan setapak saja.



Ex. jalan paralayang

Tepat 1 km lepas dari titik start kami menemukan pertigaan, waktu sudah menunjukkan jam 10 pagi, tak terasa sudah 30 menit berjalan, tak lama kemudian kami bertemu sebuah pohon besar, sejenak beristirahat di sana sambil melihat pemandangan di belakang tepatnya ke arah barat, gunung Mandalawangi dan Kaledong dengan hamparan sawah menghijau di sekitar kakinya sungguh membuat segar mata memandang. Perjalanan dilanjutkan, masih ditemani jalan setapak yang nyaris tidak ada bonus, terus menanjak, akhirnya pukul 10.45 kami beristirahat karena sudah mulai kelelahan, di depan jalur masih saja menanjak curam, dari sini jalur sudah mulai terlihat samar, istirahat pun menjadi tidak tenang karena nyamuk – nyamuk masih saja setia mengerubungi, memaksa kami untuk segera melanjutkan perjalanan.





Gunung Mandalawangi di sebelah barat


Medan yang dihadapi berikutnya adalah hutan bambu yang cukup lebat sehingga tanah hampir semua tertutup serasah daun bambu kering, pijakan licin di atas hamparan daun kering ditambah jalur yang curam menjadi tantangan yang harus kami hadapi saat ini, jalur sudah menghilang, kami berjalan sambil mempertahankan arah agar tidak terlalu menyimpang jauh dari tracklog kawan yang mendaki gunung ini sebelumnya. Cukup lama kami kepayahan melewati hutan bambu ini, namun masih tidak ada bonus dataran, yang ada kontur semakin menanjak curam, hutan bambu sekarang berganti hutan Kaliandra, batang – batang Kaliandra bersilangan di hadapan, jalur sengaja kami buat sedikit zigzag supaya tidak menguras terlalu banyak tenaga, namun perjalanan jadi terasa lama. Di ketinggian 1090 mdpl langkah terhenti, sudah tidak lagi ada celah jalur untuk dilalui, rapatnya pohon Kaliandra ditambah juluran tanaman rambat menutupi arah ke puncak. Sudah lewat tengah hari, kami harus segera meneruskan perjalanan supaya cepat sampai ke puncak, mengingat masih musim hujan kami khawatir perjalanan akan semakin berat apabila hujan, akhirnya diputuskan untuk langsung saja naik secara vertikal untuk menghemat waktu, tidak lagi zig-zag.






Langkah demi langkah kami lalui sambil menerabas rapatnya pepohonan Kaliandra, tangan sibuk menyibak ranting dan tanaman julur, letih terasa, namun melihat jarak di peta digital sudah semakin mendekati puncakan, kami paksakan untuk terus bergerak, akhirnya pukul 13.05 kami tiba di puncakan gunung Haruman di ketinggian 1195 mdpl, satu jam kami habiskan untuk menerabas jalur yang hanya berjarak sekitar 240 m saja, benar – benar “galak” gunung ini. Di puncakan kami lanjutkan perjalanan menuju puncak utama, puncak Batukuda. Tak lama kami tiba di sebuah dataran yang terdapat batu besar di ketinggian 1198 mdpl, disini kami beristirahat, ngopi sambil mendiskusikan jalur berikutnya, masih ada sekitar 500 m lagi menurut tracklog untuk mencapai puncak Batukuda (1219 mdpl) dengan kondisi jalur yang kami pun tidak tahu akan seperti apa. Beberapa potong cemilan dan beberapa gelas kopi racikan seorang teman sanggup membuat semangat kami tumbuh kembali untuk segera menginjakkan kaki di puncak Batukuda, kami menikmati seduhan kopi di tengah cuaca mendung berangin dan berkabut tebal sambil diiringi suara gemuruh guntur di kejauhan.



jalur menghilang


Barista sedang meracik kopi
Pukul 14.00 kami kembali bergerak menyusuri jalan setapak di kerimbunan vegetasi gunung Haruman, pohon Kaliandra masih mendominasi vegetasi di sekitar puncakan ini. Ternyata jalur yang sempat terbuka di dekat tempat istirahat itu tidak sampai 100 m jaraknya, kami kembali kehilangan jalur, suasana yang masih berkabut tebal menyulitkan kami untuk orientasi, tracklog dan GPS kembali menjadi pegangan supaya kami tidak menyimpang terlalu jauh. Sekitar 270 m berjalan, kami bertemu puncakan dengan beberapa gunduk batu besar terserak di ketinggian 1211 mdpl, ini bukan puncak utama ternyata, masih ada 125 m garis lurus ke arah timur untuk menggapainya, kembali kami menerabas membuka jalur untuk mencapai puncak utama, setelah sekitar 300 m kami berjalan akhirnya kami menemukan jalur menuju puncak, dan pada pukul 15.00 kami berhasil menginjakkan kaki di puncak Batukuda, puncak utama gunung Haruman yang berketinggian 1219 mdpl. Kondisi puncak berupa dataran yang tidak begitu luas, di sekelilingnya tertutup vegetasi dengan masih didominasi pohon Kaliandra. Ada batu besar terdapat di sana, mungkin itulah situs Batukuda yang dimaksud. Bentuknya tidak seperti kuda dalam kondisi utuh, dari beberapa sudut lebih menyerupai kepala kuda dengan moncong menghadap tanah.

Puncak Batukuda gn Haruman




Di puncak Batukuda kami tidak lama beristirahat, hanya mengambil beberapa foto kenang – kenangan kami pun bergegas turun, dari puncak terlihat jalur cukup jelas mengarah ke timur/ Cibiuk, namun belum lama berjalan jalur kembali hilang, kembali kami harus mengandalkan GPS dan tracklog untuk menuju titik finish. Hari semakin sore dan hujan mulai turun, pijakan menjadi semakin licin. Serasah bambu dan akar Kaliandra benar – benar menjadi jebakan yang berkali - kali membuat terjerembab, belum lagi kontur yang menurun curam, tarikan gravitasi semakin membuat kami tersiksa. Mengingat waktu yang semakin sore, kami kembali mengambil opsi untuk menyusuri lereng secara vertikal meskipun dengan resiko semakin sering terjatuh dan kesulitan untuk mengontrol langkah. 

Tidak banyak yang bisa diceritakan di sini, kami hanya konsentrasi untuk melangkah turun dengan tetap berpedoman kepada GPS dan tracklog agar tidak terlalu jauh menyimpang. Setelah hutan Kaliandra terlewati dengan susah payah, vegetasi berganti hutan bambu. Foto, data lokasi, waktu dan ketinggian pun tidak sempat kami rekam disini mengingat kami masih harus berjibaku jatuh bangun melewati hutan bambu yang lantainya sudah basah oleh air hujan, fisik dan mental benar – benar diuji, ketika pijakan kaki sudah tidak bisa menemukan tumpuan maka tangan pun menggapai - gapai mencari ranting atau batang yang bisa dipegang untuk sekedar mengurangi laju. Lepas dari hutan bambu kami kembali memasuki hutan Kaliandra, di sini kami sempatkan untuk melihat GPS, ah ternyata jarak menuju ke batas ladang sudah tidak begitu jauh. Kami terus berjalan sambil berkali – kali terpeleset, dan akhirnya pukul 16.55 kami keluar dari hutan Kaliandra dan mulai masuk ke kebun yang banyak ditanami pohon Gmelina/ Jati Putih (840 mdpl), lega rasanya, langkah semakin dipercepat, kami pun memasuki ladang jagung. Akhirnya pukul 17.10 kami memasuki jalan beton seukuran lebar badan kendaraan roda 4 (710 mdpl), dari sini kami tidak lagi mengikuti tracklog tapi berjalan mengikuti jalan besar saja dengan harapan jalan ini berujung di sebuah kampung. 

Lumayan jauh sekitar 950 m berjalan, pukul 17.30 kami tiba di desa Cipaeuran, hujan membuat suasana desa sepi, beruntung ada warung yang masih buka, kami bergegas menuju ke sana untuk menanyakan arah dan posisi kampung Haruman Sari. Dan jawaban pemilik warung sedikit menjatuhkan mental, ternyata jarak yang harus ditempuh untuk menuju Haruman Sari cukup jauh karena berada di sisi utara gunung Haruman, yang berarti ada di sebalik posisi kami saat ini yang berada di sisi selatan, jadi kami harus mengitari separuh tubuh gunung Haruman untuk kembali ke titik start. Ketika dicek di Google Maps, jarak menuju Haruman Sari sekitar 9 km, bukan jarak yang dekat untuk dicapai dengan jalan kaki apalagi hari sudah beranjak senja. Maka diputuskanlah kami akan ke jalan raya Cibiuk dengan harapan bisa mendapatkan tumpangan ojek atau menyewa mobil untuk kembali ke titik start. Namun kembali ujian kami dapati ketika sampai di jalan raya Cibiuk - Leuwigoong, hujan membuat jalanan sepi, beruntung ada 1 angkot yang mau mengangkut kami sampai pertigaan Leuwigoong - Banyuresmi. Masalah kembali datang di pertigaan Banyuresmi, jalan menuju Leles diblokir polisi karena kondisi Leles macet parah efek dari liburan weekend, alhasil kami harus berjalan menyusuri jalan raya Leuwigoong - Leles sambil berharap ada ojek nangkring, namun nihil, hampir tidak ada kendaraan melintas atau pun ojek yang nangkring. 

Di setengah perjalanan kami tiba di sebuah pertigaan, ada motor melintas dan kami pun meminta tolong kepada pengemudi motor tadi untuk mencarikan ojek sambil mereka pulang, mereka menyanggupinya. Kami pun kembali berjalan, dan tak disangka sangka setelah sekitar 2 km berjalan, pengemudi motor tadi kembali bersama temannya membawa satu motor lagi dan menawarkan untuk mengantarkan kami ke kampung Haruman Sari, Alhamdulillah pertolongan Allah melalui kedua orang ini akhirnya yang mengantarkan kami ke Haruman Sari. 

Pukul 19.30 kami semua akhirnya tiba di kampung Haruman Sari, pemilik warung yang kami titipi motor terlihat lega ketika kami tiba, beliau khawatir terjadi sesuatu seperti tersesat atau semacamnya, bahkan sempat berseloroh hampir saja mereka membuat laporan kehilangan ke Mapolsek Kadungora hahaha.......Alhamdulillah kehangatan sang pemilik warung dan keluarganya membuat kami leluasa untuk beristirahat melepas lelah, segera beberapa mangkuk mie rebus mengisi rongga – rongga perut kami yang tidak sempat diisi makanan berat, cukup untuk kembali menghangatkan tubuh dan menambah tenaga guna melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung. Harapan untuk makan – makan di rumah makan sambal Cibiuk pun sirna, tapi tidak apalah, acara makan – makan di rumah makan Cibiuk dengan sambal yang khas warisan dari Syekh Jafar Sidik sang penyebar agama islam di Garut Utara tersebut bisa diagendakan di lain waktu. Setelah berpamitan dengan pemilik warung dan keluarganya, tepat pukul 20.00 kami beranjak meninggalkan kampung Haruman Sari yang bersahaja ini, menembus kemacetan libur weekend Kadungora kembali menuju Bandung.

Tracklog & elevation profile



Tuesday, November 21, 2017

SERUNYA SENSASI NIGHT HIKING BATUKUDA – PUNCAK GUNUNG MANGLAYANG

 Seperti halnya night riding yang tujuannya mencari suasana dan tantangan baru ketika melakukan aktifitas bersepeda, night Hiking atau tektok malam hari (tektok = oneday hiking) juga cukup menarik dan menawarkan tantangan dan sensasi tersendiri. Setelah lebih dari 10 tahun lalu saya sempat melakukan pendakian malam hari, saya berkesempatan kembali merasakan serunya night Hiking ke kawasan timur Bandung bersama beberapa teman. Hiking atau tektok malam hari memiliki beberapa keuntungan seperti udara yang lebih sejuk sehingga membuat kondisi tubuh tidak cepat lelah, juga kondisi malam yang gelap cukup bisa “menyembunyikan” tanjakan – tanjakan terjal sehingga mental kita cukup terjaga, tidak drop ketika melihat tanjakan yang akan dihadapi, dan tentu saja bonus sunrise yang akan kita dapatkan begitu kita menginjakkan kaki di puncak.
  


Minggu dinihari di akhir libur panjang Idul Fitri tahun 2015 kemarin tektok dilaksanan dengan tujuan puncak gunung Manglayang (1824 mdpl) sekaligus menikmati sunrise di puncak timur (1665 mdpl) yang sudah cukup terkenal keindahannya di antara para pendaki Manglayang. Pukul 01.15 dini hari setelah saya dan 5 orang teman  berkumpul di daerah Cibiru, kami bergerak menuju bumi perkemahan Batukuda yang menjadi titik awal pendakian gunung Manglayang, 15 menit kemudian kami semua tiba di buper Batukuda (1100 mdpl), mendaftarkan diri di pos pendakian dan tepat pukul 01.45 kami semua meninggalkan pos pendaftaran untuk memulai pendakian. Suhu dingin di awal perjalanan sempat kami rasakan, namun tidak sampai 30 menit kami berjalan, semua mulai menanggalkan jaket karena tanjakan – tanjakan di awal pendakian telah membuat tubuh panas dan berkeringat. Jalur pendakian kering dan berdebu, sepertinya dampak musim kemarau sangat terasa di sekitar kawasan ini. Saya membayangkan “penderitaan” yang akan dirasakan apabila tektok dilakukan siang hari, sengatan sinar matahari dan debu pasti akan setia menemani perjalanan menapaki jalur pendakian curam di gunung ini. Gelapnya malam ternyata mampu menyembunyikan kekejaman jalur pendakian gunung Manglayang.


Satu per satu tanjakan terlewati, saling mengobrol di sepanjang perjalanan membuat perjalanan menjadi menarik, hangatnya obrolan menghilangkan suasana mencekam yang biasanya selalu menghampiri kala malam gelap gulita. Waktu terus berjalan, tidak terasa sudah 2,5 jam kami berjalan dan sudah lebih dari 2 km jalur ditempuh, pantas saja lutut sudah agak goyah dan badan terasa letih. Kami berhenti sejenak untuk beristirahat, sayup terdengar lantunan azan awal di kejauhan, damai sekali rasanya suasana di tempat beristirahat ini, di depan kami sungguh gelap, entah seperti apa jalur yang akan dihadapi selanjutnya. Setelah sekitar 10 menit kami beristirahat perjalanan dilanjutkan, sekitar 30 berjalan, kami bertemu jalur mendatar, perangkat GPS menunjukkan bahwa kami saat ini berada di kawasan puncak bayangan (±1669 mdpl). Jarak ke puncak utama sekitar 500 m garis lurus, terlihat kontur yang semakin rapat, pertanda kami akan menghadapi jalur yang menanjak curam. Di ketinggian ±1720 mdpl kami bertemu dengan tanjakan yang tersusun dari batu – batu besar, cukup menguras tenaga menaklukkannya, nanti siang ketika kami turun kami pasti akan mengetahui wujud asli tanjakan kejam ini.


Pukul 04.15 kami semua tiba di puncak utama gunung Manglayang (1824 mdpl), banyak tenda berdiri di sini, namun kami tidak sempat berhenti, perjalanan tetap dilanjutkan menuju puncak timur tujuan utama kami. Jarak dari puncak utama sampai ke puncak timur sekitar 750 m dengan kondisi menurun curam, karena perbedaan ketinggian yang hampir 200 m dengan puncak timur. 15 menit kami berjalan, sesekali kami harus melipir di antara tenda – tenda pendaki yang didirikan di jalur menuju puncak timur. Tepat ketika azan subuh berkumandang kami semua tiba di puncak timur gunung Manglayang (±1665 mdpl) atau yang dikenal juga dengan puncak Prisma. Segera kami mencari lokasi yang strategis di kawasan puncak yang sebenarnya cukup sempit ini, menunggu terbitnya sang mentari sambil berharap bisa mendapatkan momen sunrise yang sangat menakjubkan itu. Beberapa pendaki mulai berdatangan juga ke kawasan puncak timur dengan tujuan yang sama. Pukul 05.00 fajar menyingsing, selarik garis keemasan mulai nampak mewarnai ujung langit timur yang pekat, perlahan sang mentari mulai terbangun dari peraduannya, menghapus gelap dan cahaya pagi mulai memainkan perannya.





05.45 sunrise sudah sempurna berwujud, kami semua menghadap ke arah timur sambil memegang kamera masing – masing, mulai mengabadikan momen menakjubkan yang sudah dinanti – nanti ini, lupa sudah kami semua pada dinginnya udara pagi yang sesekali ditingkahi hembusan angin kencang. Hanya satu yang tidak kami jumpai saat itu, gumpalan awan putih di bawah puncak gunung yang kemudian memunculkan istilah “negeri di awan” itu tidak nampak, entah karena faktor ketinggian gunung ini atau adah hal lain, entahlah, kami tidak begitu faham. Untuk menyambut pagi yang cerah ini sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja tanpa suguhan kopi panas dan beberapa makanan ringan. Segera teman kami mengeluarkan kompor dan perlengkapan masak portabel kemudian mendidihkan air, tak lama kemudian beberapa gelas minuman panas dan makanan ringan tersaji di hadapan. Sambil menikmati sarapan pagi kami menikmati pemandangan di sekeliling puncak. Di timur pandangan tertuju pada puncak gunung tinggi menjulang, itulah gunung tertinggi di jawa barat, gunung Ciremai, terus bergeser ke tenggara, kami mendapati gunung Geulis dan samar terlihat gunung Kerenceng – Kareumbi, gunung Buyung, Mandalawangi, terus menyambung ke selatan sang tanah tertinggi di Bandung Raya gunung Kendang anggun berdiri seakan berdampingan dengan pegunungan Malabar. Hampir semua gunung di kawasan selatan Bandung sangat terlihat jelas dari puncak timur. 





2 jam lebih kami berada di puncak Timur, tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 07.45, kami segera membereskan bawaan, merapikan backpack, tak lupa membersihkan sampah kemasan bekas sarapan untuk kami bawa ke bawah. Tepat pukul 08.00 kami beranjak meninggalkan puncak timur menuju puncak utama. Sekarang terlihat jelas pemandangan di sekeliling puncak timur ini, tak jauh dari posisi kami tadi terdapat jalur Barubeureum Kiara Payung Jatinangor di sebelah utara puncak, di sebelah selatan terlihat jajaran pegunungan selatan Bandung, dan di sebelah barat pemandangan tertumbuk pada tubuh gunung Manglayang yang masih diselimuti pepohonan cukup rapat. Sebenarnya dari puncak timur ada jalur yang langsung menuju buper Batukuda, yaitu jalur Tebing Doa, namun jalur ini sangat tidak direkomendasikan untuk dilalui karena kondisi jalur yang ekstrem, di beberapa bagian jalur berada di tebing dengan kemiringan lebih dari 60ยบ dan kita harus meniti dan menuruni tebing itu. Karena terjalnya tebing itu, ketika seseorang melewatinya dia tidak henti – hentinya berdoa agar dia selamat sampai ke bawah, mungkin dari sanalah tebing tersebut dinamakan Tebing Doa. Trip puncak Manglayang melalui jalur tebing doa ini akan saya ceritakan di tulisan berikutnya.

Narsis dulu sebelum pulang :)

Jalur menuju puncak utama gn Manglayang

Seperti diduga sebelumnya, ternyata benar jalur menuju puncak utama cukup terjal dan menguras tenaga. Pukul 08.45 kami tiba kembali di puncak utama, kami pun beristirahat sambil mengambil beberapa foto di plang triangulasi. Pukul 09.00 kami meninggalkan puncak utama untuk kembali ke buper Batukuda. Ternyata benar saja tanjakan batu yang dilewati sebelumnya itu sangat curam, beruntung sekali gelapnya malam telah menyembunyikannya. 

Puncak utama Manglayang 1824 mdpl




Hari semakin panas, daun – daun tampak kecoklatan dibakar panasnya matahari kemarau. Kami mempercepat langkah supaya cepat sampai ke buper Batukuda. Dan pukul 11 lebih kami semua tiba di buper Batukuda, setelah beristirahat dan melapor kembali ke pos pendakian, tepat pukul 12 siang kami beranjak meninggalkan buper Batukuda kembali ke rumah masing – masing.

Buper Batukuda



*Sebagian foto diambil dari koleksi foto mang Agus Suga