Showing posts with label climbing. Show all posts
Showing posts with label climbing. Show all posts

Friday, February 23, 2018

MENGUJI NYALI MENITI TEBING DOA PUNCAK TIMUR GUNUNG MANGLAYANG


Gunung Manglayang yang terletak di sebelah timur kota Bandung menawarkan pesona wisata yang patut untuk kita nikmati sensasinya. Selain bumi perkemahan Kiara Payung yang sudah sangat terkenal, gunung ini juga memiliki obyek wisata yang tidak kalah menarik seperti kawasan wana wisata Batukuda. Buper Batukuda ada dalam wilayah Perum Perhutani KPH Bandung utara BKPH Manglayang barat, berada di Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung.
 
Puncak Prisma & puncak utama Manglayang


Di kawasan wanawisata Batukuda para wisatawan bisa melakukan beragam kegiatan outdoor seperti hiking, camping, dan bersepeda. Kawasan yang sejuk di tengah hutan pinus memungkinkan kita juga untuk membawa serta keluarga menikmati alam gunung Manglayang. Posisi Batukuda di ketinggian 1150 mdpl juga menjadi destinasi para goweser untuk mengunjunginya, jarak tempuh 6 km dari jl raya Cibiru dengan elevasi sekitar 400 m cukup menarik untuk ditaklukkan para goweser pecinta uphill. Para pencinta hiking dan mendaki gunung pun turut dimanjakan, beberapa jalur pendakian menuju puncak gunung Manglayang dengan beragam karakteristik jalur tersedia untuk memuaskan para penjelajah yang ingin menjejakkan kaki di salah satu titik tertinggi di timur Bandung ini.

Buper Batukuda

Secara umum pendakian menuju puncak Manglayang (1824 mdpl) bisa dilalui melalui 2 jalur, yaitu Batukuda di Cibiru Wetan dan Barubeureum yang terletak di sekitar Buper Kiarapayung Jatinangor, namun di luar itu para pendaki terkadang ada juga yang mencoba menggapai puncak Manglayang melalui Palintang, atau curug Cilengkrang. Di Batukuda sendiri sejatinya terdapat dua jalur menuju puncak, yaitu melalui jalur normal/ reguler dengan menyusuri punggungan di sebelah barat buper Batukuda namun pada kenyataannya banyak juga pendaki yang mencoba melalui jalur di sebelah timurnya yang dikenal dengan “jalur tebing doa”. Mengapa dinamakan Tebing Doa? karena di jalur tersebut kita harus melintasi tebing dengan kemiringan lebih dari 60˚ dan kanan kirinya diapit jurang yang cukup dalam, ketika melintasinya seketika muncul rasa takut akan terjatuh atau sebagainya sehingga kita tidak lepas berdoa sepanjang tebing ini, mengharap keselamatan.
 
Tebing doa


Sebenarnya jalur Tebing Doa bisa dilewati dengan aman apabila kita melengkapi diri dengan peralatan memanjat seperti kernmantel, harness, figure-8, dan carabiner, karena disana sebenarnya sudah tersedia anchor untuk menambatkan tali, dengan peralatan memanjat lengkap dan didampingi oleh teman yang sudah ahli dalam hal artificial climbing justru membuat pendakian melewati jalur ini menjadi mengasyikkan dan menawarkan sensasi tersendiri yang tidak akan didapatkan apabila kita melalui jalur reguler. Saya mendapatkan kesempatan yang sangat langka untuk bisa menggapai puncak Manglayang melalui Tebing Doa ini bersama beberapa teman dengan peralatan climbing standar dan dua teman yang sudah sangat faham teknik artifisial climbing.

Titik start buper Batukuda


Dari lokasi parkir Batukuda, jarak menuju Tebing Doa sekitar 1.5 km menanjak dengan elevasi sekitar 350 meter, lepas dari lokasi bumi perkemahan kondisi  jalur pendakian berubah menjadi ladang – ladang petani di kemiringan lereng, semakin ke atas ladang pun berganti menjadi semak ilalang dan pepohonan bambu, dan lembah di kiri kanan jalur mulai terlihat semakin dalam. Terlihat di kejauhan beberapa tenda berdiri di puncak bukit Papanggungan, salah satu spot  untuk menikmati sunrise menarik yang ada kawasan gunung Manglayang ini selain di spot puncak timur. Pemandangan yang tersaji di sepanjang jalur pendakian cukup membuat mata segar, hamparan pemandangan Bandung selatan terlihat jelas, di kiri kanan lembah yang dalam dipenuhi pepohonan lebat, mereka inilah yang akan selalu menjamin ketersediaan air di kawasan Bandung Timur dan sekitarnya. Setelah 1,5 jam perjalanan tibalah kami di spot Tebing Doa, jalur pendakian seperti buntu dan berakhir di sebuah tebing setinggi sekitar 10m, tegak berdiri dengan kemiringan lebih dari  60ยบ, namun sebenarnya di tebing pertama ini terdapat “chicken way”, yaitu jalur setapak di sebelah barat tebing yang langsung menuju puncak tebing.




Beberapa teman yang memang ingin mencoba mencicipi tebing ini segera mengeluarkan peralatan pemanjatan dan mempersiapkan diri untuk melakukan pemanjatan. Beruntung sudah ada beberapa anchor yang sudah dipasang oleh para pemanjat sebelumnya sehingga memudahkan teman – teman kami untuk memanjat tebing ini, ada 3 orang teman yang melewati tebing ini, sedangkan saya dan 5 orang teman lainnya memilih untuk melewati jalur di sebelah barat dan menunggu teman – teman yang tengah berupaya melewati tebing ini. Sambil menunggu saya melemparkan pandangan ke arah selatan, pemandangan semakin indah tersaji di sini, namun sayang tidak lama kemudian kabut datang menutupinya. Hampir 45 menit teman – kami menaikinya, dan pukul 12 kami semua sudah berada di atas tebing pertama, ini belum habis karena tebing kedua sudah menghadang, dan di sini sudah tidak ada lagi “chicken way” sehingga mau tidak mau kami semua harus menaiki tebing yang kedua ini.


Leader kami sedang melakukan persiapan pemanjatan




Tebing yang kedua ketinggiannya hampir sama namun tingkat kemiringan tidak seekstrem tebing pertama, hanya saja walau tidak semiring tebing pertama, tebing kedua ini hampir tidak memiliki tonjolan batu untuk pegangan atau pijakan, khususnya untuk kami yang sangat awam akan dunia climbing. Teman kami yang sudah faham teknik pemanjatan kemudian menjadi orang pertama yang menaiki tebing ini sekaligus memasang tali pengaman di sepanjang tebing, dan ternyata di tebing kedua inipun sudah terdapat anchor sehingga memudahkan untuk memasang tali.




Setelah semua terpasang sempurna dan aman, satu persatu kami menaiki tebing ini, dengan instruksi yang diberikan kami semua merayap, dan dengan peralatan yang selengkap ini memang mampu memberikan keamanan dan kenyamanan bagi kami khususnya yang awam sehingga kami dengan percaya diri mampu melewati tebing kedua, memakan waktu satu jam untuk kami semua bisa melewati tebing kedua ini, setelah semua berada di atas perjalanan pun dilanjutkan. Uji nyalinya sudah berakhir di sini? Ternyata belum, selepas tebing kedua kami harus berjalan di jalur setapak menanjak selebar kurang dari 75cm, ditambah hamparan bebatuan lepas membuat kami gemetaran ketika melewatinya, di sisi kiri dan kanan jurang menganga dengan kedalaman lebih dari 100 m. dan akhirnya tepat pukul 13.30 akhirnya kami semua tiba di puncak timur gunung Manglayang atau yang dikenal juga dengan Puncak Prisma (1660 mdpl).





Di Puncak Prisma kami beristirahat sekaligus mengisi perut yang sejak tadi minta diisi, hampir 1 jam kami menghabiskan waktu di sini, dan tepat pukul 15.00 kami segera berkemas dan bersiap pulang dengan melalui jalur Batukuda, dan untuk mencapai jalur Batukuda kami terlebih dahulu harus mencapai puncak utama Manglayang (1824 mdpl). Satu persatu kami mulai meninggalkan puncak timur menuju puncak utama, dan mulai melangkah pelan meyusuri jalur menanjak curam, jarak dari puncak timur ke puncak utama sekitar 700 m dengan elevasi ±200 m. pukul 15.45 kami semua tiba di puncak Manglayang, beristirahat sejenak melemaskan otot. 


Foto keluarga di puncak prisma berlatar kabut

Tracklog & elevation profile

Hari mulai mendung, tak lama beristirahat kami segera beranjak turun menuju Batukuda, saya berada di posisi terdepan dan turun agak buru – buru berhubung saya ada rencana lain yang harus diselesaikan hari itu. Hanya berhenti sejenak untuk mengenakan jas hujan melanjutkan perjalanan turun sendirian, tepat pukul 17.00 saya tiba di buper Batukuda, segera membersihkan diri, menyantap makanan ringan sambil menunggu teman – teman yang lain. 20 menit berselang 2 orang teman sampai di Batukuda, saya segera pamit dan langsung meluncur ke Bandung yang semakin beranjak senja.


*foto-foto diambil dari koleksi team "Ayo Nanjak" Bandung


Tuesday, November 21, 2017

SERUNYA SENSASI NIGHT HIKING BATUKUDA – PUNCAK GUNUNG MANGLAYANG

 Seperti halnya night riding yang tujuannya mencari suasana dan tantangan baru ketika melakukan aktifitas bersepeda, night Hiking atau tektok malam hari (tektok = oneday hiking) juga cukup menarik dan menawarkan tantangan dan sensasi tersendiri. Setelah lebih dari 10 tahun lalu saya sempat melakukan pendakian malam hari, saya berkesempatan kembali merasakan serunya night Hiking ke kawasan timur Bandung bersama beberapa teman. Hiking atau tektok malam hari memiliki beberapa keuntungan seperti udara yang lebih sejuk sehingga membuat kondisi tubuh tidak cepat lelah, juga kondisi malam yang gelap cukup bisa “menyembunyikan” tanjakan – tanjakan terjal sehingga mental kita cukup terjaga, tidak drop ketika melihat tanjakan yang akan dihadapi, dan tentu saja bonus sunrise yang akan kita dapatkan begitu kita menginjakkan kaki di puncak.
  


Minggu dinihari di akhir libur panjang Idul Fitri tahun 2015 kemarin tektok dilaksanan dengan tujuan puncak gunung Manglayang (1824 mdpl) sekaligus menikmati sunrise di puncak timur (1665 mdpl) yang sudah cukup terkenal keindahannya di antara para pendaki Manglayang. Pukul 01.15 dini hari setelah saya dan 5 orang teman  berkumpul di daerah Cibiru, kami bergerak menuju bumi perkemahan Batukuda yang menjadi titik awal pendakian gunung Manglayang, 15 menit kemudian kami semua tiba di buper Batukuda (1100 mdpl), mendaftarkan diri di pos pendakian dan tepat pukul 01.45 kami semua meninggalkan pos pendaftaran untuk memulai pendakian. Suhu dingin di awal perjalanan sempat kami rasakan, namun tidak sampai 30 menit kami berjalan, semua mulai menanggalkan jaket karena tanjakan – tanjakan di awal pendakian telah membuat tubuh panas dan berkeringat. Jalur pendakian kering dan berdebu, sepertinya dampak musim kemarau sangat terasa di sekitar kawasan ini. Saya membayangkan “penderitaan” yang akan dirasakan apabila tektok dilakukan siang hari, sengatan sinar matahari dan debu pasti akan setia menemani perjalanan menapaki jalur pendakian curam di gunung ini. Gelapnya malam ternyata mampu menyembunyikan kekejaman jalur pendakian gunung Manglayang.


Satu per satu tanjakan terlewati, saling mengobrol di sepanjang perjalanan membuat perjalanan menjadi menarik, hangatnya obrolan menghilangkan suasana mencekam yang biasanya selalu menghampiri kala malam gelap gulita. Waktu terus berjalan, tidak terasa sudah 2,5 jam kami berjalan dan sudah lebih dari 2 km jalur ditempuh, pantas saja lutut sudah agak goyah dan badan terasa letih. Kami berhenti sejenak untuk beristirahat, sayup terdengar lantunan azan awal di kejauhan, damai sekali rasanya suasana di tempat beristirahat ini, di depan kami sungguh gelap, entah seperti apa jalur yang akan dihadapi selanjutnya. Setelah sekitar 10 menit kami beristirahat perjalanan dilanjutkan, sekitar 30 berjalan, kami bertemu jalur mendatar, perangkat GPS menunjukkan bahwa kami saat ini berada di kawasan puncak bayangan (±1669 mdpl). Jarak ke puncak utama sekitar 500 m garis lurus, terlihat kontur yang semakin rapat, pertanda kami akan menghadapi jalur yang menanjak curam. Di ketinggian ±1720 mdpl kami bertemu dengan tanjakan yang tersusun dari batu – batu besar, cukup menguras tenaga menaklukkannya, nanti siang ketika kami turun kami pasti akan mengetahui wujud asli tanjakan kejam ini.


Pukul 04.15 kami semua tiba di puncak utama gunung Manglayang (1824 mdpl), banyak tenda berdiri di sini, namun kami tidak sempat berhenti, perjalanan tetap dilanjutkan menuju puncak timur tujuan utama kami. Jarak dari puncak utama sampai ke puncak timur sekitar 750 m dengan kondisi menurun curam, karena perbedaan ketinggian yang hampir 200 m dengan puncak timur. 15 menit kami berjalan, sesekali kami harus melipir di antara tenda – tenda pendaki yang didirikan di jalur menuju puncak timur. Tepat ketika azan subuh berkumandang kami semua tiba di puncak timur gunung Manglayang (±1665 mdpl) atau yang dikenal juga dengan puncak Prisma. Segera kami mencari lokasi yang strategis di kawasan puncak yang sebenarnya cukup sempit ini, menunggu terbitnya sang mentari sambil berharap bisa mendapatkan momen sunrise yang sangat menakjubkan itu. Beberapa pendaki mulai berdatangan juga ke kawasan puncak timur dengan tujuan yang sama. Pukul 05.00 fajar menyingsing, selarik garis keemasan mulai nampak mewarnai ujung langit timur yang pekat, perlahan sang mentari mulai terbangun dari peraduannya, menghapus gelap dan cahaya pagi mulai memainkan perannya.





05.45 sunrise sudah sempurna berwujud, kami semua menghadap ke arah timur sambil memegang kamera masing – masing, mulai mengabadikan momen menakjubkan yang sudah dinanti – nanti ini, lupa sudah kami semua pada dinginnya udara pagi yang sesekali ditingkahi hembusan angin kencang. Hanya satu yang tidak kami jumpai saat itu, gumpalan awan putih di bawah puncak gunung yang kemudian memunculkan istilah “negeri di awan” itu tidak nampak, entah karena faktor ketinggian gunung ini atau adah hal lain, entahlah, kami tidak begitu faham. Untuk menyambut pagi yang cerah ini sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja tanpa suguhan kopi panas dan beberapa makanan ringan. Segera teman kami mengeluarkan kompor dan perlengkapan masak portabel kemudian mendidihkan air, tak lama kemudian beberapa gelas minuman panas dan makanan ringan tersaji di hadapan. Sambil menikmati sarapan pagi kami menikmati pemandangan di sekeliling puncak. Di timur pandangan tertuju pada puncak gunung tinggi menjulang, itulah gunung tertinggi di jawa barat, gunung Ciremai, terus bergeser ke tenggara, kami mendapati gunung Geulis dan samar terlihat gunung Kerenceng – Kareumbi, gunung Buyung, Mandalawangi, terus menyambung ke selatan sang tanah tertinggi di Bandung Raya gunung Kendang anggun berdiri seakan berdampingan dengan pegunungan Malabar. Hampir semua gunung di kawasan selatan Bandung sangat terlihat jelas dari puncak timur. 





2 jam lebih kami berada di puncak Timur, tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 07.45, kami segera membereskan bawaan, merapikan backpack, tak lupa membersihkan sampah kemasan bekas sarapan untuk kami bawa ke bawah. Tepat pukul 08.00 kami beranjak meninggalkan puncak timur menuju puncak utama. Sekarang terlihat jelas pemandangan di sekeliling puncak timur ini, tak jauh dari posisi kami tadi terdapat jalur Barubeureum Kiara Payung Jatinangor di sebelah utara puncak, di sebelah selatan terlihat jajaran pegunungan selatan Bandung, dan di sebelah barat pemandangan tertumbuk pada tubuh gunung Manglayang yang masih diselimuti pepohonan cukup rapat. Sebenarnya dari puncak timur ada jalur yang langsung menuju buper Batukuda, yaitu jalur Tebing Doa, namun jalur ini sangat tidak direkomendasikan untuk dilalui karena kondisi jalur yang ekstrem, di beberapa bagian jalur berada di tebing dengan kemiringan lebih dari 60ยบ dan kita harus meniti dan menuruni tebing itu. Karena terjalnya tebing itu, ketika seseorang melewatinya dia tidak henti – hentinya berdoa agar dia selamat sampai ke bawah, mungkin dari sanalah tebing tersebut dinamakan Tebing Doa. Trip puncak Manglayang melalui jalur tebing doa ini akan saya ceritakan di tulisan berikutnya.

Narsis dulu sebelum pulang :)

Jalur menuju puncak utama gn Manglayang

Seperti diduga sebelumnya, ternyata benar jalur menuju puncak utama cukup terjal dan menguras tenaga. Pukul 08.45 kami tiba kembali di puncak utama, kami pun beristirahat sambil mengambil beberapa foto di plang triangulasi. Pukul 09.00 kami meninggalkan puncak utama untuk kembali ke buper Batukuda. Ternyata benar saja tanjakan batu yang dilewati sebelumnya itu sangat curam, beruntung sekali gelapnya malam telah menyembunyikannya. 

Puncak utama Manglayang 1824 mdpl




Hari semakin panas, daun – daun tampak kecoklatan dibakar panasnya matahari kemarau. Kami mempercepat langkah supaya cepat sampai ke buper Batukuda. Dan pukul 11 lebih kami semua tiba di buper Batukuda, setelah beristirahat dan melapor kembali ke pos pendakian, tepat pukul 12 siang kami beranjak meninggalkan buper Batukuda kembali ke rumah masing – masing.

Buper Batukuda



*Sebagian foto diambil dari koleksi foto mang Agus Suga

Wednesday, October 25, 2017

MENJEJAKKAN KAKI DI PUNCAK MANDALAWANGI, MENGUNJUNGI “PERISTIRAHATAN TERAKHIR SANG NINI”

Gunung Mandalawangi berketinggian 1650 mdpl berada di ujung timur kota Bandung, berbatasan langsung dengan kabupaten Garut. Jalur pendakian yang paling umum adalah melalui kampung Cibisoro desa Bojong kecamatan Nagreg yang bisa diakses dari jalan raya Nagreg samping markas Yonif Linud 330 Kostrad, berjarak sekitar 3 km dengan menyusuri jalan beraspal mulus ke arah selatan. Gunung ini menjadi gunung tertinggi di kawasan timur Bandung, sehingga saya pribadi memasukannya ke dalam daftar gunung tertinggi mewakili kawasan timur dalam daftar 7 Summits/ 7S Gunung Bandung melalui pendekatan arah mata angin (Pikiran Rakyat edisi 16 Agustus 2015). Sedangkan kawan – kawan komunitas Jelajah Gunung Bandung memasukkan gunung ini ke dalam daftar 7 Summits Gunung Bandung berdasarkan aspek kesejarahan dengan bertolak dari pembagian wilayah Bandung tempo dulu yang dikenal dengan Tatar Ukur. Tatar Ukur itu sendiri terbagi dalam 9 wilayah yang disebut dengan Ukur Sasanga dan menempatkan gunung Mandalawangi sebagai penanda dari wilayah Ukur Pasirpanjang dalam Ukur Sasanga tadi. Jelajah Gunung Bandung/ JGB kemudian melakukan ekspedisi 7S mendaki gunung – gunung dalam daftar 7S tersebut pada tanggal 17 – 25 Oktober 2015 bertepatan dengan milad kelima komunitas ini.

Gunung Mandalawangi

Pendakian kali ini juga sebagai salah satu agenda dari beberapa kegiatan dalam menyambut milad Jelajah Gunung Bandung/ JGB yang saat ini sudah menginjak usia 7 tahun, sengaja dipilih gunung Mandalawangi sebagai upaya untuk memperkenalkan bahwa gunung di seputaran Bandung itu tidak hanya melulu di kawasan utara dan selatan saja, tetapi di kawasan timur juga memiliki gunung eksotis dan sangat layak untuk dijelajahi, serta untuk kembali mengingatkan kita bahwa gunung ini telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah berdirinya kota Bandung.

Pendakian dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober 2017, dan start tepat pada  pukul 09.15. Pendakian kali ini melibatkan sekitar 20 peserta. Setelah berdoa bersama tim bergerak menyusuri jalan makadam yang di kanan kirinya terdapat banyak “Lio” atau tempat untuk memproduksi batu bata. Tanah di sekitar lio terlihat berundak, ada yang tinggi, ada yang rendah bahkan sudah lebih rendah dari permukaan jalan, permukaan tanah yang lebih rendah menandakan bahwa material tanah di sekitar situ sudah dieksplorasi untuk dijadikan batu bata. Tak lama berselang kami masuk ke jalur ladang, semakin berjalan ke atas pepohonan semakin rimbun dan memayungi tim yang sudah sedikit kepanasan terpapar sinar matahari, hampir 15 menit kami berjalan dari bibir jalan setapak hingga ke pintu hutan, jalur tidak ada bonus datar dan batu – batu besar terhampar di jalur pendakian, terlihat lebih mirip sungai kering. 





Meskipun jalur masih terlihat jelas, namun tetap pada satu titik kami sempat salah menentukan jalur yang akan dilalui, karena jalur yang asli tertutup rerimbunan pohon bambu, membuat kami akhirnya memilih jalur yang sedikit melambung ke arah kiri jalur sebenarnya, dan jalur ini berakhir tidak jauh dari titik jalur yang tertutup rerimbunan bambu tadi. Dari sini perjalanan seharusnya sedikit diperlambat supaya tidak kembali salah menentukan jalur, namun kami yang bersemangat lupa akan hal tersebut, dan akhirnya kembali harus masuk ke jalur yang salah, karena belokan ke jalur yang sebenarnya tertutup rerimbunan. Penyimpangan jalur kali ini lumayan jauh dan menguras tenaga, kami naik ke punggungan, dan ketika sampai di atas, jalur hilang, sementara jalur yang sebenarnya ternyata di bawah posisi kami saat ini. Alhasil kami harus menuruni lembah serta menerabas rerimbunan, webbing pun dipergunakan untuk mempermudah gerak menuruni lembah yang licin dan lembab, di dasar lembah kami kembali harus naik dengan menerabas untuk kembali ke jalur yang sebenarnya, dan webbing kembali menjadi penolong melewati lembahan ini.





Sekitar pukul 12.30 siang kami baru bisa kembali ke jalur pendakian yang sebenarnya di ketinggian ±1388 m, beristirahat sebentar dan perjalanan pun dilanjutkan kembali karena masih ada sekitar 1,6 km lagi untuk mencapai puncak Mandalawangi. Kami diingatkan kembali untuk jangan meremehkan gunung – gunung Bandung, persoalannya bukan hanya sekedar ketinggian yang tidak seberapa, tetapi samarnya jalur, rapatnya vegetasi serta terjalnya medan menjadi catatan tersendiri yang bisa membuat siapapun tidak akan mudah mendakinya




Target awal mencapai puncak pukul 12 siang tampaknya harus segera direvisi menjadi mencapai puncak secepat mungkin. Jalur pendakian masih menanjak namun tidak securam di awal tadi, pepohonan semakin rimbun, tampak juga pepohonan berbatang raksasa,  berusia puluhan tahun. Target untuk cepat menggapai puncak membuat para leader di depan mempercepat langkah, namun sayangnya langkah mereka tidak terkejar oleh kami yang berada di belakang, kami tercecer menjadi beberapa grup kecil. Sekitar pukul 13.45 kami tiba di sebuah puncakan di ketingian ±1590 m, di sana kami bertemu dengan beberapa pemburu burung, sepertinya sang leader menanyakan arah puncak Nini Ranteng ke pemburu tadi dan mereka menunjuk ke puncakan yang ada di sebelah barat puncak utama, kami juga yang buta jalur mengikuti saja petunjuk yang diberikan oleh pemburu, beruntung tak lama kemudian para leader datang dan menyebut bahwa puncak Nini Ranteng yang dimaksud para pemburu berbeda dengan puncak Nini Ranteng atau puncak utama hasil plotting kawan JGB sebelumnya, setelah sedikit berunding kami memutuskan untuk mengikuti jalur dari tracklog yang mengarah ke puncak tertinggi.




Jalan semakin menanjak, fisik semakin melemah membuat kembali beberapa peserta tercecer, pada pukul 14.00 saya beserta 5 orang kawan akhirnya menginjakkan kaki di puncak Mandalawangi kemudian berturut – turut anggota tim berdatangan, alhamdulillah akhirnya seluruh tim tiba di puncak Mandalawangi. Puncak utama mandalawangi (1650 mdpl) berupa dataran tidak terlalu luas dan tepat di tengahnya terdapat formasi batuan menyerupai makam, yang menurut kawan yang mendaki gunung ini jauh sebelum kami, inilah “makam Nini Ranteng”, bertolak belakang dengan “makam Nini Ranteng” versi pemburu yang merujuk pada puncak berketinggian 1560 m di sebelah barat puncak utama, mungkin saja di “puncak 1560” itu memang terdapat makam, harus didatangi pada kesempatan berikutnya untuk membuktikannya.


Makam Nini Ranteng Puncak Mandalawangi




“Makam Nini Ranteng” awalnya terlihat seperti berada di dalam saung, hanya ketika kami tiba disana, bangunan saung tersebut hanya menyisakan rangkanya saja, juga kain putih yang melilit batang – batang pohon di sekeliling makam yang dijumpai teman – teman tim 7S JGB sudah tidak nampak lagi. Beruntung sekali cuaca selama perjalanan naik cerah sehingga bisa mempermudah langkah kaki menuju puncak, namun meskipun cerah, tetap saja beberapa dari kami terkena serangan pacet, mungkin akibat lingkungan yang sangat lembab karena pepohonan yang rindang membuat sang pacet tidak terganggu oleh cuaca cerah saat itu.  






Segera kami membuka perbekalan dan mengisi perut untuk mengembalikan stamina yang sudah terkuras sejak tadi, 4 orang peserta turun lebih dahulu berhubung waktu yang mereka miliki tidak memungkinkan untuk ikut turun bersama kami. Hampir 1 jam kami berada di puncak Nini Ranteng, rencana turun pukul 16 dan target sampai mesjid kampung Cibisoro saat magrib atau pukul 18.00. setelah berfoto bersama dan berdoa untuk kelancaran kami semua, satu per satu tim meninggalkan “peristirahatan terakhir Nini Ranteng”, puncak utama Mandalawangi.







Pukul 15.40 kami beranjak turun tidak menggunakan jalur semula, tapi mengambil jalur yang sedikit mengarah ke timur, dengan harapan bisa memotong jalur memutar di sekitar tempat bertemu pemburu burung tadi. Entah karena keasyikan menikmati jalur menurun, kami jadi lengah tidak memperhatikan GPS akhirnya berjalan terlalu melenceng ke arah selatan, beruntung kami cepat tersadar. Kami berhenti, melihat peta digital dan berdiskusi, dan diputuskan untuk kembali ke jalur asli dengan cara melipir melintasi 2 punggungan dan 1 lembahan, saat itu kami sudah berjalan sekitar 700 m dan berada di sebuah puncakan di ketinggian 1494 m, dari puncakan kami mencoba untuk terus turun ke arah lembahan di sebelah utara. Namun karena hari semakin sore, apabila diteruskan untuk menerabas membuka jalur, kami tidak tahu akan memakan waktu berapa lama lagi meskipun posisi kami sebenarnya berada tidak begitu jauh dari posisi melenceng di waktu perjalanan naik tadi siang, hanya berjarak ± 200 m saja. Pertimbangan lainnya adalah kami tidak tahu kondisi medan di depan real-nya seperti apa, karena rupa kontur di peta tidak akan sama persis dengan apa yang ada di lapangan, di lembahan dengan kondisi seperti sungai kami takutkan akan dihadang tebing air terjun, atau semak belukar sangat rapat yang sulit ditembus. Maka diputuskanlah kami akan melintasi punggungan ini menuju lembah, kemudian naik lagi ke punggungan berikutnya tempat jalur yang asli berada.

Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, alhamdulillah setelah berjalan sekitar 350 m menerabas semak kami sampai juga di jalur yang asli. GPS menunjukkan ketinggian 1478 m, dan masih menyisakan jarak ± 2.8 km lagi untuk mencapai kampung Cibisoro. Segera kami re-grouping, senter – senter dipersiapkan, dan perlahan mulai bergerak menembus hari yang sudah beranjak gelap, jalur yang siang pun terlihat samar membuat kami harus ekstra konsentrasi ketika melewatinya di kegelapan malam, beberapa kali kami melenceng keluar dari jalur. Pukul 17.50 kami  tiba di sebuah dataran, beristirahat sejenak sambil mendiskusikan jalur yang akan ditempuh untuk turun, khususnya di persimpangan tempat tadi melenceng sewaktu naik, dan diputuskan kami akan mengikuti jalur 7S.

Pukul 18.00 perjalanan dilanjutkan, hari telah gelap sempurna, kami berjalan ditemani senter dan tak lama kemudian tiba di persimpangan jalur 7S dan jalur melenceng siang tadi. Kami tidak menyadari bahwa ternyata jalur ini sudah sangat banyak berubah dari semenjak tim 7S melewatinya, sekarang jalur tersebut sudah serupa sungai kering dengan jeram – jeram yang cukup dalam, tidak mungkin rasanya untuk terus memaksakan melewatinya, solusinya adalah dengan melewati pinggirannya. Satu per satu kami pun berjalan di pinggiran “sungai kering” tadi, semakin ke bawah medan semakin curam, webbing pun dipergunakan untuk memperlancar pergerakan. Jalur yang berat dan kondisi fisik yang melemah benar - benar menjadi ujian bagi kami, satu per satu anggota tim menuruni jalur dengan berpegangan pada webbing yang sudah ditambatkan di atas. pukul 19.00 kami semua berhasil melewati jalur sungai dan tiba di sebuah persimpangan dengan area dataran cukup luas, kami beristirahat sejenak sekedar mengendurkan otot kaki yang semakin menegang. Masih tersisa ±2 km lagi untuk mencapai kampung Cibisoro, namun dari sini kerlip lampu pemukiman sudah mulai terlihat, cukup membuat kami sedikit tenang, setelah tim lengkap segera perjalanan dilanjutkan. Jalur berbatu cukup menyiksa namun semangat untuk segera keluar hutan dan kembali ke “peradaban” membuat perjalanan serasa cepat. Pukul 20.15 akhirnya kami keluar pintu hutan, dan tidak lama kemudian masuk ke jalur ladang, dan bertemu jalan makadam. Tepat pukul 20.30 saya dan seluruh tim akhirnya tiba dengan selamat di kampung Cibisoro.

Tracklog

Hari semakin larut membuat kami tidak bisa berlama – lama, terutama saya yang masih harus melanjutkan perjalanan pulang ke Singaparna Tasikmalaya. Saya dan beberapa teman memutuskan untuk pulang duluan, setelah berpamitan kami pun meninggalkan teman – teman yang lain yang masih beristirahat, satu per satu motor beranjak turun meninggalkan kampung Cibisoro yang sudah senyap dalam dekapan malam, dan hari itu Mandalawangi telah memberikan kami banyak cerita, pengetahuan dan pengalaman berharga untuk kami bawa pulang.