Wednesday, October 25, 2017

MENJEJAKKAN KAKI DI PUNCAK MANDALAWANGI, MENGUNJUNGI “PERISTIRAHATAN TERAKHIR SANG NINI”

Gunung Mandalawangi berketinggian 1650 mdpl berada di ujung timur kota Bandung, berbatasan langsung dengan kabupaten Garut. Jalur pendakian yang paling umum adalah melalui kampung Cibisoro desa Bojong kecamatan Nagreg yang bisa diakses dari jalan raya Nagreg samping markas Yonif Linud 330 Kostrad, berjarak sekitar 3 km dengan menyusuri jalan beraspal mulus ke arah selatan. Gunung ini menjadi gunung tertinggi di kawasan timur Bandung, sehingga saya pribadi memasukannya ke dalam daftar gunung tertinggi mewakili kawasan timur dalam daftar 7 Summits/ 7S Gunung Bandung melalui pendekatan arah mata angin (Pikiran Rakyat edisi 16 Agustus 2015). Sedangkan kawan – kawan komunitas Jelajah Gunung Bandung memasukkan gunung ini ke dalam daftar 7 Summits Gunung Bandung berdasarkan aspek kesejarahan dengan bertolak dari pembagian wilayah Bandung tempo dulu yang dikenal dengan Tatar Ukur. Tatar Ukur itu sendiri terbagi dalam 9 wilayah yang disebut dengan Ukur Sasanga dan menempatkan gunung Mandalawangi sebagai penanda dari wilayah Ukur Pasirpanjang dalam Ukur Sasanga tadi. Jelajah Gunung Bandung/ JGB kemudian melakukan ekspedisi 7S mendaki gunung – gunung dalam daftar 7S tersebut pada tanggal 17 – 25 Oktober 2015 bertepatan dengan milad kelima komunitas ini.

Gunung Mandalawangi

Pendakian kali ini juga sebagai salah satu agenda dari beberapa kegiatan dalam menyambut milad Jelajah Gunung Bandung/ JGB yang saat ini sudah menginjak usia 7 tahun, sengaja dipilih gunung Mandalawangi sebagai upaya untuk memperkenalkan bahwa gunung di seputaran Bandung itu tidak hanya melulu di kawasan utara dan selatan saja, tetapi di kawasan timur juga memiliki gunung eksotis dan sangat layak untuk dijelajahi, serta untuk kembali mengingatkan kita bahwa gunung ini telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah berdirinya kota Bandung.

Pendakian dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober 2017, dan start tepat pada  pukul 09.15. Pendakian kali ini melibatkan sekitar 20 peserta. Setelah berdoa bersama tim bergerak menyusuri jalan makadam yang di kanan kirinya terdapat banyak “Lio” atau tempat untuk memproduksi batu bata. Tanah di sekitar lio terlihat berundak, ada yang tinggi, ada yang rendah bahkan sudah lebih rendah dari permukaan jalan, permukaan tanah yang lebih rendah menandakan bahwa material tanah di sekitar situ sudah dieksplorasi untuk dijadikan batu bata. Tak lama berselang kami masuk ke jalur ladang, semakin berjalan ke atas pepohonan semakin rimbun dan memayungi tim yang sudah sedikit kepanasan terpapar sinar matahari, hampir 15 menit kami berjalan dari bibir jalan setapak hingga ke pintu hutan, jalur tidak ada bonus datar dan batu – batu besar terhampar di jalur pendakian, terlihat lebih mirip sungai kering. 





Meskipun jalur masih terlihat jelas, namun tetap pada satu titik kami sempat salah menentukan jalur yang akan dilalui, karena jalur yang asli tertutup rerimbunan pohon bambu, membuat kami akhirnya memilih jalur yang sedikit melambung ke arah kiri jalur sebenarnya, dan jalur ini berakhir tidak jauh dari titik jalur yang tertutup rerimbunan bambu tadi. Dari sini perjalanan seharusnya sedikit diperlambat supaya tidak kembali salah menentukan jalur, namun kami yang bersemangat lupa akan hal tersebut, dan akhirnya kembali harus masuk ke jalur yang salah, karena belokan ke jalur yang sebenarnya tertutup rerimbunan. Penyimpangan jalur kali ini lumayan jauh dan menguras tenaga, kami naik ke punggungan, dan ketika sampai di atas, jalur hilang, sementara jalur yang sebenarnya ternyata di bawah posisi kami saat ini. Alhasil kami harus menuruni lembah serta menerabas rerimbunan, webbing pun dipergunakan untuk mempermudah gerak menuruni lembah yang licin dan lembab, di dasar lembah kami kembali harus naik dengan menerabas untuk kembali ke jalur yang sebenarnya, dan webbing kembali menjadi penolong melewati lembahan ini.





Sekitar pukul 12.30 siang kami baru bisa kembali ke jalur pendakian yang sebenarnya di ketinggian ±1388 m, beristirahat sebentar dan perjalanan pun dilanjutkan kembali karena masih ada sekitar 1,6 km lagi untuk mencapai puncak Mandalawangi. Kami diingatkan kembali untuk jangan meremehkan gunung – gunung Bandung, persoalannya bukan hanya sekedar ketinggian yang tidak seberapa, tetapi samarnya jalur, rapatnya vegetasi serta terjalnya medan menjadi catatan tersendiri yang bisa membuat siapapun tidak akan mudah mendakinya




Target awal mencapai puncak pukul 12 siang tampaknya harus segera direvisi menjadi mencapai puncak secepat mungkin. Jalur pendakian masih menanjak namun tidak securam di awal tadi, pepohonan semakin rimbun, tampak juga pepohonan berbatang raksasa,  berusia puluhan tahun. Target untuk cepat menggapai puncak membuat para leader di depan mempercepat langkah, namun sayangnya langkah mereka tidak terkejar oleh kami yang berada di belakang, kami tercecer menjadi beberapa grup kecil. Sekitar pukul 13.45 kami tiba di sebuah puncakan di ketingian ±1590 m, di sana kami bertemu dengan beberapa pemburu burung, sepertinya sang leader menanyakan arah puncak Nini Ranteng ke pemburu tadi dan mereka menunjuk ke puncakan yang ada di sebelah barat puncak utama, kami juga yang buta jalur mengikuti saja petunjuk yang diberikan oleh pemburu, beruntung tak lama kemudian para leader datang dan menyebut bahwa puncak Nini Ranteng yang dimaksud para pemburu berbeda dengan puncak Nini Ranteng atau puncak utama hasil plotting kawan JGB sebelumnya, setelah sedikit berunding kami memutuskan untuk mengikuti jalur dari tracklog yang mengarah ke puncak tertinggi.




Jalan semakin menanjak, fisik semakin melemah membuat kembali beberapa peserta tercecer, pada pukul 14.00 saya beserta 5 orang kawan akhirnya menginjakkan kaki di puncak Mandalawangi kemudian berturut – turut anggota tim berdatangan, alhamdulillah akhirnya seluruh tim tiba di puncak Mandalawangi. Puncak utama mandalawangi (1650 mdpl) berupa dataran tidak terlalu luas dan tepat di tengahnya terdapat formasi batuan menyerupai makam, yang menurut kawan yang mendaki gunung ini jauh sebelum kami, inilah “makam Nini Ranteng”, bertolak belakang dengan “makam Nini Ranteng” versi pemburu yang merujuk pada puncak berketinggian 1560 m di sebelah barat puncak utama, mungkin saja di “puncak 1560” itu memang terdapat makam, harus didatangi pada kesempatan berikutnya untuk membuktikannya.


Makam Nini Ranteng Puncak Mandalawangi




“Makam Nini Ranteng” awalnya terlihat seperti berada di dalam saung, hanya ketika kami tiba disana, bangunan saung tersebut hanya menyisakan rangkanya saja, juga kain putih yang melilit batang – batang pohon di sekeliling makam yang dijumpai teman – teman tim 7S JGB sudah tidak nampak lagi. Beruntung sekali cuaca selama perjalanan naik cerah sehingga bisa mempermudah langkah kaki menuju puncak, namun meskipun cerah, tetap saja beberapa dari kami terkena serangan pacet, mungkin akibat lingkungan yang sangat lembab karena pepohonan yang rindang membuat sang pacet tidak terganggu oleh cuaca cerah saat itu.  






Segera kami membuka perbekalan dan mengisi perut untuk mengembalikan stamina yang sudah terkuras sejak tadi, 4 orang peserta turun lebih dahulu berhubung waktu yang mereka miliki tidak memungkinkan untuk ikut turun bersama kami. Hampir 1 jam kami berada di puncak Nini Ranteng, rencana turun pukul 16 dan target sampai mesjid kampung Cibisoro saat magrib atau pukul 18.00. setelah berfoto bersama dan berdoa untuk kelancaran kami semua, satu per satu tim meninggalkan “peristirahatan terakhir Nini Ranteng”, puncak utama Mandalawangi.







Pukul 15.40 kami beranjak turun tidak menggunakan jalur semula, tapi mengambil jalur yang sedikit mengarah ke timur, dengan harapan bisa memotong jalur memutar di sekitar tempat bertemu pemburu burung tadi. Entah karena keasyikan menikmati jalur menurun, kami jadi lengah tidak memperhatikan GPS akhirnya berjalan terlalu melenceng ke arah selatan, beruntung kami cepat tersadar. Kami berhenti, melihat peta digital dan berdiskusi, dan diputuskan untuk kembali ke jalur asli dengan cara melipir melintasi 2 punggungan dan 1 lembahan, saat itu kami sudah berjalan sekitar 700 m dan berada di sebuah puncakan di ketinggian 1494 m, dari puncakan kami mencoba untuk terus turun ke arah lembahan di sebelah utara. Namun karena hari semakin sore, apabila diteruskan untuk menerabas membuka jalur, kami tidak tahu akan memakan waktu berapa lama lagi meskipun posisi kami sebenarnya berada tidak begitu jauh dari posisi melenceng di waktu perjalanan naik tadi siang, hanya berjarak ± 200 m saja. Pertimbangan lainnya adalah kami tidak tahu kondisi medan di depan real-nya seperti apa, karena rupa kontur di peta tidak akan sama persis dengan apa yang ada di lapangan, di lembahan dengan kondisi seperti sungai kami takutkan akan dihadang tebing air terjun, atau semak belukar sangat rapat yang sulit ditembus. Maka diputuskanlah kami akan melintasi punggungan ini menuju lembah, kemudian naik lagi ke punggungan berikutnya tempat jalur yang asli berada.

Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, alhamdulillah setelah berjalan sekitar 350 m menerabas semak kami sampai juga di jalur yang asli. GPS menunjukkan ketinggian 1478 m, dan masih menyisakan jarak ± 2.8 km lagi untuk mencapai kampung Cibisoro. Segera kami re-grouping, senter – senter dipersiapkan, dan perlahan mulai bergerak menembus hari yang sudah beranjak gelap, jalur yang siang pun terlihat samar membuat kami harus ekstra konsentrasi ketika melewatinya di kegelapan malam, beberapa kali kami melenceng keluar dari jalur. Pukul 17.50 kami  tiba di sebuah dataran, beristirahat sejenak sambil mendiskusikan jalur yang akan ditempuh untuk turun, khususnya di persimpangan tempat tadi melenceng sewaktu naik, dan diputuskan kami akan mengikuti jalur 7S.

Pukul 18.00 perjalanan dilanjutkan, hari telah gelap sempurna, kami berjalan ditemani senter dan tak lama kemudian tiba di persimpangan jalur 7S dan jalur melenceng siang tadi. Kami tidak menyadari bahwa ternyata jalur ini sudah sangat banyak berubah dari semenjak tim 7S melewatinya, sekarang jalur tersebut sudah serupa sungai kering dengan jeram – jeram yang cukup dalam, tidak mungkin rasanya untuk terus memaksakan melewatinya, solusinya adalah dengan melewati pinggirannya. Satu per satu kami pun berjalan di pinggiran “sungai kering” tadi, semakin ke bawah medan semakin curam, webbing pun dipergunakan untuk memperlancar pergerakan. Jalur yang berat dan kondisi fisik yang melemah benar - benar menjadi ujian bagi kami, satu per satu anggota tim menuruni jalur dengan berpegangan pada webbing yang sudah ditambatkan di atas. pukul 19.00 kami semua berhasil melewati jalur sungai dan tiba di sebuah persimpangan dengan area dataran cukup luas, kami beristirahat sejenak sekedar mengendurkan otot kaki yang semakin menegang. Masih tersisa ±2 km lagi untuk mencapai kampung Cibisoro, namun dari sini kerlip lampu pemukiman sudah mulai terlihat, cukup membuat kami sedikit tenang, setelah tim lengkap segera perjalanan dilanjutkan. Jalur berbatu cukup menyiksa namun semangat untuk segera keluar hutan dan kembali ke “peradaban” membuat perjalanan serasa cepat. Pukul 20.15 akhirnya kami keluar pintu hutan, dan tidak lama kemudian masuk ke jalur ladang, dan bertemu jalan makadam. Tepat pukul 20.30 saya dan seluruh tim akhirnya tiba dengan selamat di kampung Cibisoro.

Tracklog

Hari semakin larut membuat kami tidak bisa berlama – lama, terutama saya yang masih harus melanjutkan perjalanan pulang ke Singaparna Tasikmalaya. Saya dan beberapa teman memutuskan untuk pulang duluan, setelah berpamitan kami pun meninggalkan teman – teman yang lain yang masih beristirahat, satu per satu motor beranjak turun meninggalkan kampung Cibisoro yang sudah senyap dalam dekapan malam, dan hari itu Mandalawangi telah memberikan kami banyak cerita, pengetahuan dan pengalaman berharga untuk kami bawa pulang. 

Saturday, March 4, 2017

MENGAGUMI KEMEGAHAN CURUG CIPARAY DI KAKI GUNUNG GALUNGGUNG

Destinasi gowes saya berikutnya di Tasikmalaya adalah Curug Ciparay, terletak di lereng barat gunung Galunggung, tepatnya di kampung Parentas desa Cidugaleun kecamatan Cigalontang kabupaten Tasikmalaya, berjarak sekitar 15 km dari ibu kota Tasikmalaya, Singaparna. Lokasi wanawisata air terjun kembar ini berada di ketinggian 860 mdpl, masuk ke dalam wilayah BKPH Singaparna dan KPH Tasikmalaya. Curug pertama memiliki debit air sangat besar sedang curug yang satu lagi memiliki debit tidak begitu besar sehingga kita bisa mendekat hingga ke kolam penampungan airnya. 

Curug Ciparay

Awal Desember 2016 trip ini direalisasikan. Pukul 08 pagi sepeda mulai meluncur  menuju alun – alun Singaparna, seperti pada gowes sebelumnya, tidak banyak pesepeda yang saya temui, jauh berbeda dengan di Bandung yang selalu ramai oleh para pesepeda di setiap Minggu pagi. Dari alun alun sepeda diarahkan ke utara menuju jalan Leuwisari, masih juga tidak banyak ditemui para goweser, padahal menurut info yang saya dapat biasanya hari Minggu banyak yang gowes ke Curug Ciparay. 

Matahari tidak begitu terik pagi itu membuat kayuhan menjadi bersemangat. Lepas dari Leuwisari menuju desa Sariwangi masih belum ditemui tanjakan - tanjakan yang dapat membuat lutut goyah, hanya beberapa tanjakan landai yang masih bisa dilalui dengan mulus. 8 km lepas dari Singaparna barulah saya menemui tanjakan yang akhirnya mampu membuat nafas tersengal dan keringat bercucuran, ini ternyata adalah tanjakan pembuka sebelum akhirnya saya dipaksa untuk melahap tanjakan – tanjakan berikutnya yang lebih kejam. 2 km lepas dari tanjakan tadi saya tiba di jembatan Cidugaleun sepanjang ±100 m dengan sungai yang berair cukup deras di bawahnya, sungai ini berasal dari Curug Ciparay, saya semakin penasaran sebesar apakah Curug Ciparay, melihat derasnya air di sungai ini.




Tanjakan menyambut selepas jembatan Cidugaleun

Jembatan Cidugaleun berlatar gn. Galunggung

Sejenak saya beristirahat dan berfoto – foto, dengan latar gunung Galunggung membuat pemandangan di sekitar jembatan menjadi eksotis. Sambil mengumpulkan tenaga karena di depan sudah menghadang satu tanjakan lagi yang kelihatannya cukup panjang. Pedal kembali dikayuh, sejenak melihat peta di handphone, ternyata cukup panjang juga jalan menanjak ini, hampir 1,8 km dengan elevasi sekitar 85 m. Ternyata desa Cidugaleun ( ±680 mdpl) adalah akhir dari jalan ber-hotmix mulus, berikutnya ban sepeda harus menginjak jalan yang sebagian besar kondisinya sudah hancur. Komplit sudah, dengan stamina yang sudah menurun dihadapkan pada jalan menanjak sekaligus rusak. Gowes semakin melambat, ritme kayuhan dan handling sepeda diatur sedemikian rupa supaya sepeda tetap melaju. Jarak 900 m ditempuh hampir 15 menit, saya tiba di sebuah jembatan lagi, di atasnya terdapat spanduk besar bertuliskan “WANA WISATA CURUG CIPARAY 3 KM”. Tanjakan curam menanti di hadapan, susah payah sepeda dikayuh melewatinya. Sejenak saya berhenti mengatur nafas dan melemaskan otot kaki yang mulai keram. Sepeda saya tuntun sejenak menuju jalan yang agak datar, kondisi jalan sedikit membaik, perlahan sepeda kembali melaju dan saya memutuskan untuk berhenti di sebuah warung. Menurut pemilik warung, kampung tempat saya istirahat ini bernama kampung Pasir Pari, berada di ketinggian ±831 mdpl. Berarti dari jembatan tadi saya gowes dengan elevasi sekitar 142 m dan jarak 1,9 km namun memakan waktu hingga 45 menit. Dari sini ke lokasi curug sekitar 1,8 km lagi, dan dari gerbang tiket menuju titik air terjun kita harus menuruni jalan setapak sejauh sekitar 450 m. 






Berlatar gn. Karacak tertutup awan

Pukul 11.15 saya kembali melanjutkan perjalanan, selepas warung saya mendapatkan bonus jalan mendatar cenderung menurun. Di sebelah utara menjulang gunung Galunggung, sedang di hadapan saya gunung Karacak sedikit tertutup kabut. Jalan menurun ini mengantarkan saya menuju satu jembatan lagi, dari sini jalan sudah sepenuhnya hancur, jalan makadam menanjak harus ditempuh untuk sampai ke lokasi curug. Dengan terengah engah dan beberapa kali beristirahat akhirnya pada pukul 11.45 sampailah saya di lokasi wanawisata Curug Ciparay. Di bawah sana terlihat dua curug kembar dengan debit air cukup besar, setelah membayar tiket seharga Rp. 5.000,- sepeda saya bawa masuk dan dititipkan di warung, karena dengan kondisi jalan setapak menurun ditambah stamina yang sudah melemah tidak memungkinkan saya untuk membawa sepeda mendekati lokasi curug. Posisi warung – warung  berada di ±860m, berada di atas lembah dengan view menghadap ke sisi barat gunung Galunggung, posisinya seperti diapit oleh gunung Galunggung dan gunung Karacak. Jalan makadam ini kabarnya tembus ke daerah Wanaraja kab. Garut, dan kampung terdekat dari curug ini adalah kampung Parentas, lain waktu rasanya ingin mencoba gowes ke kampung Parentas dan pulang ke arah Garut.






Curug Ciparay berlatar gn. Galunggung


Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Curug Ciparay (±778 mdpl), meskipun tenaga sudah hampir habis, tapi rasa penasaran untuk melihat lebih dekat Curug Ciparay membuat saya kembali bersemangat. Dan pukul 12.20 sampailah saya di mulut air terjun , dua curug besar menyambut dengan hempasan angin bercampur titik titik air menerpa tubuh, debit air sangat besar yang jatuh inilah yang menyebabkan angin tersebut. Di tengah keajaiban alam ini, saya merasa sangat kecil, hanya rasa takjub meliputi saat menyaksikan kemegahan Curug Ciparay, pesona curug kembar yang memiliki ketinggian 75m dan 55 m ini membuat saya tidak mampu berkata apa – apa lagi. 












Kolaborasi dua hobi hehehe....

Hanya sekitar 10 menit berada di lokasi curug, saya harus segera kembali ke atas mengingat perjalanan pulang yang masih harus ditempuh, ditambah kondisi fisik yang sudah melemah, pasti akan membuat perjalanan pulang akan sama menyiksanya. Tertatih saya menuju ke warung tempat sepeda dititipkan, beberapa kali berhenti menarik nafas dan melenturkan otot kaki yang nyaris keram. Setibanya di warung segera saya menyantap makanan ringan untuk mengganjal perut dan mengisi kembali tenaga untuk saya pulang. Dan tepat pukul 13.15 saya meninggalkan Curug Ciparay, sepeda kembali menyusuri jalan makadam bersambung jalan hotmix mulus, menikmati turunan  - turunan panjang hingga ke kota Singaparna.


 

Sunday, December 11, 2016

GOWES SANTAI SINGAPARNA – SITU SANGHYANG CIBALANARIK TASIKMALAYA

Akhirnya kesempatan ini pun tiba, saya bisa gowes sedikit jauh dari rumah, tujuan saya adalah danau Situ Sanghyang. Secara administratif Situ Sanghyang berada di desa Cilolohan kecamatan Tanjungjaya kab. Tasikmalaya, berjarak sekitar 10 km dari ibu kota kabupaten Tasikmalaya, singaparna. Sedangkan lokasi danau yang erat dengan legenda “Si Buncireung” jelmaan Eyang Prabu Linggawastu ini berjarak sekitar 850 m dari jalan raya Cibalanarik. Danau alam yang memiliki luas sekitar 37 Ha  ini menawarkan panorama indah yang sayang untuk dilewatkan, dan bagi penggemar sepeda, selain kita bisa gowes menuju lokasi danau, kita juga berkesempatan untuk mencicipi singel trek offroad mengitari tepian danau, lumayan menarik menyusuri singel trek sejauh kurang lebih 3 km ini.




Musim hujan masih berlangsung ketika saya gowes mengunjungi danau ini, minggu pagi sekitar pukul 7 sepeda mulai melaju ke arah kota Singaparna, udara sejuk dan jalan  sedikit basah sisa hujan semalam. Beberapa pesepeda ditemui namun sebagian besar mereka berbelok ke arah GEBU atau Gedung Bupati (pusat pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya) semacam Gasibu-nya kota Bandung yang menjadi pusat keramaian di setiap minggu pagi. Meninggalkan GEBU, semakin jarang goweser ditemui, dan ketika saya sampai di pertigaan Mapolres Tasikmalaya di samping jalan raya Mangunreja – Sukaraja yang akan mengantarkan saya menuju ke Situ Sanghyang, tidak dijumpai lagi goweser yang searah dengan saya. Entah kepagian start gowesnya atau kenapa, sendirian saja menyusuri jalan raya Mangunreja – Cibalanarik ini tanpa berpapasan dengan goweser lain. Jalan berhotmix mulus membuat gowesan terasa ringan, di kiri kanan hamparan pesawahan menghijau, situasi ini menjadi tipikal rute gowes yang selalu saya temui di daerah Singaparna dan sekitarnya. Jalanan menurun landai, karena memang Situ Sanghyang sendiri berada di ketinggian 350 mdpl sedangkan kota Singaparna berada di ketinggian 410 mdpl menurut data GPS yang saya pegang.



Lepas dari kecamatan Mangunreja memasuki kecamatan Tanjungjaya rupanya adalah akhir dari jalan beraspal mulus, berikutnya sepeda harus dikayuh di jalan aspal yang sebagian besar sudah rusak, terus hingga menuju pertigaan Cibalanarik – Situ Sanghyang. Tepat pukul 08 sayapun tiba di pertigaan Cibalanarik – Situ Sanghyang, dan di sebelah kanan jalan terdapat gapura “SELAMAT DATANG DI OBYEK WISATA SITU SANGHYANG”. Dari pertigaan ini jarak menuju Situ Sanghyang tinggal sekitar 800 m  lagi,  dengan kondisi jalan yang masih saja buruk. Pukul 08.15 sampai juga di Situ Sanghyang, masih sangat sepi ketika saya tiba, bahkan penjaga loketpun belum tampak, matahari memantulkan cahayanya di permukaan danau, suasana hening seperti inilah memang yang saya harapkan setiap mengunjungi suatu tempat, dengan leluasa bisa menikmati setiap jengkal keindahan yang tersaji. Sepeda kemudian diarahkan ke arah kiri areal parkir, mencari spot yang pas untuk berfoto, di seberang danau tampak sebuah bangunan formasi huruf bertuliskan “SANGHYANG” menambah keindahan danau ini. Setelah mengambil beberapa foto sepeda kembali melaju di jalan selebar 1 mobil  menuju ke formasi huruf tersebut, ketika tiba di sana ternyata sudah ada beberapa orang yang tengah berfoto – foto, saya mengurungkan niat untuk berfoto - foto dan memilih untuk melanjutkan perjalanan menyusuri pinggiran danau, jalanan semakin hancur, dan akhirnya hanya menyisakan jalan setapak dengan kondisi basah dan licin.

Ini yang saya inginkan, singel trek basah di tengah rerimbunan semak bisa menjadi hiburan tersendiri, sepeda sedikit dipacu meskipun harus sedikit waspada, karena di beberapa titik terdapat monorail yang tertutup air bisa menjebak dan menjatuhkan kita dari sepeda. Sesekali berpapasan dengan petani yang tengah menuju ke ladang mereka, juga para pemancing yang tengah asyik memperhatikan ujung joran mereka, benar – benar suatu harmoni yang menarik di tengah keindahan Situ Sanghyang. Setelah berhenti sejenak, menyapa dan sedikit mengobrol dengan para pemancing tadi, sepeda kembali melaju menyusuri singel trek yang sudah sedikit kering, jalan kembali melebar namun masih berupa tanah merah, dan akhirnya setelah kurang lebih 3 km sepeda melaju, pukul 09 saya tiba kembali di area parkir.

singel trek di pinggiran situ Sanghyang



Saat itu gerbang tiket sudah dibuka, pengunjung sudah mulai berdatangan, para pedagang juga sudah mulai meramaikan sekitar Situ Sanghyang. Di area parkir ini terdapat beberapa tempat duduk dengan posisi menghadap danau, tempat ini rupanya yang menjadi spot berfoto seperti pada foto – foto yang kerap saya jumpai di internet. Beberapa goweser juga sudah tampak di sekitaran area parkir, namun saya harus bergegas pulang, saya berencana untuk pulang tidak melalui jalur yang sama, entah lewat mana, yang saya tahu jalan raya Cibalanarik berujung di daerah Papayan kecamatan Sukaraja, masih sekitar 15 km lagi, belum dari Papayan menuju Singaparna yang berjarak sekitar 25 km dengan kondisi menanjak pula. Melewati jalur memintas melalui Urug – Pamipiran pun sepertinya sama melelahkannya, meskipun bisa mengurangi jarak sekitar 5 km, tapi sama saja banyak tanjakan yang masih harus dihadapi.

mengintip pemancing




Jurus GPS-pun akhirnya dikeluarkan, “Gunakan Penduduk Sekitar” untuk mencari informasi jalur yang harus dilalui, dan setelah bertanya – tanya, info pun didapat. Rute terdekat menuju Singaparna adalah dengan melewati kampung Tonjong yang berjarak sekitar 1 km dari pertigaan Cibalanarik – Situ Sanghyang dan saya memutuskan untuk pulang dengan melewati rute tersebut. Saat itu saya belum tahu bahwa sebenarnya selain lewat Tonjong, ada juga jalur menuju Singaparna tetapi dengan melalui Cibeuti kecamatan Kawalu terlebih dahulu, yaitu melewati kampung Tambakbaya dan tembus ke Tanjung - Cibeuti dengan jarak yang lebih jauh, sekitar 3 km dari pertigaan Situ Sanghyang, nanti saja saya akan coba rute yang melewati Tambakbaya.





Hanya memakan waktu 15 menit untuk mencapai kampung Tonjong, jalan kembali berhotmix mulus, dan masih saja menurun, kaki masih terasa ringan menginjak pedal. Setibanya di pertigaan Tonjong, sepeda berbelok ke arah utara, kembali menemui jalan menurun dan di depan terbentang aliran sungai Ciwulan, rupanya ada sedikit surprise yang akan saya dapatkan di ujung turunan ini, sebuah jembatan gantung beralas kayu menyambut saya, di bawahnya mengalir deras sungai Ciwulan yang bermuara ke pantai Karang Tawulan selatan Tasikmalaya. Jembatan gantung yang mengingatkan saya kepada jembatan gantung yang menghubungkan kampung Daraulin dan jalan raya Cipatik - Soreang di selatan Bandung, namun jembatan gantung Tonjong lebih eksotis karena berada di lembah nan hijau dengan hamparan sawah – sawah, di bawahnya mengalir deras sungai Ciwulan dengan jeram – jeramnya yang eksotis. Sejenak saya berhenti di jembatan gantung Tonjong ini untuk mengambil beberapa foto dan mengobrol dengan seorang bapak yang menjaga dan mengatur lalu lalang kendaraan melewati jembatan ini, menurut bapak ini terkadang terlihat beberapa penyuka olahraga arung jeram melintas menerjang jeram – jeram Ciwulan yang memang terlihat sangat menantang. Menurut saya sangat berjasa sekali si bapak ini, beliau mengatur siapa yang harus duluan melewati jembatan gantung. Tidak terbayang apabila tidak ada si bapak, motor akan saling berebut untuk duluan masuk ke jembatan gantung yang lebarnya hanya 1 m ini, yang akan membuat motor - motor tersebut “stuck” di tengah jembatan kareana tidak saling mengalah. Selembar uang kertas pecahan 1.000 atau 2.000 saya rasa sangat layak untuk dimasukkan ke “kencleng & sair” yang dipasang di mulut jembatan gantung.

Jembatan gantung Tonjong-Sukarame

Berlatar sungai Ciwulan


Dan menurut si bapak tadi, ternyata jembatan ini terhubung ke daerah Sukarame, posisinya sekitar 500 m dari kantor Polsek Sukarame, berarti tinggal sekitar 6 km lagi yang harus saya tempuh dengan mengambil jalur ke arah utara untuk pulang. Namun tepat dari ujung jembatan saya disambut tanjakan lumayan panjang hingga ke jalan raya Sukarame berlanjut menyusuri jalan yang masih berhiaskan beberapa tanjakan landai hingga daerah tempat tinggal saya, berhubung jembatan Tonjong ada di ketinggian 295 mdpl dan saya harus gowes kembali menuju ke 410 mdpl.

Tracklog situ Sanghyang (jalur warna hijau)

Statistik trip situ Sanghyang

Dimuat di harian Pikiran Rakyat edisi 12 Februari 2017


(data – data tulisan sebagian disarikan dari : https://dyaiganov.wordpress.com/situ sanghyang)