Tuesday, June 9, 2015

SEVEN SUMMITS GUNUNG BANDUNG, 7 GUNUNG TERTINGGI DI BANDUNG RAYA




Semua sudah sangat hafal dan akrab dengan istilah “Bandung dilingkung ku gunung” yang bermakna bahwa kota Bandung ini dikelilingi oleh gunung – gunung. Hal ini bisa kita buktikan apabila kita sedang berada di ketinggian dan melihat kota Bandung, Bandung seakan berada di bawah sebuah wajan raksasa, sedang di sekeliling mulut wajan tersebut gunung – gunung mengelilinginya. Berdasarkan hasil inventarisasi komunitas Jelajah Gunung Bandung, sampai saat ini tercatat ±660 gunung yang tersebar mulai dari utara, selatan, barat dan timur Bandung. Di antara 600an gunung tersebut ada yang sudah bernama, dan sudah terdokumentasikan, ada yang sudah sangat familiar bahkan ada gunung yang sama sekali belum bernama, masih asing dan belum dikenal orang. Dan dari data gunung Bandung yang sudah terdokumentasikan tersebut saya mencoba untuk mengulas tentang 7 puncak tertinggi/ seven summits dari 660 gunung yang mengelilingi Bandung tersebut. 

Sebagai tambahan, saya mengelompokkan ketujuh puncak tertinggi ini tidak semata berdasarkan ketinggiannya saja, namun berdasar juga kepada lokasi gunung itu berada harus mewakili atau setidaknya mendekati arah empat penjuru mata angin dari kota bandung, sehingga menjadi representasi dari ungkapan "Bandung dilingkung gunung" sebagai titik acuannya. Sehingga memang ada beberapa gunung yang sebenarnya memiliki ketinggian lebih dari 7 gunung tersebut di atas tapi tidak saya masukkan daftar seven summits gunung Bandung versi saya ini.


Istilah seven summits sendiri diperkenalkan oleh Richard Bass pada tahun 1985 untuk mengelompokkan 7 puncak tertinggi di dunia yang tersebar di 5 benua. Dan Bandung pun memiliki seven summits-nya sendiri, yang akan saya coba ulas berdasarkan hasil “penerawangan” sederhana dari beberapa peta dan dari hasil inventarisasi kawan – kawan Jelajah Gunung Bandung. Dimulai dari sebelah barat Bandung, di sana berdiri tegak gunung Burangrang (2064 m) menyangga atap Bandung Barat, bergerak ke utara ada gunung Bukit Tunggul (2208 m) sebagai titik tertingginya, kemudian di timur kita menemukan gunung tertinggi di timur Bandung, yaitu gunung Manglayang (1824 m) dan gunung Mandalawangi (1650 m). Di selatan Bandung, berdiri 3 puncak tertinggi Bandung, yaitu gunung Tambakruyung (1994 m) yang berdekatan dengan Bandung barat, kemudian gunung Patuha (2434 m) yang tepat berada di selatan Bandung, dan yang terakhir adalah gunung Kendang (2617m) yang berdekatan dengan sisi timur Bandung, dan juga sebagai puncak tertinggi di Bandung Raya. Sekarang mari kita ulas sekelumit tentang puncak – puncak tertinggi gunung Bandung tersebut.

1.      Gunung Burangrang.
Gunung yang memiliki ketinggian 2064 mdpl ini berada di 2 kabupaten, yaitu kabupaten Purwakarta dan kabupaten Bandung Barat, gunung ini merupakan bagian dari gunung Sunda yang setelah meletus dahsyat menciptakan kaldera raksasa, dan gunung ini adalah salah satu dinding kaldera gunung Sunda tersebut, gunung ini juga erat kaitannya dengan legenda sunda yang sangat terkenal yaitu legenda Sangkuriang, yang konon katanya gunung ini adalah bekas ranting – ranting dari pohon yang dibuat perahu oleh Sangkuriang untuk memenuhi permintaan Dayang Sumbi. Jalur pendakian menuju gunung ini ada 2 dua jalur yang cukup populer, yaitu jalur Legok Haji, di kampung Legok Haji desa Pasirlangu, dan jalur Komando di desa Tugumukti kecamatan Cisarua Bandung Barat, dan satu lagi melalui desa Pesanggrahan kecamatan Bojong kabupaten Purwakarta. Gunung ini sudah sangat dikenal di kalangan pendaki gunung dan merupakan salah satu gunung favorit para pendaki, memiliki pemandangan cukup indah dan eksotis ketika kita berada di puncaknya.

2.      Gunung Bukit Tunggul.
Gunung setinggi 2208 mdpl ini terletak di kecamatan Lembang Bandung Barat, Cilengkrang kabupaten Bandung dan Cisalak kabupaten Subang. Seperti halnya gunung Burangrang, gunung Bukit Tunggul juga erat kaitannya dengan legenda Sunda Sangkuriang, yang konon katanya gunung ini adalah tunggul/ pokok kayu dari pohon yang dibuat perahu oleh Sangkuriang untuk memenuhi permintaan Dayang Sumbi. Jalur pendakian yang umum digunakan adalah dari kampung Pasir Angling desa Sunten Jaya Lembang dan dari Perkebunan Kina Bukit Tunggul PTPN VIII, tepatnya dari kampung Pangli desa Cipanjalu Kecamatan Cilengkrang. Puncak gunung ini tertutup pepohonan sehingga kita tidak akan mendapati pemandangan eksotis di puncaknya, namun kita bisa menemukan kolam/ babalongan yang cukup unik di puncaknya. Di kolam yang tidak berair dan cukup luas itulah kita bisa mendirikan tenda, posisinya cukup terlindung dari terjangan angin kencang.

3.      Gunung Manglayang.
Gunung ini memiliki ketinggian 1824 mdpl, salah satu gunung tertinggi di timur Bandung ini berada di kecamatan Cilengkrang, Cibiru dan Cileunyi kabupaten Bandung dan kecamatan Jatinangor dan Tanjung Sari kabupaten Sumedang. Titik pendakian yang umum digunakan adalah jalur buper Batukuda kecamatan Cibiru dan melalui jalur Barubeureum Kiarapayung Jatinangor Sumedang. Terdapat dua puncak yang sering dituju para pendaki, yaitu puncak utama dan puncak timur/ prisma (1600mdpl) yang memiliki pemandangan menakjubkan.

ki-ka : Burangrang-Bukittunggul-Manglayang


4.      Gunung Mandalawangi
Gunung tertinggi yang berada di timur Bandung yang berikutnya adalah gunung Mandalawangi, berketinggian 1650 mdpl. berdiri tegak di kecamatan Nagreg dan kecamatan Kadungora, menjadi batas alami antara kabupaten Bandung dan kabupaten Garut. Menurut info yang saya dapat dari seorang teman dari Jelajah Gunung Bandung, gunung ini sangat istimewa, karena terdapat hampir 20 puncakan di sana, namun yang paling sering didaki adalah puncak Komando/  Belati dan puncak Masigit. Mendaki gunung ini bisa dilakukan dari beberapa jalur, yang paling umum adalah dari kampung Cibisoro desa Bojong kecamatan Nagreg.


Gn Mandalawangi (foto diambil dari jalur pendakian gn Buyung)

5.      Gunung Kendang/ Kendeng*.
Gunung Kendang adalah gunung tertinggi di Bandung Raya, berdiri tegak dengan ketinggian 2617 mdpl menyangga atap Bandung Raya sehingga boleh juga dikatakan sebagai Mount Everest-nya gunung Bandung. Secara administratif gunung Kendang berada di kecamatan Kertasari kabupaten Bandung dan sisi timur berada di kecamatan Samarang kabupaten Garut. Jalur pendakian ke gunung ini yang paling umum adalah melalui desa Neglawangi kecamatan Kertasari, meskipun terdapat juga jalur pendakian dari kampung Lodaya kecamatan Kertasari. Daya tarik gunung ini selain sebagai gunung tertinggi di Bandung Raya juga karena terdapatnya savana yang berada di sekitar puncak, versi mini dari Alun – Alun Suryakencana  gunung Gede ini menjadi destinasi buruan para pendaki gunung Kendang. Tidak seperti 6 gunung tertinggi lainnya yang bisa dibuat trip “tektok” atau fullday hiking, mendaki gunung ini harus dilakukan dengan overnight trip, sehingga perlengkapan mendaki yang dibawa pun harus perlengkapan untuk mendaki overnight dan camp.

*Saat ini status gunung Kendang sudah menjadi kawasan Cagar Alam  gunung Papandayan, sehingga saat ini sudah tidak diperbolehkan lagi ada kegiatan/ aktifitas pendakian ke gunung Kendang.

Gn Kendang (foto : Kresna Cahya)


6.      Gunung Patuha
Gunung Patuha adalah gunung tertinggi kedua dalam daftar 7 puncak tertinggi gunung  Bandung dengan ketinggian 2434 mdpl, yang secara administratif berada di kecamatan Rancabali kabupaten Bandung. Di gunung Patuha ini terdapat obyek wisata kawah Putih (±2090 mdpl)  yang berada di bawah puncak utama, yang sudah sangat terkenal secara domestik maupun mancanegara. Kawah putih adalah kaldera kawah bentukan dari  letusan gunung Patuha setelah matinya kawah yg berada di puncak utama atau yang dikenal sekarang sebagai Kawah Saat. Untuk menuju puncak Patuha, jalur pendakian bisa ditempuh melalui kampung Cipanganten desa Patengan kecamatan Rancabali dan melalui Wanawisata Kawah Putih. Satu hal yang menarik dari gunung Patuha adalah adanya tegalan cukup luas di dasar puncak Patuha yang merupakan kaldera/ kawah mati, atau warga lokal di sana menyebutnya dengan Kawah Saat. Bagi sebagian masyarakat, lokasi Kawah Saat ini dijadikan sebagai tempat untuk semedi atau bertapa, yang untuk mencapainya harus meniti jalur terjal dan tipis menyusuri dinding kawah. Berdasarkan buku “Geotrek , Perjalanan Menafsir Bumi” karangan Titi Bachtiar, Kawah saat memiliki dimensi permukaan 370m x 340 m, dimensi dasar kawah 180m x 150m, dasar kawah Saat berada di ketinggian 2269 mdpl dengan dinding tertinggi kawah saat dihitung dari dasar kawah ke puncak utama gunung Patuha setinggi 165m.

Gn Patuha (foto : Yadi Mulyadi)


7.      Gunung Tambakruyung
Gunung Tambakruyung memiliki ketinggian 1994 mdpl, berada di kecamatan Ciwidey kabupaten Bandung dan kecamatan Sindangkerta kabupaten Bandung Barat. Gunung ini tidak begitu populer sebagai gunung tujuan para pendaki, padahal selain memiliki ketinggian dan jalur pendakian yang cukup menantang, gunung yang memiliki 2 puncakan ini cukup dekat dari pusat kota kecamatan Ciwidey. Jalur pendakian yang umum menuju puncak gunung Tambakruyung bisa ditempuh melalui kampung Waluri desa Lebak Muncang kecamatan Ciwidey.

Gn Tambakruyung (paling kanan foto)


Itulah sedikit uraian tentang 7 puncak tertinggi di Bandung Raya, harapan saya dengan mengenal 7 gunung tertinggi di Bandung ini bisa membangkitkan keingintahuan dan kepedulian kita terhadap gunung – gunung Bandung, yang pada akhirnya akan menumbuhkan rasa cinta dan memiliki rasa untuk ingin turut menjaga harta karun yang dimiliki Bandung kita tercinta ini. Dan akhirnya, selamat menikmati 7 puncak tertinggi gunung Bandung, dan jadilah 7 summiter gunung Bandung, serta jangan lupa untuk selalu menjunjung tinggi etika pendakian ketika mengunjunginya agar gunung – gunung Bandung terjaga kelestarian alamnya. 

Monday, September 29, 2014

BATUKUDA, SALAH SATU RUTE GOWES MENANTANG DI TIMUR BANDUNG

Ketika jalur gowes Warung Bandrek/ Warban di Bandung Utara yang sudah sangat terkenal itu semakin tidak nyaman untuk dilewati karena semakin hiruk pikuk oleh kendaraan – kendaraan yang akan mengunjungi tebing Karaton yang mendadak populer itu, harus dicari lagi alternatif rute gowes lainnya yang tidak kalah eksotis, menarik dan menantang. Bandung sebagai surganya jalur bersepeda tentunya tidak akan sulit untuk menemukan rute gowes pengganti Warban, di selatan Bandung kita tentu sudah mengenal jalur uphill Leuweung Datar, Cisanti atau Monteng - Kamojang. Begitupun di kawasan timur Bandung, jalur bersepeda menantang seperti Caringin Tilu, Warung Daweung, Palintang, Batukuda dan Kiara Payung siap untuk dijelajahi. Di antara beberapa jalur bersepeda di timur Bandung tadi, saya akan mencoba mengulas satu jalur uphill yang cukup menarik yaitu Wanawisata Batukuda.

Jalur menuju Wanawisata Batukuda bisa dicapai dari beberapa titik yang berada di Cibiru, Cinunuk dan Cileunyi. Dari beberapa pilihan jalur tersebut, saya memilih jalur Cibiru Wetan melalui jalan Sindang Reret yang berada tidak jauh dari tugu perbatasan kota – kabupaten Bandung, berjarak ±5 km sampai ke titik finish di Batukuda. Dari awal memasuki jalan Sindang Reret kita langsung berhadapan dengan beberapa tanjakan ringan, cukup untuk pemanasan sebelum menyongsong tanjakan - tanjakan berikutnya. Setelah 10 menit gowes, kita bertemu sebuah persimpangan, arahkan sepeda ke barat, dan kembali bertemu tanjakan – tanjakan yang mulai terasa lebih berat namun masih bisa dilalui dengan lancar, gowesan masih terasa bertenaga walaupun keringat mulai membasahi tubuh.

Selepas beberapa tanjakan tadi, kita bertemu lagi dengan sebuah persimpangan yang berada tepat menghadap ke arah gunung Manglayang, tujuan kita adalah ke utara, sedangkan jalur dari selatan adalah jalur yang berasal dari Cinunuk. Di sini kita bisa beristirahat sejenak sambil menikmati keanggunan gunung Manglayang. Perjalanan kembali dilanjutkan, sepeda diarahkan ke utara, dan kita mendapat bonus sedikit jalur mendatar, nikmatilah karena selanjutnya kejutan - kejutan telah menanti di depan. Ternyata mulai dari sini jalur uphill Batukuda mulai memperlihatkan wujud aslinya, kita disambut tanjakan – tanjakan yang semakin berat dan panjang. Sekitar 1.5 km pedal dikayuh, di ujung tanjakan kita bertemu sebuah pertigaan, belok ke kanan dan di sini kita kembali bisa beristirahat, di sekitar bangunan SDN Cikoneng. Di sini terdapat sebuah warung, pas bagi para goweser untuk bersitirahat dan mengisi kembali “amunisi” mereka seperti air minum atau minuman kecil, sambil kembali menikmati keindahan Bandung Selatan. 

Jalur yang akan dihadapi selanjutnya adalah segmen terakhir dari jalur uphill Batukuda, jalan berlapis beton sejauh  ±1 km ke arah utara siap menyambut kita dengan tanjakan – tanjakannya yang semakin curam sampai ke depan loket tiket Wanawisata Batukuda. Pedal kembali dikayuh, selepas SD Cikoneng kita menemukan sebuah pertigaan yang juga adalah pertemuan jalur Cibiru – Cileunyi –  Batukuda. Setelah berbelok ke utara tanjakan panjang nan curam sudah menanti, ini adalah tanjakan pertama dari 3 tanjakan yang akan dihadapi untuk menuju titik finish. Ujung dari tanjakan pertama ini adalah sebuah gapura yang dipayungi pohon Beringin besar, setelah melewati tanjakan ini, kita bisa beristirahat sejenak mengatur nafas yang tersengal – sengal. Masih ada 2 tanjakan lagi, kembali pedal dikayuh meskipun fisik sudah melemah, tanjakan kedua meskipun pendek namun cukup curam mampu membuat lutut goyah, tanjakan kedua berakhir di depan loket tiket Wanawisata Batukuda, tinggal satu tanjakan lagi untuk mencapai titik finish di hutan pinus Wanawisata Batukuda. Tanjakan terakhir ini cukup panjang, sedikit curam dan yang membuatnya istimewa adalah kondisi jalurnya yang makadam, namun “tanjakan putus asa” ini harus dilewati apabila kita ingin mendapatkan balasan setimpal yang akan didapatkan nanti di titik finish

Dan akhirnya semua perjuangan menyusuri beratnya tanjakan – tanjakan sepanjang perjalanan tadi terbayar di sini, ujung tanjakan makadam berakhir di pintu gerbang Wanawisata Buper Batukuda (1.100 mdpl), dari sini kita tinggal memilih lokasi untuk beristirahat, masuk ke warung – warung yang terdapat di sana, atau menikmati suasana yang lebih alami dengan duduk – duduk beralaskan rumput hijau di bawah rerimbunan pohon – pohon pinus. Rasa capek dan lelah sirna oleh belaian angin gunung yang sejuk dan udara yang segar, bagi yang memiliki peralatan outdoor seperti kompor portabel, menikmati suasana pegunungan sambil menyeduh kopi atau teh panas selepas menaklukkan jalur ini pasti akan memberikan rasa dan sensasi yang berbeda, suasana tidak akan bisa didapatkan di jalur bersepeda Bandung Utara seperti Warban.

Sambil beristirahat kita bisa mendiskusikan jalur yang akan dilalui untuk pulang, kembali menyusuri jalur naik tadi dengan pilihan tiga titik akhir, atau merasakan sensasi berbeda dengan menyusuri jalur XC Batukuda – Kiarapayung atau Batukuda – Cibiru lewat kampung Garung. Kedua jalur XC ini menawarkan karakteristik berbeda, yang saya yakin akan mampu memuaskan hasrat untuk bersepeda offroad.  

Dan akhirnya pilihan ada pada kita, apabila ingin bersepeda di jalur yang tidak begitu ramai namun tetap menantang, ditambah dengan "bonus - bonus menarik", jalur uphill Wanawisata Batukuda bisa dijadikan pilihan, daripada memaksakan diri gowes di jalur - jalur "mainstream" seperti Warban yang sudah terlalu ramai dan kurang bersahabat lagi bagi para goweser.